27 January 2016

Tentang Wanita dan Peran Yang Dipilihnya


Sering tidak mendengar perdebatan antara wanita yang memutuskan menjadi ibu rumah tangga full time in home dengan wanita yang memutuskan membagi waktunya dengan bekerja diluar rumah? Aku sering sekali membaca perdebatan tentang ini dan masing-masing merasa paling benar dengan keputusannya.

Dari sudut pandangku sebagai wanita yang belum berumah tangga, aku berpikir apa yang harus dipermasalahkan? Toh setiap wanita memiliki alasan masing-masing, selama alasan itu baik, tidak merugikan, dan mereka mendapatkan ridho dari suaminya.

Disini aku ingin mengutip tulisan dari dua pakar parenting dan pernikahan.

1 | Nazrul Anwar

"Kalau nanti saya nikah, saya sih pengennya punya isteri ibu rumahtangga. Biar bisa fokus ngurus keluarga dan anak-anak."

Boleh, bagus kok. Tapi jangan kejebak sama posisi ibu rumahtangga atau wanita karirnya. Jangan lupa kalo perempuan juga manusia yang butuh aktualisasi diri. Ada yang cukup mengaktualisasikan dirinya di rumah, ada juga yang tidak cukup. Ibu atau isteri yang baik itu bukan masalah posisi kok, bukan masalah ibu rumah tangga atau wanita karir. Tapi tentang peran dan tanggungjawab. Ibu atau isteri yang baik, ya mereka yang bisa menjalankan peran dan tanggungjawabnya dengan baik pula.

Dan jangan lupa, keluarga dan anak-anak adalah output, dimana output yang baik, biasanya dihasilkan dari input dan proses yang juga baik. Input informasi, pengetahuan, sudut pandang, pengalaman, kematangan, yang biasanya, input-input tersebut lebih banyak tersedia di luar rumah. Tinggal di dalam rumah dikomunikasikan dan dimusyawarahkan, bagaimana memastikan agar proses yang di luar rumah tersebut adalah proses yang baik. Jadi sekali lagi, fokus aja gimana caranya agar bisa menjalankan peran dan tanggungjawab dengan baik. Bukan ribet pada posisi sebagai ibu rumah tangga atau wanita karir. 

2 | Kiki Barkiah 

Point pentingnya bukan apakah ibu memilih menjadi ibu rumah tangga atau wanita karir, point pentingnya apakah anaknya diasuh dan dididik dengan ikhtiar terbaik atau tidak. Keselamatan jiwa raga anak itu juga tidak dijamin oleh keberadaan ibu mereka disampingnya, tetapi bagaimana Allah ridho untuk memberikan keselamatan jiwa dan raga pada anak-anak kita. Nah tugas kita kan sejauh mana ikhtiar kita untuk membuat Allah ridho memberikan kita karunia berupa anak-anak sholeh yang selamat di dunia dan akhirat, yang bahagia di dunia dan akhirat. Ada yang ikhtiarnya bisa dipersembahkan dengan berada di rumah, atau ada juga yang bisa dilakukan sambil bekerja, atau bahkan justru keridhoan Allah itu muncul karena kebermanfaatan kita di luar rumah.

Sudah saja tidak usah mempermasalahkan ladang surga orang lain, mari kita fokuskan diri bahwa apa yang ada dihadapan kita adalah ladang surga kita. Yang sedang hamil dan melahirkan, bagaimana hamil dan melahirkannya mampu meningkatkan derajat taqwa dan semakin mendekatkan ke surga, yang sedang jadi IRT bagaimana peran IRT nya mampu membawa kita ke surga, yang sedang sekolah bagaimana ilmunya mampu memasukkan kita ke surga, yang sedang usaha bagaimana usahanya mampu memudahkan kita menuju ke surga, yang sedang berkarir bagaimana karirnya mampu meningkatkan derajat di surga. Yuk ah kita fokus aja sama ladang surga masing-masing, karena kita hanya bisa mengerjakan apa yang menjadi bagian kita saat ini, sementara yang diluar kesanggupan kita, biar Allah saja yang menyelesaikannya.

--

Aku sendiri belum tahu, setelah menikah nanti akan full time di rumah atau bekerja diluar rumah. Setiap wanita idealnya menginginkan keduanya, mengurus keluarga namun tetap bisa berkarya dan bermanfaat bagi ummat. Bagiku, mau seperti apapun perannya tetap lakukan yang terbaik. Karena di mata Allah yang membedakan bukan tentang ibu rumah tangga atau ibu bekerjanya, melainkan ibu yang taat pada Allah.

Selamat menjalankan peranmu, para wanita!

6 comments:

  1. apapun yang dipilih nanti jangan sampai melewati batas kodrat sebagai wanita ya tia

    ReplyDelete
    Replies
    1. Siap Mbak. Aku suka salut sama Mbak Ev, tetep menomorsatukan keluarga tapi kerja dan aktivitasnya juga oke.

      Delete
  2. Pilih yang terbaik. Hanya kita yang tahu apa yang terbaik untuk diri sendiri :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju Mak, sebetulnya kita yang punya keputusan dan tau mana yang terbaik

      Delete
  3. Sama mbak. Saya juga nggak bakal tau kedepannya saya akan full time di rumah atau berkerja. Tapi intinya tetap ingin menjadi madrasah buat anak-anaknya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju, peran utama seorang wanita setelah menikah adalah madrasatul ula

      Delete