21 December 2016

Cocokologi


Entah mengapa saya merasa sedih sekali melihat media saat ini, terlebih dengan orang-orang yang dengan mudah membagikan berita tanpa filter. Berbagai argumen dipatahkan, fakta diputarbalikan, yang kecil dibesarkan, hingga kawan jadi lawan. Yang gak bermutu diangkat kepermukaan, yang bermutu ditenggelamkan. Sampai terkadang saya tidak bisa lagi membedakan mana berita bohong dan mana berita sungguhan. Belum lagi berbagai cocokologi dilakukan untuk menjatuhkan satu sama lain. Apa aja disambung-sambungin. Yang gak nyambung sekalipun dipaksa nyambung. Ketika satu isu muncul, tak jarang isu lain muncul dengan tujuan mematahkan isu sebelumnya. Mengacaukan dan membuat bingung pembaca.

Media kita mudah sekali viral. Kecenderungan kita lebih suka bersuara daripada berargumen.
Untuk bisa didengar,
yang dikuatkan bukan suaramu,
tapi argumenmu. 
Saya pernah membaca tentang kesalahan logika atau yang sering disebut dengan logical fallacy. Kesalahan logika merupakan cacat atau sesat penalaran, yang tidak hanya sering (secara tak sengaja) digunakan oleh orang-orang yang kemampuan penalarannya terbatas, tetapi juga sering (secara sengaja) digunakan oleh orang-orang tertentu, termasuk media, untuk mempengaruhi orang lain.

Beberapa contoh logical fallacy yang mungkin tidak asing bagi kita. Semoga kita tidak terjebak propaganda, atau malah melakukan kesalahan penalaran, baik sengaja maupun tidak sengaja.

1 | Argumentum ad Hominem

Menyerang orangnya bukan menjawab isinya. Ketika seseorang tidak dapat mempertahankan posisinya dengan evidence/fakta/reason, maka mereka mulai mengkritik sisi kepribadian lawannya. Jadi, Argumentum ad Hominem ini menyerang orangnya bukan argumennya.

Contoh :
A : Saya rasa atheis mempunyai hak untuk hidup yang sama seperti kita karena meraka juga memiliki HAM
B : Jadi, anda tetap membela mereka? saya rasa orang seperti anda adalah orang yang egois

Lihat argumen di atas? B bukan menyerang argumen A tapi malah menyerang pribadi A. Maka dari itu, kesalahan ini disebut argumentum ad hominem.

2 | Argumentum ad Ignorantiam

Terjadi ketika kita mengatakan bahwa sesuatu itu BENAR karena tidak ada bukti yang mengatakan hal itu SALAH, atau sesuatu itu SALAH karena tidak ada bukti yang mengatakan hal itu BENAR.

Contoh :
A : Saya percaya orang di foto itu adalah orang dari masa depan karena pada jaman dahulu tidak ada teknologi secanggih itu.
B : Saya tidak percaya karena tidak ada orang yang pernah melihatnya secara langsung. Kesimpulannya, orang itu bukanlah orang dari masa depan.

Jadi, B tidak percaya bahwa orang yang ada di foto adalah orang dari masa depan karena tidak ada orang yang mengaku pernah melihatnya. Singkatnya, B tidak percaya karena tidak ada bukti yang BENAR.

3 | Argumentum ad Crumenam

Fallacy ini timbul ketika uang/kekayaan/harta dipakai sebagai ukuran kebenaran suatu hal. Dengan kata lain, mereka yang benar adalah mereka yang kaya, atau sebaliknya.

Contoh :
A : Dia memang anak yang pintar karena nilainya rata-rata 9.
B : Jika dia memang pintar mengapa dia tidak kaya?

See? Jelas argumen B tidak logis dalam menanggapi A karena ukurannya adalah uang/harta.

4 | Bandwagon Fallacy
 

Menyimpulkan suatu ide adalah benar hanya karena banyak orang mempercayainya demikian. Hanya karena sekian banyak orang mempercayai sesuatu tidaklah membuktikan atau menyatakan fakta mengenai sesuatu.

Contoh :
A : Kalau begitu mengapa anda begitu mempercayai teori ini?
B : Saya percaya karena hampir 70% orang di dunia mempercayai teori tersebut.

 

Nah, jadi fallacy jenis ini lebih mementingkan kuantitasnya. Padahal belum tentu teori yang dianut B dan 70% orang adalah benar.

5 | Non-Sequitur

Atau nama lainnya gak nyambung, suatu konklusi/kesimpulan diambil tidak berdasarkan fakta atau premis.

Contoh :
1. Adi tinggal di hotel
2. Hotel itu mewah
Kesimpulan : Hotel yang dimiliki Adi pasti mewah

1. Indra memakan makanan yang lezat
2. Makanan itu bernama pizza
Kesimpulan : Makanan yang dibuat Indra adalah pizza yang lezat

See? Kesimpulan-kesimpulan di atas jelas ngawur dengan fakta atau premisnya.

Adakah dari beberapa logical fallacy diatas yang pernah kita temukan? Atau malah kita pelaku utamanya? Sepertinya diam adalah pilihan terbaik daripada berkomentar tanpa ilmu. Sepertinya banyak membaca adalah pilihan terbaik daripada bersuara tanpa ilmu. Sepertinya diskusi dengan teman dan guru adalah pilihan terbaik daripada berdebat tanpa ilmu.

2 comments:

  1. Wah makasih udah share tulisan ini Tia, saya jadi paham banyak hal tentang berargumen. Thanks ya

    ReplyDelete
  2. Jadi ingat pelajaran tentang logika. :'D

    ReplyDelete