3 November 2016

Seminar Parenting: Menghadirkan Sosok Rasulullah di Dalam Rumah Kita


Kali ini saya mau share resume seminar parenting yang pernah saya ikuti beberapa waktu lalu. Sudah lama memang, tepatnya kapan saya juga lupa. Menarik untuk dibahas kembali dan direnungkan oleh para orangtua maupun calon orangtua. Seminar parenting ini disampaikan oleh Bunda Kurnia Widhiatuti, beliau adalah Praktisi Parenting dan Parenter Nasional Muhammad Teladanku.

1) 3 Kalimat kunci realita saat ini:
1. Cinta yang terputus
2. Sejarah yang terpenggal
3. Harapan yang belum terwujud

2) Kalimat diatas menggambarkan bagaimana keberadaan Rasulullah ditengah-tengah kita.

3) Hilangnya figur manusia hebat saat ini. Salah satunya adalah minimnya pengetahuan kita dalam mengenal Rasulullah. Hanya mengetahui sekedarnya, sehingga dicabut ruh dalam berbagai kisahnya dan berdampak lemahnya militansi muslim saat ini.

4) Telah hilang dari para orangtua untuk membacakan kisah Rasulullah untuk anak dan keluarganya. Padahal karakter baik pada anak akan tersampaikan tatkala dimasukkan atau dikenalkannya karakter Rasulullah dalam diri anak tersebut.

5) Mendidik anak lewat kisah jauh lebih membekas terlebih dengan memperkenalkan tokoh-tokoh atau sahabat Rasulullah dibandingkan dengan mengenalkan langsung ibadah ritual kewajiban-kewajiban langsung pada anak.

6) Program sekolah hanya mengenalkan sosok Rasulullah atau Sirah Nabawiyah selama 15 menit per hari.

7) Di rumah, program 18:21 bada sholat maghrib dan baca Al-Quran bada sholat isya memaksimalkan kedekatan keluarga. Salah satunya dengan dibacakan kisah.

8) Ada pula realita terjadi, orangtua banyak menuntut anaknya untuk ideal bisa melakukan sholat dengan segera melakukan, baca Al-Quran dengan istiqomah, tapi stimulasi atau isi otaknya jarang kita isi dengan kisah-kisah hebat yang istiqomah melakukan itu. Artinya tidak mau menanam dengan bibit yang baik tapi hasil panen ingin bagus.

9) Akan tetapi banyak juga kisah anak-anak bahkan usia dini melakukan ibadah-ibadah dengan belajar shaum dan sholat karena kecintaannya kepada Rasulullah. Karena kisah tokoh yang disampaikan oleh orangtuanya dalam bentuk cerita sehingga timbul kerinduan untuk berjumpa dengan Rasulullah.

10) Sebuah pertanyaan juga untuk kita sebagai orangtua atau orang dewasa, pernahkah di bulan Ramadhan selain menargetkan khatam Al-Quran, tapi juga khatam Sirah Nabawiyah dari mulai lahir hingga wafat. Jangan-jangan cerita yang kita tahu hanya ala kadarnya saja.

Sejak duduk di bangku sekolah dasar, image sejarah sangat tidak bagus dimata saya. Sejarah adalah pelajaran yang membosankan. Metode penyampaian yang kurang bersahabat membuat saya tidak respon dengan pelajaran sejarah, apalagi harus membacanya.

Perlahan ketika saya menemukan komunitas yang cinta terhadap sirah, mendengar kajian-kajiannya, sirah memang mampu memberikan ruh yang berbeda. Meski hingga detik ini saya belum menamatkan banyak buku sirah, karena ternyata untuk membaca serta memahaminya perlu perjuangan. Perlu guru untuk membimbing.

PR besar untuk para pendidik dan orangtua, bagaimana internalisasi nilai-nilai sejarah bisa tertanam dalam diri anak-anak kita, terutama Sirah Nabawiyah. Tentu ini berkolerasi dengan motivasi membaca yang tidak kalah pentingnya. Sehingga saya merasa buku sirah adalah buku yang wajib ada di setiap rumah.

No comments:

Post a Comment