26 March 2017

Dalam Genap Setengah Din


Perjumpaan pertama kami dalam ingatanku, di sebuah ruangan kelas berukuran delapan kali delapan meter sebagai mahasiswa baru. Nothing special. Aku yang masih berusia 19 tahun saat itu dan dia tiga tahun diatasku.

Suami, adalah orang yang tidak asing dalam kehidupan saya. Teman diskusi, teman seperjuangan di bangku kuliah. Mystery of jodoh. Jauh-jauh mencari ternyata ada di hadapan mata. Jadi jangan risau bagi yang belum bertemu, bisa jadi mereka adalah teman sekolah, teman organisasi, teman komunitas, teman sejak kecil, atau malah tetangga depan rumah.

Tak perlu sibuk memikirkan jodoh kita siapa dan seperti apa? Cukup bercermin pada diri dan kita akan tahu apa jawabannya. Tak perlu sibuk rindukan si dia yang menyita waktu dan mengalihkan hati kita dari Allah. Tak perlu banyak 'ngode' di dunia maya, karena jodoh adanya di dunia nyata :)
 
Ada yang jatuh cinta lalu pacaran.
Ada yang jatuh cinta lalu galau.
Ada yang jatuh cinta lalu diam.
Ada yang jatuh cinta lalu datang meminang.

Ketika memilih seseorang untuk menjadi pendamping hidupmu, pastikan dia adalah laki-laki yang mau bersama-sama berjuang meraih ridho dan surga-Nya. Karena jatuh cinta saja tidak cukup untuk membangun sebuah keyakinan. Ada dua hal yang perlu dihadirkan yaitu komitmen dan kepercayaan. Ketika kita menyukai seseorang, bukan berarti kita pasti akan suka selamanya. Ada masa-masa rasa suka itu berkurang, bahkan hilang sama sekali. Tetapi juga bukan berarti kalau sudah tidak suka lagi, maka selesai begitu saja. Itulah gunanya komitmen, kepercayaan, yang akan membawa kembali perasaan suka persis seperti pertama kali dulu kenapa kita suka seseorang tersebut, atau malah lebih.

Adalah hal yang wajar ketika seseorang memiliki kriteria untuk pasangannya kelak. Namun sedari awal saya memiliki prinsip untuk tidak menggantungkan ekspektasi yang begitu tinggi terhadap calon pasangan. Cukup jadikan hadis Rasulullah saw sebagai pegangan. Bisa saja kita memilih seseorang karena keelokan parasnya, kepintarannya, kedudukan sosial atau kekayaannya, namun yang paling utama dari itu semua adalah agamanya.

Agama yang bagaimana? Rasanya tidak terdefinisi dan tidak ada alat ukurnya. Kalau saya sederhana saja. Pakai rumus 5W+1H.

1 | What: Apa niat menikahnya? Ini penting karena niat merupakan pangkal dari segala amal perbuatan. Bagaimana cara mengetahui kalau niatnya baik dan lurus karena Allah? Niat yang baik akan ditempuh dengan cara-cara baik. Tidak boleh ada niat baik yang ditempuh dengan cara buruk, mengajak pacaran dulu misalnya.

2 | Who: Siapa teman-teman dekatnya? "Seseorang itu menurut agama teman dekatnya, maka hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya." (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, No. 927)

3 | Where: Dimana dia beraktifitas? Orang-orang baik akan ada dalam lingkungan yang baik, insya Allah.
 

 4 | When: Kapan target menikahnya? Kalau belum ada kepastian dan kejelasan lebih baik pikir-pikir lagi. Karena ada juga yang mengulur-ngulur waktu karena pingin punya rumah dulu, pingin beresin kuliah dulu, pingin bahagiain orangtua dulu. Percayalah, menikah akan membuat orangtua bahagia :)
 
5 | Why: Kenapa memilih dia? Ketika ditanya kenapa memilih dia biasanya jawaban kita karena udah 'klik' aja. Tapi, pastikan tahapan ini dilalui dengan istikhoroh. Disamping cocok, Allah akan menuntun dengan memberikan kecenderungan. Berdo'a, semoga pilihan kita adalah 'pilihan Allah' juga.
 
6 | How: Bagimana dia memperlakukan wanita dan orangtua? Biasanya sifat seseorang tercermin dari bagaimana cara ia memuliakan wanita dan orangtua.

Seperti menganalisa masalah aja, ya? Hehehe

Itu hanya salah satu alternatif untuk membuat sebuah keputusan versi saya. Karena banyak diantara kita yang belum mengenal siapa calon pasangan kita. Banyak juga yang bingung mendefinisikan "yang baik agamanya itu seperti apa."

Pernikahan bukan hanya sekedar ikatan diatas buku nikah. Ia bukan hanya ucapan ijab dan qobul antara wali dan mempelai pria serta mahar dan dua saksi. Namun pernikahan adalah mahkota kehormatan yang terjalin diatas perjanjian yang sangat kuat. Allah menyebutnya dengan kalimat "mitsaqan ghalizha." Penanaman seperti ini telah Allah sebutkan didalam Al-Quran sebanyak tiga kali untuk tiga perjanjian berbeda, namun semuanya adalah perjanjian-perjanjian yang agung dan luhur.

Pertama, perjanjian Allah dengan para utusannya agar mereka menyeru umat manusia kepada tauhiid. (lihat QS. Al-Ahzab : 7)

Kedua, perjanjian Allah dengan Bani Israil agar mereka patuh kepada Allah dan menjalankan hukum-hukum Taurat. (lihat QS. An-Nisa : 154)

Ketiga, perjanjian yang diambil oleh para perempuan dari suami-suami mereka. (lihat QS. An-Nisa : 21)

Shalihah, betapa agungnya pernikahan. Bagaimana mungkin tidak disebut perjanjian yang teguh dan kuat ketika urusannya adalah berpindahnya surga seseorang kepada orang lain yang tidak pernah punya andil dalam merawat dan membesarkan kita.

Orangtua menyerahkan kita sepenuhnya kepadanya. Padahal ia tak pernah turut andil dalam melahirkan kita ke dunia ini. Ia tak pernah turut campur dalam memberikan perhatian dan kasih sayang. Ia juga tak pernah merasakan suka duka dalam membesarkan kita. Tatkala kita sakit, menangis, bersedih, berduka, ia tak pernah hadir pada hari-hari kita saat itu. Kemudian ia datang untuk meminang, momen itu adalah peristiwa yang cukup berat bagi orangtua kita.

Kita yang dibesarkan dengan kasih sayang akan dikeluarkan dari istana orangtua kita, lalu diserahkan kepadanya, yang orangtua kita pun tak dapat memastikan bagaimana kelak hidup kita bersamanya. Namun karena perintah Allah dan takdir yang telah tertulis di lauhul mahfudz, dengan segala resiko yang harus diterima, kita pun dinikahkan. Dengan satu harapan sebagai suami ia dapat menggantikan posisi orangtua kita. Merawat, menjaga, mencintai, dan membuat bahagia.

Seperti itulah wahai shalihah.. 

Memaknai genap, 
Bukan hanya sekedar jatuh cinta  
Bukan juga sekedar kesenangan belaka
 
Bagaimana mungkin sebuah perjanjian besar yang Allah sebut sebagai "mitsaqan ghalizha" kita perlakukan biasa saja? Maka tak boleh ada niat selain Allah. Harus kokoh dan lurus karena Allah.

Kini ladang pengabdian saya dimulai. Tak lagi pada seorang wanita yang melahirkan dan membesarkan sejak kecil, namun berpindah pada seorang laki-laki yang telah Allah pilihkan untuk menjadi penggenap agama. 

--
 
Ahad, 26 Maret 2017  
Dalam genap setengah din  
Lima puluh delapan hari bersamamu

4 comments: