NHW #1 Adab Menuntut Ilmu

stocksnap.io
Postingan tentang Institut Ibu Profesional beberapa kali seliweran di beranda instagram saya. Awalnya biasa saja, tapi lama-lama penasaran karena melihat antusiasme para kaum hawa yang sebegitu besar. Sampai-sampai harus rebutan kursi dan memantengi link pendaftaran, pokoknya udah kayak rebutan baju open pre order online shop. Berangkat dari rasa penasaran itu akhirnya saya mencari tahu dan menggali informasi dari teman-teman yang mengikutinya. Dari mulai buka web, follow instagram, sampai menelusuri hashtag #institutibuprofesional atau #iip atau #ibuprofesional. Pencarian saya pun berakhir dengan kalimat: “Fix! Batch selanjutnya harus ikut!”

Dan dengan izin Allah sampailah saya di Nice Homework ini.

Tugas pertama adalah menentukan satu jurusan ilmu yang akan saya tekuni di Universitas Kehidupan ini. Hemmm, cukup membuat saya bengong dan berpikir. Tugas pertamanya saja luar biasa begini, gimana dengan tugas-tugas selanjutnya ya? Ah, semakin penasaran untuk menuntaskan perkuliahan ini sampai akhir.

Jurusan yang pertama kali terlintas di benak saya adalah: menulis.

Kedengarannya gak istimewa sekali ya?

Dulu saya pernah menekuni bidang ini, bisa menghasilkan tulisan setiap hari, melahap banyak buku setiap minggu, waktu-waktu yang saya lalui terasa begitu produktif. Apapun yang saya dapatkan selalu saya ceritakan kembali dalam tulisan, baik itu ilmu, hikmah, atau pengalaman yang berkesan bagi saya. Namun, semangat menulis mulai memudar semenjak saya terkena Tuberkulosis Paru dan harus menjalani pengobatan selama 9 bulan lamanya. Penyakit TB adalah salah satu penyakit mematikan yang angka kematiannya cukup tinggi di Indonesia. Sembilan bulan saya lalui dengan cukup berat karena harus minum puluhan butir obat setiap minggunya, tidak boleh lepas dari masker kecuali saat mandi dan tidur, karena bakteri TB ini bisa menular melalui kontak langsung. Selama itu saya benar-benar vakum dari dunia kepenulisan. Singkat cerita, dengan izin Allah saya mampu melalui pengobatan hingga tuntas dan dinyatakan sembuh. Alhamdulillah, tak henti-hentinya saya mengucap syukur pada Allah.

Melalui matrikulasi ini saya ingin kembali produktif menulis. Kalau kata fasilitator saya agar fokus terhadap satu bidang kita harus memiliki strong why (alasan kuat). Kenapa menulis?

Pertama, menulis membantu saya menguatkan pemahaman, karena seringnya saya lupa hingga ilmu itu hilang begitu saja. Ali bin Abi Thalib radhiallahuanhu pernah berkata, “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya.”

Kedua, dengan menulis saya termotivasi untuk lebih banyak membaca. Suami juga suka banget baca, jadi kadang (seringnya sih) saya lemot ketika ngobrol suatu hal sama suami. Hehe. Selain itu, sebagian besar biografi orang-orang sukses yang pernah saya baca, mereka menjadikan membaca sebagai suatu kebiasaan. Ingin sekali menularkan kebiasaan baik ini kepada anak-anak saya kelak, maka orangtuanya dulu yang harus memulai. Iya, kan?

Ketiga, menulis membantu saya menyalurkan emosi, karena saya bukan tipe orang yang cukup baik ketika menyalurkan emosi secara langsung. Jadi, menulis merupakan media yang tepat untuk menyalurkan emosi bagi saya.

Keempat, saya ingin memiliki amal jariyah. Mudah-mudahan ada kebaikan dari apa yang saya tulis sehingga dapat memberikan manfaat untuk orang banyak, khususnya untuk anak-anak saya kelak. Saya termotivasi oleh ulama-ulama terdahulu yang mampu menulis ratusan bahkan ribuan kitab yang hingga saat ini karyanya sangat bermanfaat untuk umat.

Setelah memiliki alasan kuat dalam menulis, maka strategi menuntut ilmu yang harus saya upayakan adalah sebagai beriku

Pertama, disiplin dalam menulis minimal 1 minggu 1 tulisan di blog. Kedua, meningkatkan kemampuan membaca dengan cara menulis poin-poin penting dari apa yang sudah saya baca (quantum reading). Ketiga, aktif kembali di komunitas kepenulisan, karena sebelumnya saya sudah pernah bergabung, tapi satu tahun terakhir ini hanya menjadi silent reader. Keempat, mengikuti workshop kepenulisan atau acara bedah buku (jika ada kesempatan), karena biasanya semangat akan ter-charge kembali. Kelima, meminta bantuan suami untuk menjadi alarm atas strategi yang saya buat tersebut.

Berkaitan dengan adab menuntut ilmu, perubahan apa saja yang akan diperbaiki dalam proses mencari ilmu tersebut?

Berkaitan dengan perubahan sikap dalam proses menuntut ilmu, saya merasa banyak sekali yang harus diperbaiki. Jujur, materi pertama NHW membuat saya merenung. Poin-poin yang dipaparkan dalam materi Adab Menuntut Ilmu sangat mengusik hati saya.

Saya masih suka tidak sabar, pinginnya cepat paham. Masih suka merasa lebih tahu, padahal lebih banyak tidak tahunya. Masih suka menyepelekan kalau datang terlambat ke majelis ilmu. Masih suka menyimpan sumber ilmu (buku) sembarangan. Sikap-sikap tersebut ingin sekali saya perbaiki, bahkan dihilangkan samasekali.

Saya harus berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menghindari maksiat dan kesombongan sekecil apapun. Karena ilmu adalah cahaya. Dan cahaya tidak akan masuk pada hati yang sombong dan dipenuhi maksiat. Kemudian berusaha menghindari hal-hal yang sia-sia seperti: mendengarkan lagu menadayu-dayu nan galau; berbicara yang tidak perlu; dan berlama-lama online yang tidak menambah ilmu dan iman.

Mudah-mudahan Allah memberikan kemudahan dan keberkahan untuk setiap langkah kecil yang sedang saya upayakan. Do’akan, ya?

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

0 komentar:

Post a Comment