1 April 2016

Serial Drama Papandayan

Taken by @aabism

To the point aja.

Pendakian kali ini penuh drama. Drama menyenangkan, menyedihkan, sekaligus menegangkan. Orang-orang yang nekat mendaki Gunung Papandayan dalam waktu satu hari. Mereka adalah..

Nurul Rohimah. Mahasiswi semester 6 yang hobi makan tapi cita-citanya diet. Mojang Lembang yang punya nama hits ‘Nurul Uyuy Cemiill’ ini soulmate aku naik gunung. Walau punya postur tubuh mungil, tapi nyekil kalau udah mendaki dan mengendarai motor.

Siti Aminah. Mojang Garut yang akrab dipanggil Ami ini rasanya gak pernah absen dalam setiap pendakian. Ibu guru cantik nan baik hati yang hobi bilang ‘ayam’ kalau ada sesuatu yang mengejutkan. Ayam, ayam!

Dela Afrilia. Wanita kelahiran tahun 1995 ini baru dua kali ikut pendakian. Qodarullah nya, setiap ikut selalu hujan dan melewati jalur naudzubillah. Sampai dia bilang, “Kenapa setiap aku ikut selalu hujan, apakah aku penyebab hujan?” Backsound lagu ‘Apa Salahku.’

Muhammad Irfan Fahmi. Pak Ketua PETA (Pendaki Taqwa) yang paling ngerti segala hal tentang pendakian. Paling mau (berkorban) maksain buat anggotanya. Mahasiswa bergolongan darah O ini selalu mengaku dirinya ganteng. Peace.

Bisma Darma Kurnia. Penulis buku ‘Jejak Hikmah Khatulistiwa’ yang hobi bikin quotes kece di instagramnya, follow @aabism. Selalu siap kalau ditunjuk jadi leader atau sweeper pendakian. Bener gak, Wa?

Sopian Hadi. Soulmatenya Bisma yang kalem, baik hati, dan tidak sombong. Calm and always stay cool. Cie. Mahasiswa semester 4 yang merantau dari Pulau Lombok ke Pulau Jawa. Suatu saat, bawa kita ke Rinjani ya?

Muhammad Ridwanullah. Mahasiswa tingkat akhir yang mungkin paling dewasa diantara kita semua dan selalu inisiatif jadi seksi dokumentasi. Setiap akhir pendakian kita pasti nagih di grup, “Kang Ridwan mana fotonya, upload fotonya.”

Aku. Aku mah apa atuh, hanya blogger yang hobinya menuliskan setiap moment perjalanan kita.

Sejujurnya galau ikut pendakian ini. Pertama, karena tektok takutnya gak kuat. Kedua, izin orangtua karena harus mengendarai motor Bandung-Garut. Ketiga, musim hujan banyak resiko. Dan masih ada kebimbangan lain yang gak bisa aku sebutkan. Setelah menilai, menimbang, dan memutuskan akhirnya berangkat juga. Bismillah.

BANDUNG – POM BENSIN TANJUNG
Seperti biasa kami berkumpul di Masjid At-Taqwa KPAD untuk cek perlengkapan dan lain-lain. Waktu sudah menunjukan puku 20.00 malam, tapi Bandung masih diguyur hujan. Sempat terjadi diskusi kalau pemberangkatan akan diundur sampai tengah malam nanti. Tapi melihat semangat kami yang udah gak sabar pingin sampai Garut akhirnya berangkat juga hujan-hujanan. Eh, pakai jas hujan pastinya.

Di pelataran Mesjid At-Taqwa KPAD, pinjem fotonya @aabism
“Teh Uyuy tolong liatin petunjuk jalan ya, aku kurang jelas kalau malam-malam begini.” Gini nih kalau punya mata minus sekian dan silindris sekian. Alhamdulillah masih bisa pakai (kebeli) kacamata.

“Oke siap Teh.”

Delapan orang dengan empat motor berangkat menuju Garut. Perjalanan sempat macet dibeberapa titik dan sempat berhenti beberapa kali untuk menyegarkan badan. Lancar jaya, jalanan lengang, walau sedikit menegangkan dibeberapa tempat.

“Di daerah sini tuh kata sodara aku bla bla bla.” Kata Uyuy sedikit horror.

“Gas terus Teh jangan berhenti.”

Uyuy udah jadi remote control aku selama perjalanan. Bandung-Garut jauh banget dear ternyata. Kapok deh gak lagi bawa motor.

“Pokoknya sampai Tanjung mau beli nasi goreng.” Sejak dari Bandung Uyuy udah nyebut-nyebut nama nasi goreng.

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 3 jam sampai juga di Pom Bensin Tanjung. Kita sudah berencana untuk istirahat (tidur) disini dan melanjutkan perjalanan jam 03.30 pagi. Jangan bayangin kita tidur di Pom Bensin ya, kita tidur di pelataran masjid yang ada di dalam SPBU. Berselimutkan sleeping bag, beralaskan jas hujan, beratapkan langit (atap masjid). Tapi aku mah pules aja sih tidurnya. Hihi.

Karena perut yang sudah tidak bisa diajak kompromi, sebelum tidur makan dulu. Judulnya makan dini hari, bukan makan malam. Untungnya ada tukang nasi goreng yang masih buka se-larut ini. Keinginan Uyuy tercapai. Yeay!

POM BENSIN TANJUNG – CISURUPAN – BASECAMP PAPANDAYAN
Udara yang mulai mendingin membangunkan kami pukul 03.00. Semakin banyak pendaki yang istirahat disini. Mungkin diantara mereka ada yang mau ke Guntur atau Cikuray. Terlihat juga mobil truk yang mengangkut carrier dan pendaki-pendaki diatasnya. Tepat pukul 03.30 kami melanjutkan perjalanan menuju basecamp Papandayan.

Tidur di pelataran Mesjid Pom Bensin Tanjung
Menjelang subuh udara masih dingin dan jalan masih sepi. Sempat bingung dengan jalurnya karena banyak belokan. Eh belokannya cuma dua sih sebetulnya, kanan dan kiri. Haha. Akhirnya pakai gmaps dan tanya-tanya ke warga yang udah melek subuh-subuh begini.

Tiba di Mesjid Besar Cisurupan tepat pukul 04.30, kami memutuskan untuk sholat subuh terlebih dahulu. Udah banyak pendaki yang nongkrong disini dengan carrier warna-warni nan besar. Kita mah cuma bawa daypack, karena gak akan camping jadi isi tas nya makanan semua.

Setelah sarapan dan cek perlengkapan,  melanjutkan perjalanan menuju basecamp Papandayan. Jalurnya seru, viewnya bagus, udaranya seger banget. Ditengah perjalanan pakai acara berhenti dan foto dengan background Gunung Cikuray. Belum puas foto-foto, kami melanjutkan perjalanan sampai ke tempat pembelian tiket. Udah banyak yang antri disana. As usual, biaya dan lain-lain akan saya cantumkan diakhir postingan ya. 
Mesjid Cisurupan
Foto dulu dengan background Gunung Cikuray
BASECAMP PAPANDAYAN – TANJAKAN SETAN – PONDOK SALADAH
Kesan pertama ketika motor mendarat di parkiran Papandayan adalah, “Tempat wisata ini mah.” Banyak tukang jualan, pemuda-pemudi gaul kekinian, pokoknya udah mirip Tempat Wisata Gunung Tangkuban Perahu. Sebelum memulai pendakian, kami melakukan pendataan di basecamp Gunung Papandayan sekaligus titip helm.
Parkir dan basecamp Papandayan
Cekrek lagi sebelum mendaki, abaikan dua orang yang melintas dibelakang
Aroma kawah sudah bisa dirasakan sejak pendakian dimulai karena titik awal pendakian ada dalam ketinggian +- 1800 mdpl. Jalurnya didominasi oleh batu-batuan berwarna putih, krem, dan coklat. Baru beberapa menit melangkah, kita disuguhkan pemandangan luar biasa disebelah kiri. Sillhoute Gunung Cikuray, Galunggung, dan Guntur terlihat jelas darisini. Mata dimanjain banget sama lukisan-lukisan Tuhan yang luar biasa dan maha sempurna. Pinginnya sih berlama-lama, tapi kalau kebanyakan foto kapan sampainya? Akhirnya kita berhenti foto-foto dan melanjutkan pendakian.

Aroma kawah semakin pekat saat kami melewati Kawah Papandayan. Baunya menyengat, asapnya mengepul, terdengar juga suara air mendidih. Jadi kalau melewati kawah jangan lupa pakai masker biar gak sesak napas. Disini, sejauh mata memandang yang terlihat hanya bukit-bukit batu dengan berbagai macam ukuran dan bentuk. Tidak ada pohon-pohon seperti gunung pada umumnya. Tebing-tebing tinggi bekas letusan puluhan tahun silam membuat Gunung ini terlihat indah. Aku jadi teringat Cappadocia yang memiliki material mirip seperti ini. Jadi pingin balik lagi ke Cappadocia! Heu.

This like Cappadocia
Saatnya melwati tanjakan setan!

Entah, apa memang benar namanya tanjakan setan. Yang jelas aku tidak melihat makhluk-makhluk halus berkeliaran disini. Haha. Yang ada hanya jalur dengan kemiringan 60-70 derajat yang membuat napas ngos-ngosan dan jantung berdetak lebih cepat. Sebetulnya ada alternatif lain, tapi harus mengitari bukit dan cukup jauh. Tanjakan setan ini bisa memangkas waktu 20-30 menit. Lumayan kan.
Sebelum menuju Pondok Saladah, kita berhenti disebuah pos untuk pendataan dan ‘pungutan’, gak di tarif cukup bayar seridhonya. Mungkin untuk jasa kebersihan atau keamanan wallahua’lam. Yang jelas dari pos ini hanya tinggal 10 sampai 15 menit menuju Pondok Saladah.

Pondok Saladah adalah tempat yang pas untuk berkemah. Selain memiliki spot yang luas, sumber airnya juga banyak. Ada toilet kapsul dan mushola. Gak ketinggalan warung-warung juga berdiri dengan kokoh di Pondok Saladah. Asli, ini mah tempat piknik. Pokoknya aman kemah disini karena segala fasilitas sudah tersedia. Jangan takut kehabisan makanan, kalau warung yang satu habis atau tutup masih ada warung-warung lain saking banyaknya. Dan banyak yang jual cilok. Nyaman kalau yang kemah nya sedikit, kalau banyak bisa gak kebagian tempat.
Banyak warung dan tukang cilok

Camp area Pondok Saladah
TANJAKAN MAMANG – TEGAL ALUN
Kami sempat berdiskusi antara melanjutkan ke tegal alun atau langsung turun melewati hutan mati. Atas kesepakatan bersama kami memutuskan ke tegal alun terlebih dahulu. Sayang banget kan udah ke Papandayan tapi gak ke tegal alun yang banyak edelweiss nya itu. Sekitar pukul 11.00 kami melanjutkan pendakian menuju tegal alun.

Jalur pertama melewati hutan mati yang ngehits dan instagramble banget. Pohon-pohon gundul tanpa daun dengan batang-batang berwarna hitam akibat letusan puluhan tahun silam membuat hutan mati terlihat mempesona. Menurut sejarahnya, Gunung Papandayan sudah meletus sebanyak 4 kali. Letusan tersebut terjadi pada 12 Agustus 1772, 11 Maret 1923, 15 Agustus 1942, dan 11 November 2002 dengan letusan paling besar terjadi pada tahun 1772. Letusan terbesar itulah yang mengakibatkan 2957 orang meninggal, 40 desa hancur, dan daerah sekitarnya tertutup karena longsor.

Diawal pendakian aku sempat bilang, “Papandayan itu gunung yang cocok buat pemula.” Tapi setelah melewati tanjakan mamang, rasanya aku ingin mencabut semua kata-kata itu. Iya cocok buat pemula dari basecamp sampai pondok saladah. Saat melewati tanjakan mamang kamu pasti akan bilang jalur ini sungguh gak manusiawi. Perlu merangkak sesekali panjat tebing karena kemiringan gunung antara 70-90 derajat. Kaki sampai gemetar saat berbalik ke belakang. Brrrrr tinggi banget! Tapi semua terbayar dengan lukisan-Nya yang maha sempurna. Masya Allah.

Tanjakan mamang

Masih tanjakan mamang
Drama dimulai!

Setelah melewati tanjakan mamang, aku, Uyuy, dan Kang Irfan terpisah dengan kelima teman yang lain yaitu Dela, Ami, Kang Bisma, Kang Sopian, dan Kang Ridwan. Padahal jarak antara kami gak terlalu jauh, hanya beberapa langkah saja. Jalan yang bercabang membuat kami kebingungan harus melewati jalur yang mana. Aku, Uyuy, dan Kang Irfan ke kanan. Sedangkan kelima teman yang lain ke kiri.

Beberapa menit berjalan kami bertiga mulai sadar kalau terpisah dari rombongan. Aku mencoba memanggil kelima teman kami tapi tidak ada yang menyahut. Mungkin mereka masih dibelakang. Masih santai berjalan sampai akhirnya kang Irfan merasakan sesuatu yang berbeda dengan jalur ini.

“Kok jauh banget ya Tegal Alun nya, waktu saya kesini rasanya gak sejauh ini. Setelah tanjakan mamang hanya jalan sebentar langsung sampai ke Tegal Alun.” Begitu kira-kira.

Aku dan Uyuy sih ngikut aja sampai akhirnya kami bertemu dengan rombongan lain yang juga sedang mencari dimana keberadaan Tegal Alun.

“Kang mau ke Tegal Alun ya? Kalau udah ketemu nanti kasih tau ya soalnya teman kita masih ada yang dibelakang. Teriak aja.”

Setelah menunggu beberapa menit salah seorang dari rombongan tadi berteriak. Tapi kelima teman kami belum juga terlihat batang hidungnya.

“Ah iya betul berarti kesini jalannya.”

Kita bertiga masih asyik melewati jalur menurun dengan pohon-pohon yang menutupi langit-langit. Sampai akhirnya bertemu dengan pohon-pohon edelweiss khas tegal Alun dan rombongan tadi.

“Eh kayaknya bukan ini deh, sebentar saya liat dulu jalurnya kesana.”

Kang Irfan berjalan mencari jalur ke Tegal Alun. Sementara aku, Uyuy, dan rombongan tadi diam ditempat sambil terus teriak memanggil kelima teman yang terpisah.

“Teh, coba panggil lagi temennya. Siapa tau ada yang nyahut.” Kata salah seorang dari rombongan itu.

“Dela..”

“Ami..”

Mereka mengikuti teriakan aku dan Uyuy. Itulah serunya main di gunung, jiwa-jiwa kebersamaan dan SKSD nya muncul kalau kondisi lagi begini, padahal gak saling kenal. Gak lama kemudian ada rombongan lain yang juga sama-sama lgi cari Tegal Alun. Kang Irfan balik lagi.

“Bukan ini jalurnya.” Panjang lebar menjelaskan.

Aku coba telepon salah satu dari kelima temanku tapi gak nyambung. Sinyal gak nyampe dear, beda sama di Guntur yang sinyalnya masih kenceng sampai puncak. Akhirnya kita memutuskan untuk balik lagi ke jalur bercabang tadi. Karena seharusnya kita belok ke kiri, bukan ke kanan.

Setelah kita telusuri lebih jauh (sebetulnya Kang Irfan sih yang nyari tau mah) lewat jalur ini pun bisa nyambung ke Tegal Alun, tapi jadi lebih jauh. Tegal Alun itu luas katanya, lebih luas dari Tegal Panjang. Sekarang aku baru ngerti, akses menuju Tegal Alun itu banyak. Dan kita bukan nyasar, hanya masuk ke area Tegal Alun yang jarang dikunjungi. Misteri terpecahkan, haha.

Sementara inilah drama yang terjadi pada kelima teman kami. Dikutip dari http://bismamuslim.wordpress.com.
“Kang, dari mana?” Tanya kami kepada kelompok pendaki lain.

“Dari Tasik.” Jawab salah satu dari mereka.

“Eeh, bukan itu maksudnya, Kang. Tadi dari jalur mana? Dan sekarang mau ke mana?” Tanya kami lagi kepada mereka.

“Oh. Tadi kami tersesat. Salah jalan. Dan ke sini jalur Tegal Alun, kan?”

“Hah, hmm.. berarti tempat yang tadi itu benar Tegal Alun ya. Dan yang tersesat itu bukan kita, tapi mereka.” Ujar saya lega.

Diantara kami ada yang bertanya, “terus akang lihat yang bertiga diantara kami ke sana ga? Soalnya tadi terpisah.”

“Oh iya. Ada, sekarang mereka juga sedang menuju ke sini. Tunggu aja.”

“Oh gitu, ok sip kalo gitu.” Jawab kami.
BERTEMU KEMBALI – TEGAL ALUN – HUTAN MATI - BASECAMP PAPANDAYAN
“Kayaknya mereka berlima udah sampai deh ke Tegal Alun.”

“Iya kayaknya mereka udah sampai duluan.” Kata Uyuy.

Tiba dijalur bercabang tadi, kita ambil jalur sebelah kiri. Gak lama setelah itu KITA BERDELAPAN BERTEMU KEMBALI. Cie.

“Kalian darimana?” Kata Kang Ridwan.

“Salah jalur, kalian udah sampe Tegal Alun ya?” Aku, Uyuy, dan Kang Irfan masih lempeng diatas kepanikan mereka berlima.

“Udah, malah kita udah balik lagi.” Kata Ami.

“Kita udah panik tau, dikira kita berlima yang nyasar padahal bener. Aku udah gak semangat turun gunung kalau gak ketemu kalian.” Kata Dela dengan segudang kepanikan diwajahnya.

Kalau gak pakai drama terpisah, kita pasti udah perjalanan turun gunung sekarang. Sementara kelima teman kami beristirahat, makan siang, dan sholat, aku, Uyuy, dan Kang Irfan melanjutkan perjalanan menuju Tegal Alun.  Jalur menuju Tegal Alun cukup gelap, pohon-pohonnya tinggi dan rapat.

Sepuluh menit kemudian kita bertiga sampai di Tegal Alun. Sudah ada rombongan yang tadi bersama-sama kami disana. Inilah Tegal Alun dengan pohon-pohon edelweiss yang gak bosan dipandang mata. Ada juga danau kecil yang membuat Tegal Alun terlihat lebih manis. Ah, itu bukan danau. Hanya genangan air yang luas jadi terlihat seperti danau. Kalau musim kemarau gak akan terlihat genangan air ini.
Ini nih jalur yang membuat kita terpisah hihi
Hutan mati sebelum hujan
Tegal Alun
Setelah puas menikmati keindahan Tegal Alun, kita bertiga kembali ke tempat kelima teman kami beristirahat. Kita semua saling cerita dan ketawa-ketawa sendiri mengingat drama ‘perpisahan’ sebelumnya. Kalau pas di Pondok Saladah kita memutuskan langsung turun ke hutan mati, pasti gak akan terjadi drama ‘perpisahan’ ini. Kalau kita bertiga jalannya gak duluan, pasti bakal ke Tegal Alun bareng-bareng. Dan cerita-cerita lainnya yang membuat moment ini gak akan terlupakan.

Berharap saat turun gunung gak hujan karena kebayang ribetnya kayak gimana. Tapi takdir berkata lain. Rintik-rintik hujan mulai turun membasahi Garut dan sekitarnya saat kami masih berada diatas. MELEWATI TANJAKAN MAMANG LAGI. Eh, turunan mamang karena sekarang kita mau turun.

Sekarang aku jalan di belakang, kedua dari belakang tepatnya. Karena dibelakang aku masih ada Kang Sopian. Menuruni tanjakan mamang ini bukan hal yang mudah. Gak boleh salah fokus, kalau salah fokus bisa kepeleset. Makin lama hujannya makin deras, harus ekstra hati-hati menuruninya. IYA INI COCOK BANGET BUAT PEMULA. Inget kata-kata itu lagi dan rasanya ingin nelen air mentah-mentah. Pakai acara keram kaki ditengah-tengah jalur dengan kemiringan 80 derajat.

Rencana foto ala-ala instagram di hutan mati batal sudah dikarenakan hujan deras yang kayaknya gak akan berhenti sampai nanti malam. Rasanya udah gak mood foto-foto juga dan ingin cepat-cepat sampai parkiran. Kami turun lewat hutan mati yang terlihat lebih mempesona kalau hujan-hujan gini.

Jalur yang sudah seperti aliran sungai dan didominasi oleh bebatuan membuat aku sulit melangkah awalnya. Setelah nemu ritme dan pijakan yang enak akhirnya bisa turun sendiri tanpa dibantu Kang Sopian. Heu. Suara geludug dan angin yang kencang menemani perjalanan menuruni Gunung Papandayan ini.

Eh, ditengah perjalanan ketemu sama ibu-ibu super. Turun gunung dengan mudah tanpa beban sedikit pun di wajahnya. Cepat banget, parah. Kita anak-anak mudah kalah cepat sama si ibu. Malah ibu itu sempet ngasih tau pijakan yang benar.
“Lewat sini Neng, nah kesitu Neng.”

Memang super banget deh, salut. Mungkin si ibu udah punya jam terbang yang panjang untuk mendaki Papandayan ini, jadi udah biasa aja naik turun gunung.

Setelah lama berjalan dan melewati jalur awal yaitu kawah Papandayan, kami sampai di basecamp sekitar pukul 16.30. Pendakian sudah berakhir, namun cerita belum berakhir sebelum kami tiba di rumah masing-masing.
Porter Papandayan, taken by @aabism
Taken by @aabism
PERJALANAN PULANG MENUJU BANDUNG
Kami kembali ke Mesjid Cisurupan untuk bersih-bersih dan istirahat. Tapi kedua teman kami, Kang Irfan dan Dela menghilang begitu saja. Sampai adzan maghrib berkumandang belum juga sampai, sementara kami ber-enam udah bersih-bersih dan melaksanakan sholat maghrib. Apa mereka balik duluan ke Bandung gitu? Gak lama kemudian mereka memberi kabar, ternyata ban motor Kang Irfan bocor dan diangkut pakai mobil ke tempat tambal ban. Ada-ada aja ya, Wa?

Hujan masih mengguyur wilayah Garut dan sekitarnya. Awalnya kami mau istirahat semalam di Mesjid ini, tapi warga gak membolehkan ada wanita yang bermalam disini. Akhirnya nekat pulang dengan kondisi capek, lelah, ngantuk, dan hujan deras.

Drama ini belum selesai sampai kami bertemu dengan banjir setinggi paha orang dewasa di Rancaekek. Pantes macetnya panjang banget ternyata banjir. KNALPOT KERENDAM, MESIN MATI, SEPATU PALID, MALEM-MALEM DORONG MOTOR. Lengkap sudah perjalanan kali ini.
View khas Papandayan
In frame : Dela Afrilia
Pondok Saladah
No caption
Sungguh perjalanan yang mengesankan. Bukan karena hujan, karena banjir, apalagi karena tanjakan mamang. Tapi karena Dia titipkan pengalaman ini dan memberikan hikmah setelahnya.

Selamat memetik hikmah, Kawan! Karena untuk apa mendaki gunung kalau tidak menambah ketaatan pada-Nya?

--

Where
Gunung Papandayan, Kecamatan Cisurupan, Garut, Jawa Barat

Admission Fee (Sumber: www.papandayan.info)
Harga Tiket Masuk Pengunjung Kemping : 
Senin - Jumat 10.000 IDR
Sabtu - Minggu / Weekend 12.500 IDR

Harga Tiket Masuk Pengunjung biasa :
Senin - Jumat 5.000 IDR  
Sabtu - Minggu / Weekend 7.500 IDR
Harga Tiket Masuk Pengunjung WNA / Warga Negara Asing :
Senin - Jumat 100.000 IDR

Sabtu - Minggu / Weekend 150.000 IDR 
Harga Tiket Kendaraan roda 2 : 
Senin - Jumat 5.000 IDR  
Sabtu - Minggu / Weekend 7.500 IDR 

Harga Tiket Kendaraan roda 4 : 
Senin - Jumat 10.000 IDR  
Sabtu - Minggu / Weekend 15.000 IDR 

Harga Tiket Kendaraan roda 6 atau lebih :  
Senin - Jumat 50.000 IDR
Sabtu - Minggu / Weekend 70.000 IDR

9 comments:

  1. Sebetulnya pungutan di pos 2 memang sudah sejak lama ada, itu pos relawanan yang bertugas mengevakuasi jika terjadi apa-apa. Sedangkan pungutan yang ramai dibicarakan adalah pungutan di basecamp berupa parkir kendaraan roda 2 sebesar Rp10.000 dan roda 4 sebesar Rp25.000, juga uang kebersihan sebesar Rp3.000 per orang.

    ReplyDelete
  2. seru liat foto-fotonya apalagi liat tanjakan mamang..itu serem banget... apa gak takut roknya kesangkut..hi2

    ReplyDelete
  3. aku lho belum ke papandayan, kapan yak ke sana, katanya bisa bawa motor sampe atas ya

    ReplyDelete
  4. wah asyik bgt bisa menjejakkan kaki ke atas gunung. keren :)

    ReplyDelete
  5. Pendakian yang penuh perjuangan ^^
    Btw aku pnasaran sama hutan mati, denger namanya kok agak ngeri ya

    ReplyDelete
  6. Pucuk-pucuk, wih asik banget tuh mbak naik-naik ke pucuk gunungnya, saya belum pernah tuh mbak mendaki ke gunung papandayan itu ...

    ReplyDelete
  7. dari dulu gak jadi terus mau nyoba papandayan.. semoga tahun ini bisa

    ReplyDelete
  8. Teteh follback my blog :D || Foto-fotonya bagussss :D

    ReplyDelete