14 November 2016

Catatan Pendakian Mt. Prau Bagian III

Bukit Sikunir

“Jam setengah 4 ayo keburu macet.”

Mana ada macet jam setengah 4 subuh begini, pikir saya saat itu.

Dengan mata setengah ngantuk kita langsung meninggalkan basecamp dengan segala kenangannya. Bukit Sikunir adalah destinasi selanjutnya. Katanya, kalau kita mau melihat golden sunrise terbaik, Bukit Sikunir lah tempatnya.

Mobil kami melaju menuju Bukit Sikunir melewati jalanan Dieng yang berkelok-kelok. Langit masih gelap, udara masih sejuk, tiupan angin Dieng sungguh tak terlupa. Sudah banyak mobil mengantri di gerbang masuk Bukit Sikunir. Saya masih tidak percaya kalau ucapan teman saya itu benar adanya. Subuh-subuh gini kendaraan menuju Sikunir sudah padat, macet, tidak bisa bergerak.

“Kesiangan, nanti gak keburu lihat golden sunrisenya.”

“Ya udah turun disini. Kita jalan kaki.”

Perjalanan pun dilanjutkan dengan jalan kaki. Kami beringsut masuk, berjalan diantara kendaraan-kendaraan yang antri tidak bisa bergerak. Sejurus kemudian banyak orang yang turun dari mobil mereka dan hanya meninggalkan Pak Supir didalamnya. Seindah apa golden sunrise itu?

Kami berjalan meyusuri pemukiman warga, sesekali perkebunan di kanan kiri. Sesekali juga tukang ojek menawarkan jasanya, tapi kami mengindahkan tawaran itu dan lebih memilih berjalan kaki. Kami terpisah menjadi dua kelompok. Aku, Teh Muni, Teh Dini, Witri, Kang Bisma, dan Kang Aldin berjalan dibelakang. Sisanya entah dimana saya juga tidak tahu. Jalanan yang gelap membuat saya tidak bisa melihat keberadaan teman-teman yang lain. Kami terus berjalan hingga bertemu dengan anak tangga yang akan membawa kami bertemu dengan golden sunrise itu.

Adzan subuh berkumandang. 

“Teh mau sholat dimana? Gak mungkin turun lagi dan kita gak tau sampai diatas jam berapa.”

Sambil merayap menaiki anak tangga, kami berebut membuang pandang ke sebelah kiri, tempat dimana golden sunrise itu melukis langit. Semburat jingga menembus ranting-ranting pohon, semakin terlihat jelas jutaan manusia yang menaiki anak tangga ini. Dari mulai anak-anak sampai kakek-nenek, dari mulai yang niat olahraga sampai yang hanya niat selfie, dari mulai orang sunda sampai orang jawa. Semua berkumpul disini untuk menyaksikan salah satu keindahan alam yang dimiliki oleh Dieng.

Semakin lama arus manusia dari bawah semakin tak terkendali. Berebut mengambil jalan dengan arus manusia yang akan turun. Perjalanan menaiki anak tangga sempat beberapa kali terhenti. Petugas yang berjaga pun tak kuasa menahan manusia sebanyak ini. Pernah terlihat juga seorang petugas yang menggendong seorang wanita yang jatuh pingsan karena kelelahan dan mungkin juga kekurangan oksigen. Ya Tuhan, sekejam ini kah perjalanan untuk sampai di puncak Sikunir?

Golden sunrise mulai memudar, padahal sedikit lagi sampai puncak. Kang Bisma menerobos ratusan manusia dan menaiki dinding bukit yang dipenuhi akar-akar. Tapi saya, Teh Muni, Teh Dini, Witri, dan Kang Aldin menyerah.

“Kita gak akan bisa sampai puncak.”

Masuk gerbang macet, naik ke puncak macet. Ya Allah mimpi apa kita semalem. Hanya bisa termenung menatapi ribuan manusia yang berbondong-bondong. Menatap satu sama lain.

Jadi kalau mau dapet golden sunrise harus datang lebih subuh atau bermalam (camping) disini. Banyak tenda-tenda ditepi telaga yang camping dibawah kok. 

Sikunir? Tempat macam apa ini?

Ekspresi nano-nano
Ketemu Teh Erna lagi diantara sekian ribu manusia. Sama-sama terjebak di antrian menuju Puncak Sikunir.
Amazing banget ketemu Enyon disini. Temen seperjuangan, seperhutanan, sepertendaan, sepergilaan jaman STM dulu. Jauh banget gak sih Nyon ketemu di Jawa Tengah? Kapan kita kemana bareng angkatan 20 ya? Cie Enyon calon penganten.
Baik lupakan sejenak tentang Sikunir. Kami memutuskan turun tanpa membawa oleh-oleh apapun, tapi kami membawa cerita yang tidak akan pernah terlupa seumur hidup. Betul gak Teh Mun, Teh Din? Hahaha

Setibanya dibawah, kami membeli carica untuk sanak saudara di Bandung. Itu loh buah-buahan khas Dieng yang hanya bisa tumbuh di tanah Dieng. Rasanya manis-manis seger, gak ada deh di Bandung. Sejurus kemudian kami bertemu kembali dengan teman-teman yang menghilang keberadaannya sejak subuh. Sambil berjalan menuju tempat parkir, kami bercerita panjang lebar tentang kejadian sebelumnya. Mereka membuat kami iri dengan foto-foto yang berhasil menangkap keindahan Dieng dari atas Puncak Sikunir. Menyakitkan sekali, sungguh.

Setelah ini kemana?

Kita mau ke Batu Ratapan Angin, salah satu spot terbaik untuk melihat keindahan Telaga Warna. Tempatnya tidak terlalu istimewa, hanya batu-batuan yang terhubung dari satu lokasi ke lokasi lain. Tapi jangan salah, view Telaga Warna yang instagramble banget membuat semua orang rela antri demi berfoto disana. Setelah puas berfoto dengan berbagai macam gaya dari berbagai macam sudut, kita kembali ke parkiran untuk melanjutkan perjalanan pulang ke Bandung.

Tadinya mau mampir lagi ke salah satu tempat wisata, tapi melihat teman-teman sudah cukup kelelahan akhirnya kita mengurungkan niat.

Udahan aja nih?

Waktu memaksa kita kembali ke Bandung, walau sebetulnya masih banyak tempat yang belum tereksplorasi. Masih banyak kenangan yang tertinggal. Masih banyak jejak yang belum terekam dengan sempurna.

Ini adalah bagian yang paling bikin badan pegal-pegal. Menaiki mobil berjam-jam adalah episode yang harus kami tempuh selanjutnya. Tapi ini juga bagian paling menyenangkan karena dihabiskan bersama dengan kalian. So Sweet. Aktivitas selama di mobil gak ada lagi selain, tidur, transfer foto, dan update status.

Menjelang maghrib kami berhenti di daerah Cilacap sambil mencari tempat makan, akhirnya kami menemukan sebuah warung nasi di sebrang jalan sana. Tragedi demi tragedi menghiasi makan malam kami saat itu. Dari mulai makanan Teh Muni yang kesiram air minum Teh Rinrin, sampai seekor kelinci betina yang diduga telah hamil oleh seekor kelinci jantan bernama Aldi(n) akibat purwaceng (?) Si Ibu warung mengaku punya dua ekor kelinci bernama Siti dan Aldi(n). Kebetulan kita punya teman yang bernama Aldi(n). Jadi hubungannya? Entahlah. Hahaha

Mengakhiri tulisan ini saya mau mengucapkan terimakasih banyak sama kalian semua, my beloved team! Nurul Rohimah; Muni Nurhasanah; Leni Lestari; Risdiani Setiawan; Rinrin Dewi; Witri Khartiwi; Muhammad Irfan Fahmi; Sopian Hadi; Bisma Darma Kurnia; Aldin Syarifudin. I miss that moment so much. Tidak lupa Bapak supir yang sudah bersedia menemani kita keliling Dieng sampai tiba lagi di Bandung dengan selamat.
 
Ini perjalanan ke sekian yang membuat saya tambah bersyukur pernah melakukan perjalanan bersama kalian. Semoga ada perjalanan-perjalanan berikutnya yang membuat ukhuwah ini semakin erat. Terutama membuat kita semakin dekat dengan-Nya.

Perlu perjuangan untuk mengingat-ingat kembali memori selama pulang dari Prau sambil membongkar-bongkar foto-foto perjalanannya. Finally, hutang saya lunas ya. Tiba-tiba mood untuk menyelesaikan cerita pendakian ini, diduga karena si penulis lagi kangen banget sama yang namanya naik gunung.
Ini dia Siti dan Aldi(n)
View of Telaga Warna
View of Telaga Warna

2 comments:

  1. Hua kereeeeeen teeeeeh 😍 ketemu sama anak stm lagi teh, asa sempit dunia teh kayanya 😂😂😂

    ReplyDelete