13 March 2016

Pendakian Gunung Guntur Episode 2

Masih turun kabut
Pasti nunggu-nunggu kelanjutannya kan? Yes si aku pede banget minta ditimpuk carrier. Yang jelas tulisan ini untuk melunasi janji cerita Gunung Guntur yang sempat tertunda. Gak terlalu panjang, tapi mudah-mudahan mengobati rasa rindu akan Gunung yang terletak di Kota Garut tersebut. Let's begin..

Angin berhembus lebih kencang menerpa tenda kami. Aku mengikat syal sekali lagi, memastikan tubuh ini siap menerima udara dingin diluar sana. Langit tidak hitam pekat, sudah terlihat sabut-sabut kapas dibeberapa bagiannya. Usai melaksanakan sholat subuh, kami bersiap menikmati sunrise. Tapi teringat salah satu teman yang masih tertinggal dibawah. Oh iya, sebelum subuh tadi Wahyu sempat menelepon Aisyah untuk menjemputnya dibawah yang tidak jauh dari tempat kami mendirikan tenda. Akhirnya, Aisyah menjemput Wahyu seorang diri. Keren gak tuh Teh Aisyah, gak kalah keren sama sinyal telepon yang masih kenceng di gunung setinggi ini.

Bersamaan dengan itu moment yang ditunggu-tunggu datang juga. Lautan awan dengan view gunung Cikuray dan Papandayan. Sungguh gak bisa digambarkan dengan kata-kata. Para pendaki mulai berbondong-bondong untuk mengabadikan lukisan Tuhan ini. Tapi guys, kita harus selalu ingat. Tujuan mendaki bukan hanya sekedar koleksi foto keren, lebih dari itu melibatkan perasaan *Pidi Baiq mode on* Eh bukan juga, pokoknya lebih dari itu yang kalian rasakan, terlalu rendah kalau tujuannya hanya untuk selfie atau stok foto instagram.

Sementara yang lain sarapan, aku dan beberapa teman menuju kawah yang gak jauh dari tempat kami mendirikan tenda. Kami berjalan kurang lebih lima menit untuk sampai disana. Banyak juga pendaki yang mendirikan tenda di sekitar kawah ini. Puncak dua juga terlihat jelas darisini. Untuk sampai puncak dua kita harus berjalan lagi sekitar lima belas sampai dua puluh menit. Masih ada puncak tiga dan puncak empat yang memiliki waktu tempuh beberapa jam lagi. Tapi kita mengurungkan niat untuk sampai puncak empat mengingat waktu dan kondisi yang gak memungkinkan.

Puas menikmati keindahan Kota Garut dari Gunung Guntur, kami bersiap pulang. Pulang? Iya waktunya bongkar tenda dan bongkar kenangan bersama kamu. Plis jangan baper. Sebentar banget ya, kenapa gak semalem lagi gitu? Engga dulu deh, cukup semalem aja drama Guntur ini. Lain kali kita pasti balik lagi kok, tapi gak tau kapan.

Drama selanjutnya dimulai. Menuruni Gunung Guntur dengan adegan-adegan yang bikin jari kaki bengkak, celana sobek, dan menguji keshabaran. Perlu teknik khusus biar gak tisereleu, tisoledad, bin tikosewad. Material pasir dan berbatu membuat kami cukup kesulitan untuk berpijak, jadi sangat disarankan bawa trekking pole. Cara terakhir menuruni Gunung ini kalau gak bisa pake trekking pole atau pegangan rumput kanan kiri adalah meluncur dengan bebas. Yeaaaay, kayaknya cara ini paling aman buat si aku. Alhasil sosorodotan dari atas sampai bawah udah kayak anak PAUD yang kegirangan dikasih mainan. Udah gak peduli deh sama status mahasiswa yang melekat. Mahasiswa juga perlu hiburan macem anak PAUD gini haha.

Perjalanan dari puncak satu sampai pos tiga cukup jauh dan gak ada tempat berteduh. Karena Gunung Guntur ini gak punya atap alias gunung gundul, jadi kalau mau istirahat harus cari pohon yang agak tinggi. Setelah melalui drama sosorodotan tanpa ampun, sampailah kita di pos tiga. Banyak banget yang mendirikan tenda disini. Udah kayak tenda pengungsian saking banyaknya baju yang digantung diantara tali-tali tenda dan orang-orang yang masak depannya. Kita istirahat sebentar disini, ngelurusin kaki, dan ngelurusin hati yang mulai bengkok. Plis jangan baper, minta ditimpuk carrier lagi.

Lanjut ke curug citiis untuk menyegarkan badan. Didekat curug ini ada warung, jadi jangan khawatir kalau misalnya kehabisan makanan atau minuman. Kebayang gak sih effort bawa barang dagangannya kesini? Jarak curug citiis ke pemukiman warga jauh banget loh. Bawa diri aja udah ngos-ngosan. Semoga bapak ibu akang teteh yang jualan disini mendapat rezeki dan keberkahan yang melimpah ya. Aamiin.

Perjalanan pulang ini gak kalah seru dengan berangkatnya. Bedanya waktu berangkat kita mendaki malem dengan drama jarak pandang yang gak jelas, pulangnya siang panas mentereng yang membuat sebagian kulit tanganku gosong sampai sekarang. Jadi sebelum mendaki disarankan pakai sunblock dan sarung tangan supaya terik mataharinya gak langsung menyentuh kulit.

Perjalanan belum usai, masih harus melewati trek-trek yang menguji keshabaran. Karena waktu berangkat gak lewat jalur ini, jadi kita gak tau sampai dimana ujungnya. Setelah lewat hutan yang gak terlalu rimbun kita melewati jalan mendatar yang cukup lebar, kayaknya sih ini jalur truk pengangkut pasir. Aku udah mulai sempoyongan dan gak seimbang. Berkali-kali tisereleu walau gak sampai jatuh. Beruntung ada teman-teman yang berbaik hati menolong selama perjalanan pulang. Da aku mah apa atuh tanpa kalian.

Setelah melalui perjalanan panjang, akhirnya kita sampai di basecamp jam setengah empat sore. Langsung bersih-bersih dan istirahat. Mengingat Bapak (yang lupa namanya) udah jemput, jadi kita langsung naik-naikin barang kedalam mobil. Dan teman-teman yang lain pulang ke kotanya masing-masing.

Kebersamaan kita gak berakhir sampai disini, masih banyak perjalanan lain yang pastinya gak kalah seru. Guntur memberikan banyak pelajaran berharga padaku, tentang waktu, tentang syukur, tentang shabar, tentang jiwa-jiwa penolong, dan tentang ke-Maha Besar-an nya yang tiada ujung.








1 comment: