NHW #4 Mendidik Dengan Kekuatan Fitrah


Mengerjakan NHW, apalagi NHW yang ke-4 ini memang tidak bisa SKS. Perlu dihayati, diresapi, dan dinikmati karena benar-benar menguras pikiran dan hati. Menentukan visi dan misi yang akan dijalani seumur hidup tidak bisa main-main dan ala kadarnya saja. Seberapa serius kita memikirkan visi dan misi hidup samadengan seberapa serius kita menjalani kehidupan ini. Berat banget ya? Sungguh, bagi saya memang berat karena pertanggungjawabannya dunia dan akhirat. Ya Allah, mampukan hamba :(


Mari kita lihat kembali NHW#1 apakah sampai hari ini anda tetap memilih jurusan ilmu tersebut di Universitas kehidupan ini? Atau setelah merenung beberapa minggu ini, Anda ingin mengubah jurusan ilmu yang akan Anda kuasai?

Saya tetap memilih untuk menekuni dunia kepenulisan dan terus mengasah kemampuan menulis saya. Setelah rutin menulis, saya menjadi termotivasi untuk rutin membaca. Setelah banyak membaca, saya lebih banyak mendapatkan ilmu. Setelah mendapatkan ilmu, saya menjadi lebih berhati-hati dalam bertindak dan mengambil keputusan dalam hidup ini. Semakin bertambah ilmu, saya semakin sadar kalau diri ini sangat bodoh. Semakin bertambah ilmu, saya semakin tertunduk dan mengimani ke-Maha Besar-an Nya.

Mari kita lihat NHW#2 sudahkah kita belajar konsisten untuk mengisi checklist harian kita? Checklist ini sebagai sarana kita untuk senantiasa terpacu “memantaskan diri” setiap saat. Latih dengan keras diri Anda, agar lingkungan sekitar menjadi lunak terhadap diri kita.

Sebagian besar berjalan dengan baik dan lancar, namun masih ada beberapa poin yang belum bisa konsisten. Tapi saya tidak akan menurunkan standar indikator tersebut dan tidak akan memberikan kelonggaran terhadap diri saya. Saya akan berusaha keras untuk menjalankan checklist yang telah saya buat. Saya akan memperbaiki setiap indikator menjadi lebih detail dan di desain lebih menarik supaya lebih semangat menjalankannya.

Baca dan renungkan kembali NHW#3 apakah sudah terbayang apa kira-kira maksud Allah menciptakan kita di muka bumi ini? Kalau sudah, maka tetapkan bidang yang akan kita kuasai sehingga peran hidup Anda akan makin terlihat.

Saya memiliki latar belakang pendidikan dan pengalaman bekerja di bidang teknik informatika dan desain grafis. Namun, setelah bekerja di salah satu Pondok Pesantren di Kota Bandung, saya memutuskan untuk melanjutkan kuliah di bidang Pendidikan Agama Islam. Gak berhubungan ya? Hmmm, awalnya memilih jurusan ini karena saya merasa miskin sekali ilmu agama dan kelak saya ingin mendidik anak-anak saya dengan baik dan benar sesuai tuntunan agama Islam. Saya belum pernah benar-benar memiliki alasan yang kuat untuk menjadi guru agama setelah lulus dari jurusan Pendidikan Agama Islam ini.

Hingga akhirnya, Allah mempertemukan saya dengan suami di bangku perkuliahan (kami teman satu kelas) dan menikah dengan beliau. Saya sering berdialog dengan suami tentang kualitas guru-guru TPA yang ada di lingkungan kami, terutama tentang kemampuan membaca Al-Quran. Suami ingin sekali memperbaiki sistem serta meningkatkan kualitas guru-guru TPA. Karena  menurut pengamatannya (yang memiliki pengalaman sebagai pengajar Al-Quran bertahun-tahun) masih banyak TPA yang hanya sekedar mengajarkan membaca Al-Quran tanpa menerapkan hukum bacaan dengan baik dan benar. Apalagi banyak orangtua yang memasukkan anak-anaknya ke sekolah umum, lalu sore harinya memasukkan anak-anakya ke TPA. Karena apa? Karena mungkin banyak orangtua belum memiliki kapasitas yang cukup baik untuk mengajarkan anak-anaknya untuk membaca Al-Quran di rumah.

Ya, mungkin ini. Mungkin ini maksud Allah. Mengapa Allah membairkan saya bekerja di sebuah Pondok Pesantren setelah lulus sekolah, mengapa Allah menuntun hati saya untuk memilih jurusan Pendidikan Agama Islam, untuk kemudian bertemu dengan seorang laki-laki yang tengah memperjuangkan tujuan mulia dalam hidupnya.

Mungkin ini maksud Allah. Saya tidak tahu ini tepat atau tidak, saya juga tidak tahu ini hanya mengira-ngira atau tidak. Yang saya tahu, saya adalah orang pertama yang harus medukung pergerakan suami untuk menjalankan salah satu misinya yaitu: meningkatkan kualitas membaca Al-Quran untuk orang-orang sekitar kami, khususnya guru-guru TPA. Saya harus memanfatkan ilmu Pendidikan Agama Islam yang saya dapatkan di bangku kuliah untuk menjalankan misi ini. Saya harus berguru pada suami saya untuk meningkatkan kemampuan membaca Al-Quran saya, kemudian mendampinginya menjalankan misinya.

Sampai saat ini, suami telah memiliki beberapa kelas privat membaca Al-Quran yang diantara salah satu kelasnya adalah guru-guru TPA. Saya baru benar-benar meresapi NHW#3 ketika saya mengerjakan NHW#4 ini, karena memang ketika mengerjakan NHW#3 saya masih meraba-raba.

Maka saya dapat menyimpulkan misi hidup saya adalah :
Misi Hidup : Menebar manfaat melalui potensi yang kami (saya dan suami) miliki.
Bidang : Kepenulisan dan tahsin Al-Quran.
Peran : Penulis dan pengajar tahsin Al-Quran.

Setelah menemukan 3 hal tersebut, susunlah ilmu-ilmu apa saja yang diperlukan untuk menjalankan misi hidup tersebut.

Untuk menjadi ahli di bidang kepenulisan dan tahsin Al-Quran, maka ilmu-ilmu yang saya perlukan adalah:
-            Bidang kepenulisan : mendalami ilmu-ilmu kepenulisan, penerbitan buku, pemasaran buku, self branding.
-            Bidang tahsin Al-Quran : mendalami ilmu tahsin dan public speaking (agar lebih lancar ketika mengajarkan Al-Quran).

Tetappkan milestone untuk memandu setiap perjalanan Anda menjalankan misi hidup.

Saya menetapkan KM 0 pada usia 24 tahun. Milestone yang ingin saya capai adalah sebagai berikut :
KM 0 – KM 1 (tahun 2018 - 2019) : Menguasai ilmu kepenulisan
KM 1 – KM 2 (tahun 2019 - 2020) : Menguasai ilmu tahsin dan public speaking
KM 2 – KM 3 (tahun 2020 - 2021) : Menerbitkan buku
KM 3 – KM 4 (tahun 2021 - 2022) : Menjadi pengajar di salah satu lembaga Al-Quran
KM 4 – KM 5 (tahun 2022 – 2023) : Menyelenggarakan pelatihan tahsin Al-Quran bersama suami

Koreksi kembali checklist Anda di NHW#2 apakah sudah Anda masukkan waktu-waktu untuk mempelajari ilmu-ilmu tersebut diatas? Kalau belum segera ubah dan cantumkan.

Saya akan memasukan waktu untuk belajar tahsin bersama suami minimal 2x per minggu dan mengikuti pelatihan tahsin Al-Quran di lembaga Al-Quran minimal 1x per minggu.

Lakukan, lakukan, lakukan, lakukan.

Bismillahirrahmaanirrahiim. Insya Allah, dengan izin Allah, saya pasti bisa!
 

0 komentar:

Post a Comment