28 July 2015

Blue Mosque dan Keramahan Seorang Ibu

Bermula ketika aku membuka kembali folder foto perjalanan ke Turki akhir tahun lalu, aku merasa tidak bisa move on dari Negara yang berdiri diatas dua benua itu, tentang segala sudut yang aku kunjungi, tentang musim dingin yang aku lewati. Kalau aku jatuh cinta pada Makkah sebelum melihatnya, maka aku jatuh cinta pada Turki setelah melihatnya. Aku benar-benar jatuh cinta semenjak roda pesawat sempurna menyentuh landasan Istanbul yang sedang mendingin.


Adalah sebuah tempat bernama Blue Mosque yang berhasil menguras air mataku. Bukan karena saat itu adalah hari terakhir perjalananku di Turki, melainkan karena rasa syukur yang tidak bisa aku ungkapkan lagi. Ketika adzan dzuhur berkumandang aku segera menuju tempat wudhu. Meskipun tidak seluas Masjid Istiqlal di Jakarta, sebagai orang yang pertamakali kesini aku cukup kebingungan mencarinya. Sementara yang lain masih sibuk berfoto di pelataran Masjid, aku buru-buru agar bisa ikut sholat berjamaah. Ternyata tidak banyak wanita yang sholat berjamaah disini. Hanya satu shaf saja, itu pun tidak penuh. Aku jadi teringat ketika di Ankara, aku tidak menemukan tempat wudhu khusus wanita, space sholat untuk wanitanya hanya cukup untuk empat sampai lima orang. Setelah aku telusuri, ternyata Turki memegang mazhab yang berbeda dengan Indonesia. Di Turki, wanita dianjurkan untuk sholat dirumah saja.

Di depan Blue Mosque
Tempat wudhu Blue Mosque
Pelataran Blue Mosque

Untuk menghormati masjid, wisatawan harus berpakaian sopan saat memasuki ruang masjid. Wanita harus mengenakan kerudung. Penjaga selalu siap mengingatkan di depan pintu masuk. Begitu sampai di dalam, sebagian orang melakukan shalat sunah masjid. Sementara sebagian lain memandang masjid dari bagian shaf belakang. Sebab, bagian depan hanya diperkenankan bagi mereka yang hendak melakukan ibadah sholat.

Sekilas tentang latar belakang dibangunnya Masjid Biru. Sultan Ahmed I membangun Masjid Biru untuk menandingi bangunan Hagia Sophia buatan kaisar Byzantine yaitu Konstantinopel. Hagia Sophia berada satu blok dari Masjid Biru. Hagia Sophia dulunya adalah Gereja Byzantine sebelum jatuh ke daulah Turki Ottoman pada tahun 1453 M. 

Rasanya tidak ada alasan karya arsitek Mehmed Aga yang dibangun pada 1609-1616 ini disebut dengan nama Masjid Biru. Interior Blue Mosque dihiasi 20.000 keping keramik biru  yang diambil dari tempat kerajinan keramik terbaik di daerah Iznik. Kawasan Turki yang terkenal menghasilkan keramik nomor satu berwarna biru, hijau, ungu, dan putih. Karpet sutera yang menutup lantai masjid berasal dari penghasil sutera terbaik dan lampu-lampu minyak yang terbuat dari kristal merupakan produk impor. Banyak terdapat barang-barang dan hadiah berharga di masjid ini, termasuk Al-Quran bertuliskan tangan. Keramik yang menghiasi dinding masjid bermotifkan daun, tulip, mawar, anggur, bunga delima atau motif-motif geometris. Satu hal lagi yang membuatku terkesan, terdapat 260 jendela di dalam masjid ini yang akan membuat siapa saja betah berdiam lama-lama didalamnya.


Takbiratul ikhram tanda dimulainya sholat menggema memenuhi isi ruangan. Semua manusia bertasbih, dinding bercorak Kekaisaran Ottoman seperti bergetar. Aku merasa sangat dekat dengan masa itu, masa dimana Muhammad Al-Fatih menaklukan Konstantinopel. Hari dimana suara takbir menggoncangkan langit Istanbul dan Masjid ini menjadi salah satu saksinya. Usai sholat aku memilih untuk berdiam diri sejenak, menatap langit-langit Masjid yang begitu indah dan kokoh. Tapi aku tidak bisa berlama-lama disini karena rombongan yang lain harus diantar pukul 14.00 menuju bandara. Sebelum melangkahkan kaki aku bersalaman dengan dua orang ibu yang sholat disampingku.

“Assalamu’alaikum warahmatullah.” 
“Wa’alaikumussalaam warahmatullah.”
“Are you from Endonezya?”
“Yes I’m from Endonezya.”
“Saya suka Indonesia dan ingin sekali mengunjunginya.”
“Dengan senang hati, datanglah ke Negeri kami. Saya juga suka Turki, Turki Negeri yang sangat indah. Saya ingin kembali lagi kesini lain waktu.”
“Oh terimakasih.”
“Senang bertemu dengan Ibu. Bolehkah kita foto bersama?”
“Ya tentu saja.”

Bersama dua orang Ibu yang ramah
Aku merasakan keindahan agama ini, meskipun berbeda bangsa dan belum pernah mengenal satu sama lain, kami tidak canggung untuk saling menyapa. Ditambah dengan ucapan salam yang mengandung do’a. Sebuah kalimat yang menginginkan lawan biacaranya dilimpahkan rahmat serta keselamatan, makna yang begitu dalam dari sebuah ucapan salam. Sebelum benar-benar berpisah, Ibu itu merogoh sesuatu dari dalam sakunya, lalu mengambil tanganku dan memberikan sebuah tasbih digital.

“This for you. Nice to meet you.”
“Tesekkur ederim. Nice to meet you too.”
“Bir sey degil."

2 comments: