2 May 2015

Melihat Lebih Dekat Buruh Migran

Mengapa bintang bersinar?
Mengapa air mengalir?
Mengapa dunia berputar?
Lihat segalanya lebih dekat
Dan kau, akan mengerti


Mengawali tulisan ini dengan penggalan lirik lagu dari Sherina Munaf. Lihat segalanya lebih dekat, dan kau akan mengerti. Ya, kita tidak akan benar-benar mengerti kalau tidak pernah mengenal. Kita tidak akan benar-benar merasakan kalau tidak pernah peduli. Betapa semua pertanyaan yang ada di dunia ini bisa terjawab kalau kita mau melihat lebih dekat.

Mari sejenak melihat lebih dekat buruh migran. Semoga ini mampu memberikan inspirasi, motivasi, dan pelajaran untuk kita semua. Menggali kisah-kisah hebat dibalik perjuangan buruh migran, bagaimana kita diuntungkan dengan keberadaan mereka, dan tentunya membuka mata kita untuk sama-sama mencari jalan keluar atas segala permasalahan yang terjadi.

Melihat Lebih Dekat, Apa Itu Buruh Migran?
Citra yang terbangun di masyarakat ketika mendengar kata buruh migran adalah merujuk pada hal-hal negatif. Berita yang berdatangan selalu membuat hati meringis. Dari mulai terlantar di Negeri orang, perlakuan yang tidak baik dari majikan, sampai kejahatan yang berkaitan dengan nyawa seseorang. Hingga terbersit dalam pikiran, untuk apa jadi buruh migran? Padahal buruh migran bukan hanya tentang TKI atau TKW semata, buruh (pekerja) migran adalah mereka yang migrasi dari wilayah kelahirannya ke tempat lain dan kemudian bekerja sekaligus menetap dalam waktu yang cukup panjang. Secara kategori, buruh migran dibedakan menjadi 2 tipe, yaitu urbanisasi (internal) dan internasional (luar negeri). Tidak semua memahami definisi buruh migran yang sebenarnya, ini menunjukan kurangnya edukasi yang diberikan kepada masyarakat. Sudah saatnya kita berperan dalam memberikan edukasi tentang buruh migran ini, minimal kepada orang-orang disekitar kita.

Melihat Lebih Dekat, Kisah Hebat Sang Buruh Migran
Angkat topi untuk Heni Sri Sundani. Anak petani miskin di Ciamis ini, sepuluh tahun lalu berangkat ke Hongkong menjadi TKW. Tekadnya, "Berangkat TKW, Pulang Sarjana". Dua tahun pertama untuk adaptasi. Tahun ketiga baru merangkap antara TKW dan Mahasiswi. Empat tahun kemudian dia pulang dengan gelar sarjana ekonomi. Selain mengantongi ijazah cumlaude dia juga membawa 3.000 buku koleksinya selama di Hongkong, dia membuat perpustakaan desa. Bukan hanya itu, Heni menyertakan pula 17 judul buku yang diterbitkan dari tulisan-tulisannya. Kok bisa? Selama di Hongkong, Heni menyempatkan jadi kontributor untuk koran-koran berbahasa Indonesia.

Kini sudah empat tahun Heni berkiprah di tanah air. Dia dirikan kelompok petani. Kesejahteraan warga desa dia angkat dengan pendidikan ketrampilan. Anak-anak petani dia didik secara gratis melalui sekolah alam yang kini jumlah muridnya mencapai 500-an. Dia memberikan beasiswa bagi yang berprestasi.
Sumber gambar : https://www.facebook.com/salmanitbdotcom/posts/927842450588999

Terkini, Heni mengikuti suami di Bogor. Bersama mahasiswa S2 IPB itu, mendirikan edu-agro di Desa Jampang. Berdua menyediakan lahan pendidikan, pelatihan dan wisata di bidang pertanian. Bus-bus pariwisata hilir-mudik masuk ke komplek AgroEdu Jampang Wisata. Berisi ratusan murid-murid sekolah dari luar kota yang ingin tahu seluk-beluk pertanian.

Betapa kisah ini menginspirasi kita semua, khususnya saya pribadi. Bahwa tak selamanya buruh migran memiliki citra negatif. Jiwa sosial yang tinggi dari seorang Heni wajib kita tiru. Menjadi pengingat bagi kita yang memiliki pekerjaan enak, fasilitas yang memadai, ekonomi yang berkecukupan, yang seharusnya bisa berbuat lebih dari Heni.

Melihat Lebih Dekat, Mengapa Mereka Ingin Menjadi Buruh Migran? 
Mengapa memilih menjadi buruh migran? Sebagian besar jawabannya adalah karena masalah ekonomi. Keadaan memaksa mereka untuk berpindah dari tanah kelahirannya untuk kemudian mengumpulkan pundi-pundi rupiah di Kota atau Negeri orang. Lihatlah betapa padatnya Jakarta saat ini. Kota metropolitan ini menjadi tujuan utama para pencari nafkah. Katanya, mudah mendapatkan uang di Jakarta. Kenyataannya? Tidak sedikit yang terlantar dan luntang-lantung disana. Sama halnya dengan padatnya lokasi pengiriman tenaga kerja dari Indonesia ke Luar Negeri.

Sulitnya mendapat pekerjaan di dalam negeri, mencari penghasilan yang besar, mencari pengalaman kerja, perekrutan yang diiming-imingi penghasilan besar, mengikuti jejak sukses buruh migran lain, gaya hidup, terlilit hutang, dan masih banyak alasan lain yang membuat mereka ingin menjadi buruh migran.

Kita harus menghargai apapun alasan mereka, karena bagaimanapun kita diuntungkan dengan keberadaan mereka sebagai buruh migran. Setiap tahun mereka telah menyumbang devisa negara puluhan milyar rupiah terhadap pemasukan dalam negeri. Mereka juga berkontribusi meningkatkan tarap perekonomian masyarakat.
Sumber gambar : http://www.beritaempat.com/buruh-migran-gelar-debat-pilpres/

Langkah Kecil Untuk Sebuah Perubahan
Sebagai masyarakat, kita tidak memiliki wilayah yang besar dalam menentukan nasib-nasib buruh migran diluar sana. Butuh perhatian yang lebih besar dari pemerintah terhadap hak-hak buruh migran supaya tidak ada lagi kasus yang merugikan kedua belah pihak. Sudah saatnya pemerintah dan institusi terkait memberikan perlindungan yang maksimal sebagaimana dalam undang-undang Republik Indonesia disebutkan bahwa, “Setiap Warga Negara Indonesia berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan”.

Lalu apa yang bisa kita lakukan? Sebagai masyarakat, kita bisa berbuat sesuatu. Mungkin hanya langkah kecil, tapi semoga bisa menjadi jalan keluar dan awal untuk kesejahteraan kita bersama.
1. Be Entrepreneur!
Salah satu alasan mengapa mereka ingin menjadi buruh migran adalah karena sulitnya mendapat pekerjaan di dalam negeri. Berwirausaha akan membantu menambah lapangan pekerjaan, memberdayakan orang-orang disekitar kita untuk membantu perekonomian mereka. Selain itu, jiwa entrepreneur yang kuat akan memberikan kesadaran bahwa kita tidak hanya bisa menjadi seorang pekerja (buruh) yang hanya bisa ditunjuk-tunjuk, menerima gaji, dan menurut pada perintah atasan. Keuntungan lain? Daripada sumber daya manusia yang kita kirim ke Luar Negeri, akan lebih baik kalau karya Indonesia yang kita kirim ke Luar Negeri bukan? Ini juga akan membantu meningkatkan perekonomian kita dan sekaligus mengenalkan produk Indonesia ke Luar Negeri. Be entrepreneur dan berkaryalah!

2. Be Voulnteer!
Bekali generasi kita dengan keterampilan dan pengetahuan yang cukup. Jadi relawan pendidikan. Bangun sebuah wadah tempat belajar, tanpa dipungut biaya. Jadi, kalau generasi kita kreatif, tidak perlu susah payah jadi buruh pabrik atau buruh rumah tangga di Negeri orang kan?
 
3. Build Community
Kontrol dari pemerintah yang dianggap kurang maksimal, maka yang bisa kita lakukan adalah membangun komunitas non-formal disetiap Negara yang menampung banyak buruh migran. Kita bisa mencari orang-orang Indonesia yang tinggal disana yang siap menjadi volunteer, membuat kegiatan-kegiatan positif yang bisa memberikan motivasi dengan tujuan kemanusiaan. Sharing pengetahuan atau sekedar kegiatan curhat

4. Meet Them In Our Traveling
Sepertinya tidak sedikit orang-orang Indonesia yang hobi melakukan traveling ke Luar Negeri. Tidak ada salahnya sesekali kita menambahkan agenda traveling untuk bertemu dengan mereka disana. Mengenal lebih dekat kegiatan mereka. Caranya? Kita bisa memperoleh data buruh migran, meminta nomor kontak mereka. Setidaknya ada kebahagiaan ketika bertemu dengan saudara se-tanah air, berarti masih ada yang peduli.

Memang hanya langkah kecil yang sepertinya mustahil. Tapi, ini semua sangat bisa dilakukan kalau kita mau menjadi bagian dari perubahan stigma negatif yang selama ini melekat pada buruh migran. Selalu ada jawaban dari setiap permasalahan yang kita hadapi kalau kita mau "duduk dan berpikir bersama".


"Tulisan Ini Diikutsertakan Lomba Blog Buruh Migran Indonesia Bersama Melanie Subono"

Referensi :
https://www.facebook.com/salmanitbdotcom/posts/927842450588999
http://www.seruni.or.id/2014/09/mengapa-bekerja-di-luar-negeri/

1 comment: