28 September 2015

Review Film: Everest

Sumber gambar klik disini
Kesimpulan pertama saya setelah nonton film Everest adalah: Gak deh naik Everest. 

Lagi pula siapa yang mau ngajak saya pergi kesana, berkhayal banget itu mah hehe. Ini kan umpamanya. Kalau sekedar memandanginya dari kaki gunung sih gak masalah, tapi untuk diuji adrenalinnya mendaki Everest sampai ke puncak rasanya saya gak sanggup. Ah, kalah sebelum berperang namanya. Tapi film ini berhasil membuat saya memberi cap Gunung Everest itu selain indah adalah, kejam.


Buat para mountainer yang cinta banget naik gunung film ini pas untuk dikonsumsi. Dari segi visual, film Everest terbilang sangat bagus. Sensasi salju, dingin, dan berada di puncak Everest nya seperti nyata. Gunung yang mempunyai tinggi 8.848 meter diatas permukaan laut ini menjadi salah satu gunung paling berbahaya di dunia. Tapi, hal itu gak mengurungkan beberapa pendaki untuk menghentikan langkah kakinya agar sampai ke puncak gunung Everest.

Berawal dari Khatmandu-Nepal, semua anggota berkumpul untuk melakukan pendakian panjang selama kurang lebih satu bulan. Mereka datang dari berbagai macam latar belakang dan dengan jam terbang mendaki yang sudah mumpuni tentunya. Tujuan mereka 1 yaitu menaklukan Everest.

Kenyataannya, pendakian tim Adventure Consultan gak berjalan mulus karena dihadapkan dengan cuaca extreme yang berubah-ubah, medan pendakian terjal tanpa ampun, dan longsoran salju yang menambah tantangan saat mendaki. Ada yang hampir menyerah dijalan, ada yang pingin balik lagi karena gak sanggup, tapi lebih banyak yang punya mental kuat untuk sampai di puncak Everest. Salah satunya Yasuko. Dia adalah perempuan satu-satunya dari tim Adventure Consultant yang berhasil sampai puncak dan menancapkan bendera Jepang disana. Itu bikin merinding banget. Masing-masing pendaki punya cerita tersendiri. Ada Doug yang keukeuh pingin sampai puncak padahal kondisi tubuhnya udah gak baik, ada Beck yang tiba-tiba kehilangan pengelihatannya dan ditinggal sendirian di puncak selatan Everest. Harus nonton langsung filmnya supaya lebih ngena.

Selain itu, dua jempol untuk sang ketua tim Rab Hall (Jason Clarke) dalam membimbing anggotanya, karna gak jarang Rab Hall dihadapkan dengan situasi sulit yang mendesaknya untuk mengambil sebuah keputusan. Juga semangat tim Adventure Consultant yang berapi-api. Jadi selain tenaga yang prima, semangat dan support satu sama lain itu gak kalah penting.

Karena based on true story, terasa banget sedihnya ketika satu per satu nyawa direnggut oleh kejamnya Everest. Saya gak bisa bayangin gimana keluarga yang ditinggalkan saat itu. Jadi tujuan mendaki itu sebenarnya bukan sampai puncak, tapi kembali ke rumah dengan selamat, sehat, gak kurang satu apapun.

Oh iya saya sempat berpikir, apakah shootingnya dilakukan langsung di Everest? Karena setting tempat yang benar-benar seperti nyata. Setelah cari informasi ternyata hanya beberapa scene yang mengambil setting tempat langsung di Everest, yaitu di Base Camp 1 Everest. Selebihnya mengambil beberapa tempat seperti Pegunungan Santa Monica di Amerika, Dolomites di Italia, dan Iceland.

Kalau di score saya kasih 8.5 dari 10. Recomended film.
Jon Krakauer (salah satu anggota tima yang selamat) mengaku tak pernah dihubungi oleh siapa pun oleh tim produksi film mengenai pengalamannya saat mengikuti pendakian Gunung Everest pada tahun 1996 tersebut. Jon juga secara khusus menyebut bahwa aktor Michael Kelly tak pernah sekalipun menghubunginya, meskipun Kelly lah yang memerankan karakter dirinya. Film Everest hanya mengangkat kembali kisah tragedi pendakian Everest tahun 1996 dengan sumber dari keluarga korban dan pihak lain yang terkait tanpa mengikutsertakan isi buku Into Thin Air. (Sumber : forumhijau.com)
Saya bukan mountainer holic, tapi buat sensasi menegangkan, menyedihkan, menyenangkan, terharu, dan mengesankan semua ada di film Everest.

15 comments:

  1. Kata adek saya juga, film ini bagus. Meskipun belum nonton, saya gak kepikiran dr awal buat daki gunung everest. Gak berani ey... :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jangankan Everest, Rinjani aja yang 3.726 mdpl kayaknya mesti mikir-mikir dulu hehe

      Delete
  2. Dulu mantanku pendaki gunung..skr dia masih aktif mnedaki gunung , malah bergabung ama wanadri dan kmrn itu smper naklukin 7 summit dunia..dia srg cerita mba, gmn kejamnya gunung slama pendakian tp ttp aja, ampe skr dia cinta mati ama gunung :) Kalo emg udh jodohnya, kyknya susah kali ya dipisahkan :D.. tp bnr deh, aku aja serem kalo udh dgr ceritanya... baru2 ini aja puncak carlsten Papua yg baru dia dan temen2nya taklukin..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Keren banget temen Mbak itu. Buat yang udah jatuh cinta sama mendaki gunung mah mau sesulit apapun pasti bakal ditaklukin ya. Makasih udah mampir Mbak :)

      Delete
  3. kalau menurut saya sama-sama film tentang naik gunung, Everest masih jauh ama Vertical Limit. Salam kenal mbak, blognya sudah saya follow ya

    ReplyDelete
  4. aku seneng naik gunung mbak. Tapi kalo everest... gak deh hahhaaha.. Masih sayang nyawa dan duit *elus celengan ayam*
    seru banget nih kayaknya.. harus nonton inih XDDDDD

    ReplyDelete
  5. Penasaran sm film nya....sudh lm pgen naik gunung...tp blum kesampaian hiks

    ReplyDelete
  6. Penasaran sm film nya....sudh lm pgen naik gunung...tp blum kesampaian hiks

    ReplyDelete
  7. aku gak mau baca reviewnya dulu soalnya belum nonton, rencananya jumat mau nonton

    ReplyDelete
  8. pengen nonton, tapi kayaknya setipe sama film Vertical Limit deh. btw, semoga ada yg ajakin ke Everestnya ya, mba. amin! hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tapi seruan vertical limit sih teh. Lebih menegangkan gt hehe

      Delete
  9. Kemaren baru aja nonton dan bagus filmnya :)

    ReplyDelete
  10. uh.... hanya bisa baca review-nya... Secara Mbak Tia di sini gak ada bioskop. Harus nyebrang ke Batam dulu. Hehehe. Lihat trailernya doang. Seru memang. Makasih review-nya Mbak, setidaknya ini sudah menghiburku... hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nunggu tayang di internet ajah mbak nanti bisa diunduh dan di tonton sendiri di rumah, :v wkwwk

      Delete