21 August 2015

Trip Gunung Kerenceng

Teh, nanti tanggal 17 Agustus bantuin lomba anak-anak di komplek ya.
Tia, nanti tanggal 17 bla bla bla.
Teh Tia, nanti tanggal 17 bisa bla bla bla.
Begitulah kalau bertemu hari libur, dibooking sana-sini (sok) sibuk si saya ini *ditimpuk sepatu* Selalu begitu kalau bertemu hari libur, selalu bingung untuk menentukan agenda apa yang akan dilakukan. Tapi pendakian ke Gunung Kerenceng ini udah direncanakan jauh-jauh hari, jadi saya mengambil keputusan yang lebih dulu disetujui, meski sebenarnya lihat situasi kondisi juga. Tapi kali ini sepertinya saya nggak bisa membatalkan pendakian sama teman-teman.


Senin, 17 Agustus udah diwanti-wanti berangkat jam 05.30 tapi apa daya ngaret juga, akhirnya kita berangkat jam 06.00. Sebagian yang lain menyusul ditengah jalan karena udah komitmen dari awal, yang datang terlambat akan ditinggal. Kita touring sekitar 16 motor menuju Cicalengka melalui jalur Cicaheum-Rancaekek-Cileunyi. Lokasinya nggak terlalu jauh dari Curug Cinulang. Dua jam setengah bukan waktu yang sebentar buat lady biker seperti saya, cukup cararangkeul kalau kata orang sunda mah. But, enjoy aja. Setelah berlelah-lelah berkendara sampai juga di Desa Pasir Jambu, kita istirahat sebentar di rumah warga sekalian ikut parkir motor disana. Sebagian sibuk ke toilet, sebagian sibuk ngobrol, sebagian lagi sibuk selfie. Jam 09.00 baru memulai pendakian dengan pembagian tiga kelompok, karena jumlah orang yang lumayan banyak. 

Let's climbbb!
Jalur awal masih bersahabat, masih dikelilingi rindang pohon-pohon, masih bisa ngobrol, ngelawak, dan nyanyi-nyanyi. Satu jam berikutnya, mulai masuk jalur yang sempit, kanan kiri jurang, nanjak terus-terusan, dan panas matahari yang cukup terik, yang membuat kita berhenti ngobrol. Karna kalau ngobrol sambil mendaki bisa menguras energi lebih banyak. Jadi inget waktu dulu kenapa selalu dibentak-bentak sama senior kalau naik gunung sambil ngobrol, ya mungkin itu alasannya.

Ini jalurnya masih bersahabat
Berhenti beberapa kali sambil cari spot yang nyaman buat istirahat. Karena jalur yang sempit, kanan kiri jurang, dan panas yang cukup menyengat jadi agak sulit juga cari tempat luas buat istirahat, jadi kita bergantian. Jadi kapan sampainya? Darisini sih puncaknya udah kelihatan dekat, mungkin beberapa menit lagi. Tapi kok nggak sampai-sampai ya. Kalau naik gunung mah jangan mikirin kapan sampainya, maju aja Ti. Baiklah perjalanan masih panjang. Jalurnya semakin sulit dan panasnya semakin menyengat.

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua jam setengah, sampai juga di (kaki) puncak. Puncaknya udah kelihatan, tapi mesti bergantian dengan rombongan lain jadi kita tunggu dibawah sambil makan siang. Luas puncaknya hanya sekitar 4 x 5 meter, cukup untuk 10-15 orang saja.

Menunggu rombongan lain turun dari puncak
Jalur menuju puncak cukup sulit karena melewati jalan setapak dengan jurang di kanan-kirinya. Ditambah batu besar yang menghalangi jalan dan pinggiran tanah yang sedikit gembur. Lengkap sudah tantangannya. Tapi seru banget melewati itu semua. Di ketinggian kurang lebih 1754 mdpl kita bisa melihat gunung-gunung yang lainnya, diantaranya Gn. Ciremai, Gn. Cikurai, Gn. Papandayan, Gn. Gede-Pangrango, Gn. Burangrang, Gn. Tangkuban Perahu, Gn. Palasari, Gn. Tampomas, Gn. Kareumbi dan beberapa gunung lainnya. Nggak hanya gunung, kita juga bisa melihat jalur setipis rambut itu dari puncak Krenceng. Memang gunung ini tidak setinggi gunung-gunung yang lainnya, gunung ini lebih cocok untuk mereka yang menyukai pendakian seorang diri, navigasi, atau sekedar refreshing. Nggak ketinggalan foto-foto dan ngibarin bendera merah putih di puncak biar kekinian :D
Mt. Kerenceng 1754 mdpl
Dirgahayu Indonesia-ku!
Dirgahayu Indonesia Yang Ke-70!
Tujuh puluh tahun sudah meninggalkan sejarah kelam yang menyesakkan jiwa dan raga. Semoga semakin bijaksana mengambil keputusan, menjadi tempat yang nyaman untuk rakyatnya, menjadi tempat yang berkah untuk disinggahi. Indonesia kaya loh, kaya banget malah. Kaya alam-nya, kaya manusia-nya, kaya segala-galanya. Ayo isi kemerdekaan dengan menjadi manusia yang lebih baik lagi.

Begitulah catatan akhir perjalanan ke Gunung Kerenceng Cicalengka, meski lelah semoga menjadi penambah syukur kalau kita masih bisa berjalan dan melihat ciptaan-Nya yang sungguh luar biasa. Merdeka!

2 comments:

  1. Episode ini mah saya gak ngerasain bareng2, soalnya naik turun jadi sweeper. Hiks.

    ReplyDelete
  2. Seru kakak ceritanya.
    Ngomong-ngomong jalur pendakian awalnya dari mana kakak!!!...

    ReplyDelete