28 July 2015

Originally Kebab Of Turkey

"Ti, kalau pulang jangan lupa bawa Kebab." 
Pesan yang masuk ke inbox facebook ketika salah satu temanku mengetahui aku sedang berada di Turki. Disaat teman-teman yang lain minta dibawakan foto, gantungan kunci, dompet, dan oleh-oleh lain pada umumnya, temanku yang satu ini malah minta dibawakan kebab. Ya, selain Aya Sofya, Blue Mosque, dan Topkapi, satu hal yang tidak boleh terlewatkan adalah menikmati Kebab. 

Kebab sendiri berarti sebutan untuk berbagai hidangan daging panggang/bakar yang ditusuk memakai tusukan atau batang besi. Makanan khas Timur Tengah ini menurut sejarahnya berasal dari Turki, namun ada juga yang mengatakan dari Arab yang dikenal dengan Kabbeh. Daging yang umum dipakai untuk Kebab adalah daging domba dan daging sapi, atau kadang-kadang daging kambing, daging ayam, ikan, atau kerang. [Ensiklopedia Bebas]
Cara penyajian Kebab antara satu negara dengan negara lainnya berbeda-beda, karena biasanya diadaptasikan dengan kebiasaan setempat atau disesuaikan dengan kondisi masyarakatnya. Kalau di Indonesia, Kebab mudah sekali ditemui di pinggir-pinggir jalan. Dengan menggunakan counter bergerak, para penjaja kuliner menjual Kebab dengan versinya masing-masing. Umumnya menggunakan alat pemanggang atau burner yang ukurannya sudah dimodifikasi. Daging giling yang sudah berbumbu dipanggang dan dipotong tipis-tipis disajikan dengan sayuran dan sauce dibungkus roti pita atau sejenisnya. Selama ini gambaranku tentang kebab Turki ya seperti itu bentuknya. Tapi ternyata berbeda samasekali dengan kebab yang aku jumpai di Turki.

Kebab yang biasa dijumpai di Indonesia
Aku baru menemui Kebab di hari kedua tour ketika makan siang, tepatnya di Hünkâr Akhisar Restaurant di daerah Kusadasi. Disana sudah disiapkan meja untuk rombongan kami, aku dan Jessica segera mengambil tempat duduk paling ujung. Salad, soup, dan air mineral sudah disiapkan disana. Sebelum hidangan utama datang, aku makan salad dan menyeruput soup yang masih panas. Makanan pembuka yang asing sekali bagiku. Tidak menunggu lama, selang menit kemudian beberapa waiters membawakan hidangan utama. Aku penasaran, seperti apa sih Kebab Turki itu? Dan ini dia Kebab pertama yang aku temui di Turki yang disebut Adana Kebab. Adana Kebab disajikan bersama nasi dan roti pita serta potongan tomat dan cabai (kalau di Indonesia bentuknya seperti cabai gendot), jauh seperti bayanganku tentang Kebab. Dagingnya lembut, rempah-rempah khas Turkinya terasa sekali.

Jadi, aku tidak bisa memenuhi permintaan temanku untuk membawanya sebagai oleh-oleh. Mau dibawa bagaimana kalau bentuknya seperti ini, yang ada sudah keburu tidak enak. Kalau ada Kebab instan sih pasti aku bawa, tapi sepertinya aku belum menemukan.

Adana Kebab
Makan siang di Hunkar Akhisar
Kebab selanjutnya aku temukan di Ozkan Restaurant, Cappadocia. Aku dibuat terkejut dengan bentuknya karena bayanganku sama seperti Adana Kebab. Tapi ini lain lagi, empat potongan daging yang dibalut terung disajikan dengan nasi putih. Mereka menyebutnya Islim Kebab. Dagingnya lembut dan sedikit berminyak karena balutan terungnya, namun rempah-rempah Turkinya masih sangat terasa. Kebab-kebab ini tidak selalu disajikan bersama nasi, bisa dengan roti pita atau kentang rebus yang dihancurkan seperti bubur. Rasa penasaranku hilang setelah mencicipi Kebab Turki. Kalau ditanya lebih enak mana antara Kebab Indonesia dengan Turki, jawabannya dua-duanya enak. Karena masing-masing Kebab memiliki ciri khas tersendiri dari bumbu dan bentuk penyajiannya.

Islim Kebab
Ngomong-ngomong, ini postingan pertama setelah libur Idul Fitri. Rindu sekali rasanya setelah lama tidak menulis disini. Mudik yang panjang membuatku tidak menyentuh blog ini samasekali, hanya sekedar blogwalking selama mudik. Maaf lahir batin ya, taqobalallahu minna wa minkum :)

No comments:

Post a Comment