20 March 2016

Belajar dan Sadar Bersama Eco Learning Camp


Di halaman Eco Learning Camp
Eco Learning Camp adalah sebuah organisasi dibawah Yayasan Sahabat Lingkungan Hidup yang mengajak kita untuk back to nature. Menurut sejarahnya, organisasi ini didirikan untuk mengembangkan aktivitas edukasi, konservasi, riset, dan pengembangan komunitas serta berbagai aktivitas kreatif lainnya yang berbasis lingkungan. Melalui partisipasi tiga pihak dari badan milik pemerintah, asosiasi perguruan tinggi, dan badan usaha swasta, dilakukan pengelolaan dan perawatan 526 hektar area yang menjadi pusat taman hutan tropis warisan dunia. Eco Learning Camp di Bandung ini adalah model pengembangan untuk kawasan hutan lain. Menurut Thomas Frey dari Da Vinci of Institute, di masa depan learning camp akan bermunculan dan menjadi suatu cara baru dalam edukasi.

Aku sendiri baru mengetahui keberadaan Eco Camp setelah mendapat tugas mata kuliah kewirausahaan. Beberapa kali melewati Eco Camp tapi gak pernah ‘ngeh’ karena tujuan ke daerah ini kalau gak ke Tahura, ya Tebing Keraton hehe. Berdasarkan tugas yang diberikan oleh Pak Tono, dosen kami, disini kami akan belajar tentang bagaimana caranya membuat media tanam menggunakan mikroba. Tapi ternyata ilmu yang didapatkan lebih dari itu. Kami mendapat kesadaran baru tentang back to nature yang disebut dengan 7 Kesadaran Baru Hidup Ekologis. Gak hanya mahasiswa, siapapun bisa belajara disini. Dari mulai anak-anak PAUD sampai orang dewasa.

Sebelum mengenal lebih jauh tentang 7 Kesadaran Baru Hidup Ekologis, aku dan teman-teman diajak untuk melihat bagaimana cara membuat media tanam yang dibimbing oleh Pak Budi. Bahan-bahan yang diperlukan adalah sampah organik, kohe (kotoran hewan), tanah, bibit tanaman, poly bag, dan mikroba. Sedangkan, cara membuatnya adalah:
1. Campurkan sedikit mikroba dengan sampah organik. Kalau sampahnya sedikit, cukup tambahkan mikroba sebanyak satu tutup botol.
2. Masukan sampah yang sudah dicampurkan dengan mikroba tadi ke dalam poly bag.
3. Masukan kotoran hewan diatas sampah.
4. Letakan bibit tanaman yang akan ditanam.
5. Terakhir, tambahkan tanah untuk menutupi kotoran hewan.
6. Lakukan terus menerus kalau sampah dan kotoran hewan sudah mulai menyusut volumenya.

Pak Budi sedang mendemokan membuat media tanam
Alat dan bahan membuat media tanam

Simple banget kan? Bisa di praktekan di rumah masing-masing untuk menanam sayur-sayuran semacam sawi, tomat, cabe, dan lain sebagainya. Alat dan bahan mudah didapatkan. Hanya menambah tugas untuk memisahkan sampah organik dan non-organik. Selain itu, sayuran yang dihasilkan akan lebih sehat dibandingkan dengan sayuran di pasar yang menggunakan bahan kimia. Aku tertarik mencoba dirumah yang memiliki lahan hijau terbatas.

Selanjutnya materi disampaikan oleh Pak Adi. Bumi adalah satu-satunya tempat tinggal manusia. It’s not just a planet, it’s a home. Bumi yang kita singgahi ini idealnya menampung 4.8 milyar manusia (dengan segala kebutuhan manusia yang terpenuhi), tapi faktanya sampai tahun 2015 bumi kita ditempati oleh 7.3 milyar manusia. Untuk mencapai ideal perlu tambahan 1.5 bumi lagi.

Fakta lain, terjadinya global warming ternyata sebagian besar disebabkan oleh industri peternakan. Industri peternakan menyumbang 18% pemanasan global, presentasi ini lebih tinggi dibandingkan transportasi yang menyumbang 13% pemanasan global.

Pak Adi sedang menjelaskan tentang 7 Kesadaran Baru Hidup Ekologis
Serius amat wajahnya, Bu?
Itu artinya, sebagai manusia kita harus benar-benar menjaga bumi. Karena manusia yang membutuhkan bumi, bukan bumi yang membutuhkan manusia. Untuk menjaganya, perlu kesadaran yang datang dari dalam diri manusia itu sendiri. Kesadaran tersebut terangkum dalam 7 Kesadaran Baru Hidup Ekologis versi Eco Camp.

1| Berkualitas
Berkualitas berarti mampu mengolah kelemahan. Kualitas akan memacu kita terus belajar menjadi lebih baik. 

2| Sederhana
Sederhana berarti tidak berlebihan dalam makan, kepemilikan, belanja, dan pola pikir. Aku pernah mendengar sebuah pernyataan, ‘Yang bikin mahal itu bukan biaya hidup, tapi pola hidup’. Betul sekali, semakin sederhana akan semakin bijaksana dalam menjalani hidup.

3| Hemat
Hemat itu berbeda samasekali dengan pelit. Hemat berarti menggunakan seperlunya dan tidak berlebih-lebihan. Eco Camp punya sebuah tagline baru, kalau biasanya yang kita dengar adalah ‘hemat pangkal kaya’ maka versi Eco Camp adalah ‘hemat pangkal selamat’. Kenapa? Karena ‘hemat pangkal kaya’ cenderung egosentris (mementingkan diri sendiri), sedangkan ‘hemat pangkal selamat’ cenderung ekosentris (turut memikirkan orang lain).

4| Peduli
Peduli artinya tidak mementingkan diri sendiri, memperhatikan orang lain dan lingkungan.

5| Semangat Berbagi
Peduli akan melahirkan semangat berbagi. Disini kami banyak disuguhkan video inspiratif dan tentunya menyadarkan.

6| Bermakna
Teringat sebuah hadis Rasulullah saw yang berbunyi, “Khairunnaas anfa ‘uhum linnas” yang artinya, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain.” Apapun yang kita lakukan tidak ada artinya tanpa sebuah kebermaknaan. Kebermaknaan untuk diri sendiri, orang lain, tumbuhan, hewan, dan lingkungan sekitar.

7| Harapan
Harapan adalah motivasi agar kita selalu melakukan yang terbaik.

Pasti banyak ujian untuk mengaplikasikan 7 kesadaran tersebut, katanya. Diantara racun yang menghalangi kita berbuat kebaikan adalah: 1) Malas; 2) Tidak Peduli; dan 3) Menunda dan Beralasan. Teringat sebuah ayat, Allah swt berfirman:
“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri.” (QS. Al-Israa’ : 7)
Disini kami disuguhkan banyak video tentang kerugian-kerugian yang disebabkan oleh kejahatan manusia terhadap bumi. Seperti makhluk laut yang tidak bisa hidup nyaman karena sampah-sampah yang dibuang manusia ke laut, tanah yang sudah rusak karena tercemar bahan kimia dan ditutupi beton-beton yang menyebabkan banjir, dan masih banyak kasus lain yang disebabkan oleh kejahatan manusia.

Fyi, Eco Camp ini sudah menggunakan solar panel energy dimana sebagian besar listrik yang digunakan berasal dari tenaga matahari. Selain itu, Eco Camp ini memanfaatkan air hujan untuk kebutuhan air sehari-hari yang diolah menggunakan alat-alat yang mereka buat.

Dear, benar sekali firman Allah swt tersebut. Apapun yang kita lakukan akan kembali kepada si pelaku. Oleh karena itu berbuat baiklah dengan mulai dari diri sendiri, mulai dari yang terkecil, dan mulai saat ini.

“Tidak ada peran kecil, tidak ada peran besar, semuanya berperan!” –Pak Adi, Eco Camp

Mulai dari yang terkecil, cuci piring sendiri setelah makan
Di halaman Eco Learning Camp
Foto bersama Pak Dosen usai kegiatan. Wajib, tetep. Tebak, yang mana coba Bapak Dosen nya? ;)


--

Where
Yayasan Sahabat Lingkungan Hidup (Eco Camp)
Jl. Pakar Barat (Dago) No. 3 Bandung 40198
Telephone/Fax +62 22 251 7647
Mobile +62 818 0953 0395

Information
Informasi program, biaya, dan lain sebagainya silahkan kunjungi www.ecolearningcamp.org 


Referensi: ecolearningcamp.org

6 comments:

  1. izin nebak ya.. saya kira sosok laki - laki yang pake kacamata paling kanan

    ReplyDelete
  2. ayooo tia mulai menanam yukk, udah diajarin kan hehe

    ReplyDelete
  3. ilmu baru nih. Aku suka poin,Yang bikin mahal itu bukan biaya hidup, tapi pola hidup’. soalnya kalau dipikir-pikir emang iya. apalagi kalau konsumtif.

    ReplyDelete