9 July 2015

Pesona I'tikaf di Masjid Habiburrahman Bandung

Image source click here
Aku mengetahui Masjid Habiburrahman ketika masih berseragam putih abu. Waktu itu kakak tingkat di organisasi mengajakku untuk mabit disini. Lokasinya sangat dekat dengan Bandara Husein Sastranegara Bandung, tepatnya di Jl. Kapten Tata Natanegara, Bandung, Jawa Barat. Kalau dari arah Cimahi cukup naik angkot jurusan Cimahi-Stasiun turun di lampu merah pertama Jl. Pajajaran lalu berjalan kaki sekitar 20 menit. Karena jauh dari jalan utama yang dilalui kendaraan umun, untuk menuju Masjid Habiburrahman lebih baik menggunakan kendaraan pribadi. Kalau Bulan Ramadhan seperti ini, Masjid Habiburrahman tidak pernah sepi jamaah, apalagi di sepuluh malam terakhir Ramadhan. 


Pertamakali i'tikaf disini aku dibuat bingung dengan pemandangan tenda-tenda dome yang berjajar di pelataran Masjid. Awalnya aku berpikir, ini mau i'tikaf apa camping? Kenapa orang-orang pasang tenda disini? Sepanjang perjalanan dari pintu masuk menuju Masjid utama aku sibuk memperhatikan tenda-tenda, para pedagang, dan ratusan orang yang seliweran disekitar sini. Sambil masih bertanya-tanya dalam hati apa maksudnya. Kakak tingkat yang mengajak kesini sepertinya berhasil menangkap ekspresi kebingungan dari raut wajahku.

"Kenapa? Aneh ya?"
"Cuma bingung aja, Teh."
"Ini tenda-tenda jamaah yang i'tikaf penuh 10 hari tanpa pulang ke rumah. Biasanya satu tenda berisi satu keluarga."
"Subhanallah ya Teh sampe seperti itu."

Pemandangan seperti ini sangat tidak asing di Masjid Habiburrahman Bandung. Banyak jamaah berdatangan dari berbagai penjuru Bandung bahkan dari luar daerah demi menikmati 10 terakhir Ramadhan. Luar biasa perjuangannya. Kapan-kapan (kalau sudah berkeluarga) aku ingin coba seperti ini. Tapi untuk sekarang, aku lebih memilih i'tikaf di dalam mesjid saja. Tapi di dalam Masjid juga penuh sesak. Kalau datang terlalu malam, bisa-bisa tidak kebagian tempat, apalagi di malam-malam ganjil.

Image source click here
Image source click here
Selain tenda-tenda yang berjajar rapi di pelataran Masjid, pesona lain i'tikaf di Masjid ini adalah Qiyamul Lail nya. Kenapa? Pertamakali i'tikaf disini tubuhku kaget bukan main, esok harinya langsung hibernasi karena tidak terbiasa sholat lebih dari satu jam lamanya. Agenda i'tikaf disini sholat tarawih mulai bada isya sampai jam 21.30/22.00 malam, lalu istirahat tidur sampai jam 00.00. Pukul 00.30 mulai tahajjud hingga pukul 03.30/04.00 pagi. Bacaan suratnya sambil khataman Quran, jadi 30 juz dibagi 10 hari menjadi 3 juz per malam. Sholat dan berdiri berjam-jam bukan hal yang mudah ternyata. Sedikit tips supaya tidak mengantuk, sholatnya sambil pegang mushaf dan menyimak bacaan imam. Kajian disini dilakukan selama lima kali, bada subuh, kajian dhuha, bada dzuhur, bada ashar, dan bada isya.

Jangan khawatir masalah sahur, kita bisa pesan kepada panitia usai sholat isya dengan berbagai pilihan menu yang berbeda setiap harinya. Disekitar Masjid pun banyak yang berjualan makanan dan harganya relatif murah. Dari mulai nasi+lauk, bakso, lontong sayur, dsb. Lebih baik sih beli saja disini daripada bawa bekal dari rumah, supaya makanannya masih hangat.

Nah, itu sensasi i'tikaf di Masjid Habiburrahman Bandung yang menurutku cukup unik dibandingkan dengan Masjid lainnya. Suasana seperti itu selalu ditunggu dan dirindukan setiap tahunnya. Ah, tidak terasa sudah memasuki 10 malam terakhir Ramadhan. Allahumma balighna laylatal qadr.. Allahumma innaka afuwun kariim, tuhibbul afwa fa' fuanni..

7 comments:

  1. Saya baru sekali i'tikaf di Habib. Menjadi menarik karena berjejer tenda2. QL di Habib adalah yang terlama yg pernah saya lakukan :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama, Zahra.. QL disini yg paling lama aku lakuin :)

      Delete
  2. Subhanallah merinding kagum melihatnya, saya jauhhh dari itu T_T shalat tarawih saja hanya beberapa rakaat tak selama itu, QL juga tak selama itu, subhanallah orang-orang hebat

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak, apalagi kalau lihat orangtua yg udah sepuh tapi sholatnya full berdiri berjam-jam. Suka malu jadinya :(

      Delete
  3. kalo dulu waktu masih d bandung saya itikafnya di Pusdai :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku pernah satu kali i'tikaf di Pusdai Mak Kania :)

      Delete
  4. Kangen i'tikaf.
    Kapan ya bisa kesana sekeluarga

    ReplyDelete