26 July 2018

Sharing MPASI Rashid

Baca panduan WHO, follow akun-akun MPASI, berselancar dari satu blog ke blog lain, nonton youtube, segala hal saya lakukan untuk memperoleh informasi tentang MPASI. Alhasil semakin banyak referensi saya malah semakin bingung hihi. Belum lagi peralatan MPASI dari mulai sendok sampe slowcooker yang menggoda mata serta dompet. Ada yang mengalami hal serupa?

Akhirnya saya dapat kesimpulan setelah nonton seminar MPASI yang disampaikan oleh dr. Klara Yuliarti, SpA(K) dan dr. Tiwi, SpA, MARS. Karena disana ada tanya jawab yang sebagian besar pertanyaannya mewakili pertanyaan saya pribadi.

Ternyata mpasi homemade itu simpel. Pada prinsipnya, pakai bahan makanan dan peralatan yang ada di rumah 💙

Kalau kata dr. Klara poin utama yang harus diperhatikan adalah melihat kesiapan anak, seperti:
🔹Kemampuan anak duduk bersandar
🔹Mampu mengendalikan kepala dengan baik
🔹Tertarik dan mulai meraih ke arah makanan jika ada anggota keluarga yang makan dihadapannya

Selanjutnya panduan WHO yakni AFATVAH dapat dijadikan standar dalam memulai MPASI.
🔹Age (Usia mulai makan) 
🔹Frequency (Frekuensi/waktu pemberian makan)
🔹Amount (Banyaknya pemberian makan)
🔹Thickness (Tekstur makanan)
Variety (Variasi makanan)
🔹Active-Responsive Feeding (Respon anak saat diberi makan)
🔹Hygiene (Kebersihan makanan, peralatan, proses pembuatan makan)

Setelah indikator diatas dipahami barulah menentukan makanan apa saja yang akan diberikan.

Kalau kata dr. Tiwi lakukan pengenalan 1 jenis makanan selama 2-3 hari untuk melihat resiko kecenderungan alergi, semakin bervariasi jenis makanan yang diberikan semakin baik. Perhatikan pula pemenuhan kebutuhan gizi anak karena ada zat-zat yang mulai dibutuhkan oleh anak usia 6 bulan keatas yang tidak ada dalam ASI.

Bisa dimulai dengan karbohidrat dan buah-buahan karena minim resiko alergi. Setelah itu formulasikan nutrisi yang diperlukan si kecil.

Selamat makan anak sholeh :)

0 comments:

Post a Comment