3 May 2015

Desa Neerach Yang Mengajarkan Kejujuran

Sumber gambar : http://danausaha.net/wp-content/uploads/2013/06/Ide-Bisnis-Usaha-Florist-Dari-Hobi-Jadi-Uang.jpg
"Kau mau beli bunga?" tanya Markus.
Saya tertangkap basah tengah mengagumi dan menciumi mawar saat dia memarkir mobil di pinggir jalan. Saya serbasalah. Saya pun mengangguk sekenanya.
"Ya, spesial untuk Ce Siti," imbuh saya.
Ce Siti adalah panggilan istri Markus, Siti Zubaidah Klinker.
"Tapi saya tidak tahu cara membelinya," saya melanjutkan.

"Beli saja. Kau mau yang mana? Tinggal pilih, masukkan plastik, lalu bayar disini."
Markus mendekat. Dia menunjukan letak plastik dan kaleng bir yang menjadi tempat menaruh pembayaran bunga.
"Uang saya pecahan besar, 50 Euro, sementara harga bunga ini hanya 4 Euro," saya menjelaskan.
Markus tersenyum. Dia mencari-cari sesuatu di balik kedai.
"Nah, ini dia. Kau ambil saja uang kembalian yang kau perlukan."
Saya kaget. Markus menunjukan beberapa kaleng lain yang diselipkan di dekat kaleng pembayaran bunga. Satu kaleng berisi beberapa lembar uang 10 Euro. Tiga kaleng lain berisi lembar 5 Euro, koin 1 Euro, dan sen Euro. Lengkap. Saya tak habis pikir. Yang bener aja. Pemilik kedai menggeletakan uang begini banyak di tenpat umum?
Markus tahu apa yang saya pikirkan. Dia mengerlingkan mata, seperti mengatakan, menurutmu aneh ya?
"Namanya Hoffinger, Tuan dan Nyoya Hofnger. Orang tua yang menjual bunga-bunga ini."
Markus menyebutkan nama. Saya langsung mencoba membayangkan seperti apa pasangan Hoffinger itu. Saya mengambil salah satu bunga berharga 10 Euro. Saya ambil uang 40 Euro di dalam kaleng, lalau uang 50 Euro saya masukkan. Tinggal satu lembar 10 Euro di kaleng tersebut.
"Bagaimana jika uang kembalian habis, Markus?" saya bertanya spontan.
"Kau lihat buku notes yang menggantung itu? Tulis saja nama dan alamatmu di situ. Nanti dia akan datang ke rumahmu untuk memberikan uang kembalian." 


Pemilik kedai bunga ini menyimpan trust atau kepercayaan yang dititipkan ke seluruh penduduk Desa Neerach. Penduduk Neerach pun memegang trust dengan penuh tanggung jawab. Semua yang terlihat, jika bukan milik mereka, tidak akan berani disentuh apalagi dicuri. Praktik berjualan tanpa penunggu juga dilakoni sejumlah warga desa yang menjual koran, majalah, baju, kayu bakar untuk perapian, barang bekas, dan beberapa kebutuhan rumah tangga lainnya. Saya terdiam. Bagaimana mungkin orang-orang Swiss menerapkan syariat islam tanpa membubuhkannya pada konstitusinya? Saya benar-benat tercengang atas sistem kejujuran yang dirakit Negeri jam tangan ini.

**Dikutip dari buku Berjalan di Atas Cahaya karya Hanum Salsabila Rais, dalam sub judul Neerach Yang Mengesankan

Di Indonesia, saya pernah menemukan sistem seperti ini, tapi hanya terjadi di level sekolah yaitu Kantin Kejujuran. Dimana siswa yang akan membeli makanan, membayar dan mengambil uang kembalian yang sudah tersedia disana. Tapi, biasanya masih diawasi oleh satu orang penjaga. Sedangkan di Neerach, kedai tidak ditunggu oleh sang pemilik toko. Bahkan sistem note untuk mencatat nama dan alamat serta mengantarkan uang kembalian, itu merupakan hal yang sangat tidak biasa dilakukan. Dahsyat. Ini lebih dahsyat daripada yang saya pikirkan tentang esensi menjalin kepercayaan.

Sebuah pelajaran, tidak perlu berkoar-koar menyuarakan kejujuran, harus berlaku jujur. Lakukan saja tanpa harus berbicara. Lambat laun akan menjadi budaya dan kebiasaan. Sistem akan membentuk dan membangun kepercayaan itu.

Oh ya, jangan kira kedainya itu seperti toko bunga pada umumnya (seperti gambar yang saya upload diatas). Kedai bunga di Desa Neerach ini sangat kecil, lebih mirip seperti tempat penjualan bensin eceran di pinggir jalan (gambar aslinya ada di buku). Siapa sangka kedai seperti pompa bensin pinggir jalan di Indonesia ini mengajarkan kejujuran? Seharusnya kita bisa berbuat lebih dari itu, kita memiliki ilmu keyakinan yang hebat diatas segalanya yaitu keyakinan akan Allah Yang Maha Melihat. Seharusnya alasan itu cukup untuk menyadarkan kita berlaku jujur.

No comments:

Post a Comment