31 July 2015

Review Film: Surga Yang Tak Dirindukan

Tak ku simpan rahasia pada hawa, meski tak juga ku ceritakan semua
Bahwa padanya, hanya ada sedikit cinta -Asma Nadia
Setelah sukses dengan film Assalamu'alaikum Beijing, novel Asma Nadia kembali diangkat ke layar lebar dengan judul sama yaitu Surga Yang Tak Dirindukan. Tayang awal lebaran 2015 dan sampai saat ini masih bertahan di jajaran bisokop seluruh Indonesia. Masih bertema tentang cinta namun kali ini lebih mengharu biru.


Kemarin sore saya meluncur ke BTC XXI untuk nonton Surga Yang Tak Dirindukan. Sampai bioskop udah gak pikir-pikir lagi mau nonton film apa, langsung pesan dua tiket nonton dan kebagian di kursi sebelah kiri karena kursi di bagian tengah udah penuh. Begitu masuk theater, film udah diputar sekitar sepuluh menit yang lalu. Kita datang terlambat karena jam tayangnya pas-pasan dengan jadwal sholat maghrib jadi cari mushola dulu buat sholat maghrib. Di dalam tas udah siap-siap minuman, cemilan, sama tissue (efek baca testimoni orang-orang yang nangis bombay nonton film ini). 



Diawali dengan hadirnya Prasetya (Fedi Nuril) dan Arini (Laudya Chintya Bella) yang diam-diam saling mengagumi satu sama lain. Kisah cinta mereka dimulai ketika keduanya bertukar nomor handphone. Arini sangat menyukai dongeng dan anak kecil, hari-harinya dihabiskan untuk mengajar, mendongeng, dan menulis. Sedangkan Pras sangat menyukai dunia arsitek dan bersama kedua sahabatnya Amran dan Hartono mereka membuat bisnis di bidang arsitek. Singkat cerita, Arini dan Pras menikah lalu dikaruniai putri cantik bernama Nadia. Disini saya masih bertanya-tanya dengan sosok si "Peri Jahat" yang disebutkan Nadia dalam thrailer film.

Arini merasa pernikahannya dengan Pras adalah pernikahan yang ideal. Dimata Arini, Pras adalah laki-laki yang setia. Begitu pula dengan Pras yang berjanji tidak akan pernah mengecwakan Arini. Namun takdir berkata lain, ujian mulai menghampiri hubungan rumah tangga mereka ketika Pras menolong seorang wanita yang mau bunuh diri bernama Meirose (Raline Shah). Kehidupan Meirose hancur setelah ayahnya pergi entah kemana, ibunya hobi ganti-ganti pasangan, kekasihnya meninggalkan Meirose tepat dihari pernikahan mereka, padahal ia sedang mengandung. Tidak ada pilihan lain, Meirose bunuh diri! Tapi aksi bunuh dirinya berhasil digagalkan oleh Pras.

Nah bagian ini bikin saya greget, saat Pras menolong Mei yang mau loncat dari gedung Rumah Sakit. Pras bingung mau berbuat apa disaat Mei keukeuh melancarkan aksi bunuh dirinya. Mei yang menganggap "semua laki-laki sama" membuat Pras terpaksa berjanji untuk menikahinya. Aduh nolong mah nolong aja Pras gak usah pake janji mau nikahin segala! Penonton mulai emosi nih hehe. Entah, mungkin tidak ada pilihan lain saat itu. Pras menginginkan bayi yang ada di kandungan Meirosse tidak mengalami nasib yang sama seperti dirinya. Bayang-bayang ibunya yang mati karena bunuh diri didepan mata kepalanya sendiri membuat Pras bersikukuh menolong Meirosse.

Daaaan terjadilah pernikahan antara Pras dengan Mei. Itu baru prolognya aja loh..

Yang namanya bangkai mau ditutupi serapat apapun pasti tercium juga. Arini yang mengetahui hal ini rapuh seketika. Dongeng yang dibangunnya hancur, Surga Yang Tak Dirindukan selama ini ternyata ia alami bersama Pras. Entah siapa yang salah, Pras? Mei? Atau bahkan Arini? Yang jelas tinggal pengorbanan dan kekuatanlah yang menjadi pilihan, sekuat apapun kita menembus dinding takdir itu.
Tak ada wanita yang benar-benar ikhlas berbagi. Yang ada hanyalah sebuah pengorbanan. -Meirose
Ya, tak ada wanita yang benar-benar ikhlas berbagi. Setiap wanita pasti tidak pernah menginginkan ujian semacam ini, begitupun dengan saya. Tapi disini cinta diuji, cinta pada pasangan, pada anak, dan terutama cinta pada Allah. Cinta berasal dari Sang Pemberi Cinta, maka kembali pada-Nya adalah satu-satunya obat paling ampuh. Selanjutnya biar tangan-Nya yang berperan menata kembali kehidupan kita *nangis kejer*
Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah shabar dan sholat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS. Al-Baqarah : 153)
Saya jadi memiliki sudut pandang baru tentang shabar dan ikhlas. Shabar benar-benar tak memiliki batas, meski kita sering mengeluh "Shabar itu ada batasnya!" Dan ikhlas tak bisa terdeteksi kadarnya, ia hanya bisa diwujudkan dengan perbuatan.

Ah, benar-benar mengharu biru, megaduk emosi dan perasaan. Apalagi bahasan poligami adalah bahasan paling sensitif bagi para wanita. Akhirnya saya ingin mengucapkan terimakasih kepada Bunda Asma Nadia atas karyanya yang lagi-lagi luar biasa ini. Selalu ada pesan dan nilai kebaikan yang tersirat didalamnya. Sukses untuk Bunda Asma, saya selalu menunggu karya-karya Bunda selanjutnya.


6 comments:

  1. Saya juga emosi pas bagian meirose tetap berusaha bunuh diri. Dan tiba2 pras teriak janji nikahin dia. Aaaaa.. pras pras..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kenapa Pras bisa kepikiran begitu ya? Tapi berhasil ngaduk2 emosi banget.

      Delete
  2. Pengen nonton juga. Tapi di sini nggak ada bioskop. Hihi

    ReplyDelete
  3. persis ceritanya yg gw alamin sekarang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah bisa sama persis gitu. Kalau Mas Yudha endingnya gimana nih?

      Delete