3 June 2015

Ramadhan Enlightment Moment

Ramadhan sudah di depan mata, semoga kita termasuk orang-orang yang rindu akan kedatangannya. Rindu malam-malamnya, rindu kenikmatan ibadahnya, rindu lebih mendekat dengan-Nya. Sesungguhnya, Rasulullah dan para sahabat selalu mempersiapkan diri menuju Ramadhan jauh-jauh hari, karena Ramadhan begitu spesial. Bulan turunnya Al-Qur'an, penuh rahmat, penuh ampunan.


Euphoria Ramadhan begitu meriah diawal, namun kendor di hari-hari terakhir. Kejadian ini terus berulang setiap tahun. "Selalu seperti ini, kalau saja dari awal ini itu dan sebagainya".Statement itu pun muncul ketika Ramadhan telah berakhir. Hanya sebuah penyesalan yang hadir. Namun kita selalu bisa memperbaikinya. Selagi mau, selagi mampu, selagi masih ada waktu.

Source : Google
Saya mencoba merangkum tausyiah yang disampaikan oleh Ust. Lili Chumedi dan Ust. Roni Abdul Fatah mengenai persiapan Ramadhan. Semoga bermanfaat :)

Ust. Lili Chumedi :

Kita begitu giat beribadah diawal namun sudah merasa bosan memasuki malam ke-20. Apa penyebabnya? Menurut Ust. Lili, semua itu karena orientasi kita adalah pahala. Samasekali tidak salah beribadah karena pahala. Namun akan lebih tepat jika kita beribadah untuk mendapatkan keridhoan Allah swt. Dan yang terpenting dalam ibadah bukan tentang sah, tapi diterima atau tidak. Fokus saja bagaimana caranya agar ibadah kita diterima oleh Allah. Karna sah belum tentu diterima, tapi yang diterima sudah pasti sah.

Ibadah akan terasa nikmat apabila kita ingat akan dosa. Dosa-dosa kita yang begitu menumpuk yang mungkin saja tidak bisa tertebus dengan semua amalan kita. Sadar akan dosa-dosa akan membuat kita jungkir balik ibadah kepada Allah swt. Berharap Allah mengampuni.

Subhanallah, andai kita selalu menjadikan Ramadhan sebagai Ramadhan yang terakhir dalam hidup. Pasti tidak ada niat lain selain Allah, pasti kita fokus untuk mendapatkan keridhoan Allah swt.

Ust. Roni Abdul fatah :

Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka dititikkan dalam hatinya sebuah titik hitam. Apabila ia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat, hatinya dibersihkan. Apabila ia kembali (berbuat maksiat), maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya. Itulah yang diistilahkan “ar raan” yang Allah sebutkan dalam firman-Nya (yang artinya), ‘Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka’.”

Mulai sekarang, kita harus berlatih menjaga diri dari sifat iri, dengki, ujub, tidak ikhlas, dan penyakit hati lainnya. Jauhi maksiat, karena maksiat akan membentuk titik hitam dalam hati. Semakin dibiarkan, tanpa ditaubati, maksiat itu akan menjadi penghalang, hijab antara Allah dengan hamba-Nya. Na'udzubillah.

Ada sebuah kisah seseorang yang tidak pernah bertemu dengan sahabatnya selama 11 bulan. Detik-detik menjelang pertemuannya, pasti orang itu ingin cepat-cepat bertemu. 11 bulan mereka berpisah, sudah pasti ada kerinduan yang hebat disana. Bayangkan jika itu adalah Ramdhan. Apakah kerinduan ini sangat besar? Atau malah biasa-biasa saja?

Ust. Roni menjelaskan beberapa persiapan menjelang Ramadhan :

PertamaI'dad Ruhi Imani, yakni persiapan ruh keimanan.
Orang – orang yang saleh biasa melakukan persiapan ini seawal mungkin sebelum datang Ramadhan. Bahkan mereka sudah merindukan kedatangannya sejak bulan Rajab dan Sya'ban. Dalam rangka persiapan ruh keimanan itu, dalam surah At-Taubah Allah melarang kita melakukan berbagai maksiat dan kedzhaliman sejak bulan Rajab. Tapi bukan berarti di bulan lain dibolehkan. Hal ini dimaksudkan agar sejak bulan Rajab kadar keimanan kita sudah meningkat. Boleh dikiaskan, bulan Rajab dan Sya'ban adalah masa pemanasan (warming up), sehingga ketika memasuki Ramadhan kita sudah bisa bisa menjalani ibadah shaum dan sebagainya itu bak sudah terbiasa

Kedua, adalah I'dad Jasadi, yakni persiapan fisik.
Untuk memasuki Ramadhan kita memerlukan fisik yang lebih prima dari biasanya. Sebab, jika fisik lemah, bisa-bisa kemuliaan yang dilimpahkan Allah pada bulan Ramadhan tidak dapat kita raih secara optimal. Maka, sejak bulan Rajab Rasulullah dan para sahabat membiasakan diri melatih fisik dan mental dengan melakukan puasa sunnah, banyak berinteraksi dengan al-Qur'an, biasa bangun malam (qiyamul-lail), dan meningkatkan aktivitas saat berkecimpung dalam gerak dinamika masyarakat.

Ketiga, adalah I'dad Maliyah, yakni persiapan harta.
Jangan salah faham, persiapan harta bukan untuk membeli keperluan buka puasa atau hidangan lebaran sebagaimana tradisi kita selama ini. Memersiapkan harta adalah untuk melipatgandakan sedekah, karena Ramadhanpun merupakan bulan memperbanyak sedekah. Pahala bersedekah pada bulan ini berlipat ganda dibandingkan bulan-bulan biasa.

Keempat, adalah I'dad Fikri wa Ilmi, yakni persiapan intelektual dan keilmuan.
Agar ibadah Ramadhan bisa optimal, diperlukan bekal wawasan dan tashawur (persepsi) yang benar tentang Ramadhan. Caranya dengan membaca berbagai bahan rujukan dan menghadiri majelis ilmu tentang Ramadhan. Kegiatan ini berguna untuk mengarahkan kita agar beribadah sesuai tuntunan Rasulullah SAW, selama Ramadhan.  Menghafal ayat-ayat dan doa-doa yang berkait dengan perlbagai jenis ibadah, atau menguasai berbagai masalah dalam fiqh puasa, juga penting untuk dipersiapkan.

Semoga persiapan kita mengantarkan ibadah shaum dan berbagai ibadah lainnya, sebagai yang terbaik dalam sejarah Ramadhan yang pernah kita lalui. Aamiin.

1 comment:

  1. aamiin semoga Ramadhan tahun ini lebih baik dari tahun sebelumnya, saya banyak kecolongan di tahun kemarin Tia harus lebih baik lagi di tahun ini

    ReplyDelete