15 March 2016

Pendakian Gunung Tangkuban Perahu Via Jayagiri

Wajahnya masih ceria
Pendakian kali ini berjumlah 27 orang dengan komposisi mayoritas perempuan. Sebelum melakukan pendakian, kami melaksanakan sholat gerhana di Mesjid At-Taqwa KPAD. Tepat tanggal 9 Maret 2016 lalu terjadi gerhana matahari total yang melintasi 11 Provinsi di Indonesia. Fenomena alam ini hanya bisa disaksikan puluhan tahun sekali di tempat yang sama, di Indonesia sendiri gerhana matahari total pernah terjadi 21 tahun silam. Jadi gak heran kalau gerhana kali ini menjadi begitu istimewa bagi masyarakat Indonesia. Sebagai umat muslim, udah sepantasnya gerhana matahari total ini dijadikan moment yang sangat berharga untuk banyak beribadah dan berdzikir kepada Allah swt.

Usai sholat gerhana, kami menuju Lembang menggunakan sepeda motor. Tiga puluh menit kemudian tiba di gerbang Hutan Wisata Jayagiri. Seperti biasa sebelum melakukan pendakian kami berdo’a dan membagi peran. Peran antagonis dan protagonis. Eh bukan, maksudnya ada yang menjadi tim penunjuk jalan dan tim penyisir yang tugasnya memastikan semua anggota gak tertinggal dibelakang.

Pendakian dimulai pukul 09.00 saat matahari mulai terik-teriknya. Beruntung jalur Jayagiri ini cukup bersahabat dan banyak pohon-pohon tinggi, jadi panasnya gak terlalu meresap ke ubun-ubun. Jalur ini cocok banget buat jalan-jalan ceria sama adik, kakak, ibu, bapak, suami, istri, dan sama kamu. Iya kamu. Banyak nanjaknya sih, ya namanya juga naik gunung pasti nanjak. Tapi nanjaknya manusiawi, adek-adek PAUD juga sanggup melewati ini mah.

Titik istirahat pertama adalah di sebuah warung yang pas kesana lagi tutup. Padahal kita, eh aku, udah merencanakan mau beli bala-bala yang baru diangkat dari penggorengan, hemmm nikmatnya. Akhirnya cuma ngobrol ngaler ngidul sambil ngabisin makanan punya orang. Terus ada satu keluraga yang baru turun melintas dihadapan kita, sepasang suami istri dan dua anak perempuannya yang lucu-lucu. Guys, mereka aja kuat, masa kita yang udah segede gini ngos-ngosan maksimal?

Jalur pendakian jayagiri
Warung yang tutup
Sambil nunggu teman-teman yang masih tertinggal beberapa meter, bulir-bulir air hujan mulai terjatuh membasahi bumi. Angin bertiup merasuk ke relung jiwa yang mulai hampa. Uhuk. Dan, deras. Bruuussshh! Kayak air yang ditumpahin sekaligus dari ember. Kita semua menepi kedalam warung dan buru-buru pakai jas hujan. Bakal licin ini mah, bakal dingin ini mah, bakal pulang malem ini mah. Lanjut enggak, lanjut enggak? Saat itu kita mengkhawatirkan seseorang yang baru aja sembuh dari sakit. Tapi, Teteh kita ini punya semangat yang ruarrr biasa, Teteh yang baru melakukan perjalanan lagi dari cuti pendakian yang cukup panjang. Teh Anney namanya. Loveyou, Teh!

Perjalanan dilanjutkan, diiringi tetesan air hujan yang masih setia membasahi bumi. Gak kayak kamu yang gak setia, eh. Sepatu dan rok basah maksimal, untungnya baju gak ikut-ikutan basah karena terlindungi jas hujan. Jalanan licin, banyak kubangan, seru banget. Udah lama gak basah-basahan kayak begini. Terakhir naik gunung cuacanya kering dan hanya menyisakan debu.

"Kenapa harus lewat Jayagiri sih ke Gunung Tangkuban Parahu nya? Gak lewat jalan raya yang jelas-jelas lebih enak dan nyaman. Kamu mah nyusahin diri sendiri aja.” Begitu respon teman kantorku, waktu aku cerita antusias sama dia.

“Judulnya juga mendaki gunung, gak rame atuh kalau lewat tempat wisata mah. Piknik aja sekalian.” Percakapan pun selesai.

Kembali ke jalur pendakian Tangkuban Parahu yang tiada berujung ini. Puas melewati kubangan-kubangan, kita mulai masuk hutan rimba dimana masih banyak akar-akar yang bisa dipakai menggelayut ala-ala tarzan. Pohonnya rapat dan tinggi-tinggi. Jalurnya nanjak tanpa bonus. Kata Teh Anney mirip jalur Cikuray. Entah, belum tau juga jalur Cikuray kayak apa soalnya belum pernah kesana.

Siap-siap atur nafas. Jalur ini dijamin bikin lemes lutut dan sakit kaki. Usahakan makan madu atau ngemil yang manis-manis untuk menjaga stamina kamu. Jangan banyak hereuy bisi tikosewad, banyak akar dan ranting yang malang melintang. Kecuali kalau kamu udah professional dan hafal diluar kepala sama jalur ini.



“Ya Allah, cape.”

“HHN, Teh.”

“Apaan tuh?”

“Hadapi Hayati Nikmati.”

Begini kalau jalan sama santri SSG, ada bisikan-bisikan positif dari belakang.

“Sesungguhnya masih lebih licin jembatan sirotol mustaqim.”

Hashtag, kata Dindin.

Udah lewat dzuhur tapi belum sampai juga. Patokannya adalah plang yang tertera angka dan tulisan diatasnya. Jadi sepanjang perjalanan kamu akan menemukan plang kira-kira ukuran A6 yang menancap diatas tanah. Ada angka dan nama-nama flora dan fauna. Kalau udah melewati angka 12, tandanya sebentar lagi sampai. Udah kayak petualangan memecahkan misi rahasia gitu pokoknya. Ah, lebay.

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih lima jam, kita mulai mencium bau-bau belerang. Tandanya sebentar lagi sampai puncak, kan? Berharap ada yang bilang iya. Tapi sayangnya seseorang berbicara dari arah depan, “Masih lama Teh, ini masih di angka 8. Puncaknya setelah kita lewatin angka 14.” Gitu kata Ami, satu-satunya perempuan yang udah pernah kesini sebelumnya. Baiklah, yuk lanjut.

Angka demi angka berhasil dilewati dengan perjuangan antara hidup dan mati. Ah, lebay. Kita sampai juga di tempat penangkal petir, space yang cukup luas untuk makan siang dan sholat. Disini kamu bisa selonjoran bahkan tidur-tiduran. Gak ada lagi tanjakan yang bikin lutut kehilangan engselnya. Saatnya bongkar perbekalan dan makan siang. Sementara sebagian yang lain sholat, sebagian lagi makan siang, sebagian lagi selfie. Tetep.

Menjelang ashar, kita melanjutkan perjalanan ke puncak Gunung Tangkuban Parahu. Jangan panik, jalurnya lurus mendatar. Cukup banyak kubangan air dan bebatuan. Setelah menempuh lima belas sampai dua puluh menit perjalanan, sampai juga di puncak Gunung Tangkuban Parahu.

Tapi, semua serba putih.

Kabut.

Sejauh mata memandang hanya kabut tebal yang menutupi keindahan kawah Gunung Tangkuban Parahu. Kecewa, engga juga. Sedih, bisa jadi. Tapi kita harus selalu ingat, tujuan mendaki bukanlah sampai puncak. Proses pendakian itu sendiri yang menjadi tujuannya, bagaimana kita bisa belajar dan meng-upgrade diri dari setiap langkah pendakian. Puncak hanya soal bonus. Tuhan memberikan kita akal, hati, dan anggota tubuh yang sempurna untuk mensyukuri setiap kejadian dalam hidup.

Setengah jam di puncak. Menikmati keindahan kawah yang samar-samar tertutup kabut.

Alhamdulillah.

Gak kerasa jam udah menunjukan pukul empat sore. Kita harus buru-buru keluar hutan sebelum matahari tenggelam. Melewati jalur yang berbeda sambil kepeleset berkali-kali. Licin banget deh, sumpah. Pinginnya sih sosorodatan kayak di Guntur, tapi ini gak memungkinkan. Medannya terlalu bahaya kalau harus melakukan itu. Akhirnya turun pelan-pelan sesekali pegangan sama Teh Lia padahal postur tubuhku lebih besar loh, kebalik ya. Aku dan Teh Lia cekikikan liatin Ridwan yang kepeleset didepan. Beberapa masa kemudian aku pun kepeleset tanpa daya. Impas.

Matahari mulai tenggelam dan kita masih ditengah hutan. Banyak yang gak bawa senter karena kita gak memprediksikan sampai larut begini. Perjalanan dilanjutkan dengan drama antara Aldin dan Irfan yang menemukan dua jalur berbeda. Yang satu feelingnya ke kanan, yang satu feelingnya ke kiri. Ketegangan ditambah ketika Sopian bilang, “Jalur yang ini ada tanda jejaknya, tapi kayak ada jurang gitu.”

Apah! Jurang? Teh Anney mode on.

Sebetulnya kalau siang-siang jalurnya biasa aja, tapi karena ini udah malem jalur-jalur yang ada jadi terlihat menyeramkan. Ditambah hujan dan kepanikan yang memenuhi isi pikiran kita semua. Setelah melalui perdebatan panjang hakim memutuskan melewati jalur yang mirip jurang-jurang itu. Ah, lebay lagi.

Saling menjaga satu sama lain. Disini aku merasakan nikmatnya perjalanan bersama kalian. Meski sudah berkali-kali, aku gak pernah bosan. Meski sakit kaki berkali-kali, aku gak pernah kapok. Meski kepeleset berkali-kali, aku gak pernah nyerah. Meski pegel pundak berkali-kali, gak apa-apa kok, kan ada hot  in cream. Lah?! Endingnya gak banget ya.

Intinya aku selalu mendapatkan “sesuatu” dari setiap perjalanan yang kita lakukan. Entah itu semangat baru, entah itu kekuatan baru, entah itu pelajaran hidup, atau bahkan teman baru.

Pendakian Tangkuban Parahu via Jayagiri ini diakhiri pukul 20.30 malam. Mamang-mamang yang jaga parkiran terlihat kebingungan mendapati rombongan sebanyak ini baru turun larut malam. Aku gak peduli sama wajah kebingungan mamang parkir itu, yang penting kita semua selamat sampai kerumah masing-masing.

Sekian.






Where
Hutan Wisata Jayagiri, Lembang
Gunung Tangkuban Perahu, Subang, Jawa Barat

Admission Fee
Tiket masuk Hutan Wisata Jayagiri Rp. 5.000,- per Orang
Parkir motor Rp. 7.000,- per Motor

4 comments:

  1. wah seru. say amau coba ah kapan2. makasih infonya teh :D

    ReplyDelete
  2. kereeennn ceritanyaaah,, kapan aku bisa mulai lag ng-blog yaah ? hahaha.. terinspirasi ui kakak. semangat ah

    ReplyDelete
  3. Siap siap trip gunung prau teh tia..
    Insyaa allaah banyak ceritanya😄😄

    ReplyDelete
  4. Subhaanallah seruu.. Kapan bisa ikut Trip ma kalian? Jadi malu�� ga pernah bisa ikut serta.. Suatu saat insyaAllah pasti bisa..

    ReplyDelete