11 July 2016

Sabar dan Syukur


Lama gak ngeblog sampai bersarang laba-laba hihi. Mengawali tulisan ini saya ingin mengucapkan taqobalallahu minna wa minkum. Semoga Allah menerima amal kita dan memberikan keistiqomahan ba’da Ramadhan. Mohon maaf lahir dan batin ya.

Bagaimana mudik teman-teman? Berapa jam perjalanan? Semoga mudiknya berkesan dan menyenangkan ya. Di hari biasa, mungkin kita dan keluarga gak punya waktu bersama hingga berjam-jam. Namun ditengah kemacetan mudik lebaran, kita jadi punya waktu yang cukup lama, kan? Nikmati saja sambil berbagi cerita dan tawa, karena moment seperti ini akan jarang sekali ditemukan ketika kita sudah kembali ke rutinitas seperti semula.

Macet memberikan banyak pelajaran berharga bagi saya. Diantaranya adalah tentang sabar dan syukur. Iya, sabar karena harus menunggu dalam waktu yang amat panjang saat menghadapi kemacetan dan syukur karena masih diberikan nikmatnya mudik sehingga bisa bertemu dengan sanak saudara.

Sabar dan syukur. Dua hal menarik yang tak pernah lepas dari kehidupan kita, bukan?

Bagaimana teman-teman memaknai sebuah kesabaran? Bagi saya, dimana lagi kita harus mencari kesabaran, selain di ruang tunggu yang tak berkesudahan? Tunggu yang selalu mengawali satu-persatu kehendak-Nya tiba, tunggu yang antri bergantian untuk mengantarkan kita dari satu takdir ke takdir yang lainnya, tunggu yang setia menunggu. Disuguhinya kita dengan degup-degup kecemasan, dengan binar-binar harapan, dengan serpihan-serpihan kebingungan, dengan bongkah-bongkah keraguan, dengan serangkaian ketidakpastian, dengan kesedihan serta kegembiraan yang silih berganti. Yang semuanya memang harus disantap dengan penuh keyakinan. Keyakinan, bahwa Dia sudah mempersiapkan yang terbaik untuk setiap episode kehidupan kita. Dan tentu saja sesuatu yang terbaik itu, akan didapatkan dengan usaha terbaik juga, harus dihadapi dengan penyikapan terbaik pula. Karena jika tidak, kita tidak pernah merasa kalau itu adalah yang terbaik bagi kita.

Intinya selalu pegang, bahwa Allah membersamai orang-orang yang sabar. Dalam tunggu, ada Allah. Dalam sabar, ada Allah.

Lalu bagaimana teman-teman memaknai sebuah kesyukuran? Allah berfirman dengan indah dalam Al-Quran, “Dan ingatlah ketika Rabb kalian memaklumkan: Sungguh, jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan tambah nikmat-Ku kepada kalian dan sungguh jika kalian kufur, sesungguhnya, azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim [14] : 7)

Betapa santun bahasa Allah. Ketika kita aktif bersyukur, kalimat yang dipakai untuk menggambarkan balasan adalah Aku akan tambah nikmat-Ku kepada kalian. Tetapi jika kita kufur, Allah tidak mengatakan Aku akan mengazab kalian. Kalimat Allah justru sangat santun, Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih. Maka, sebagaimana surat Ar-Rahman mengulang-ulang, nikmat Rabbmu yang manakah yang kalian dustakan?

Jadi, sudahkah kita bersabar dan bersyukur dalam setiap keadaan?

--  

Referensi: Menata Hati, Nazrul Anwar

No comments:

Post a Comment