5 December 2014

Notes From Turkey [Part 3] : Kusadasi, Ephesus, Pamukkale

Bus melaju meninggalkan Izmir menuju Kusadasi, tempat kami menginap malam ini. Pesona Izmir benar-benar menyihir, membuat saya tidak ingin cepat-cepat beranjak. Dulu, Izmir pernah direbut oleh Rusia sehingga budaya Eropa sangat kental disini. Namun sekarang sudah kembali lagi dan mutlak menjadi bagian dari Turki.


Suhu mencapai lima derajat. Benar-benar membekukan tengkuk leher dan ujung jari. Kami buru-buru masuk loby hotel untuk menghangatkan badan. Di musim dingin seperti ini, setiap tempat selalu memasang pemanas ruangan. Setelah mendapatkan kunci kamar, kami segera masuk kamar dan membersihkan badan.

Roti khas Turki, soup ayam dengan kuah kental, dan salad (yang berisi daun selada, kol ungu, dan wortel yang diiris tipis serta dituangi minyak zaitun dan perasan lemon) adalah menu wajib sebelum makan. Sejak pertamakali menginjakan kaki di Turki, menu ini selalu ada sebagai pembuka. Awalnya tidak terbisa, tapi setelah beberapa hari disini lidah saya sudah bisa berkompromi dengan makanan-makanan Turki.

"Tepat dibelakang hotel ini ada Yalinci Burnu Sea dan Attaturk Hill. Kalau mau lihat sunrise bisa keluar jam 05.00 pagi, tapi dingin sekali. Harus pakai jaket dan sarung tangan," ujar Nadriye ketika makan malam. Kami antusias mendengar itu dan tidak ingin melewatkan sunrise di Yalinci Burnu Sea nanti pagi.

Langit Kusadasi masih gelap, pukul 05.00 pagi kami menuju tempat yang diceritakan oleh Nadriye saat makan malam. Sebagian lagi masih di kamar dan memutuskan untuk tidak ikut melihat sunrise. Angin berhembus dengan kencang ketika kaki melangkah keluar dari hotel. Nol derajat! Semakin hari suhu semakin menurun, tapi kami belum melihat tanda-tanda turun salju. Gemuruh ombak menghantam bibir pantai, suaranya memecah keheningan pagi. Kami berdiri di tepi jembatan yang sengaja dibuat untuk melihat pemandangan Yalinci Burnu Sea dan Attaturk Hill dari hotel.

Ini dia sunrise Yalinci Burnu Sea dan Attaturk Hill di Kusadasi! Sayang saya tidak punya kamera yang memadai untuk mengambil gambar ini semua hehe *nabung beli kamera*

Taken by me
Taken by me
Sampai cuaca terang kami masih asyik menikmati keindahan Kusadasi dari hotel sambil mengambil foto.
Taken by Jessica
Taken by me
Tour dilanjutkan menuju Ephesus. Bagi penggemar film seperti Gladiator pasti tidak asing lagi dengan Ephesus. Kota ini pernah hilang akibat gempa bumi, tetapi kemudian dibangun kembali. Sayangnya karna jadwal tour yang padat, kami hanya menikmati keindahan Ephesus dari luar. Disana kita bisa melihat sisa bangunan kejayaan Romawi kuno, mulai dari Celsus Library sampai Grand Theatre. Menurut kepercayaan orang-orang disana, Nabi Isa atau Jesus akan turun di bukit Ephesus ini nantinya.

Tidak jauh dari Ephesus, kemudian bus bergerak mengunjungi House Of Virgin Mary atau Rumah Bunda Maria. Sebagai muslim kami menyebutnya Maryam, wanita luar biasa yang melahirkan Nabi Isa alaihissalaam. Maryam adalah wanita mulia yang selalu menundukan pandangannya. Orang-orang nasrani yang berasal dari seluruh penjuru dunia datang mengunjungi tempat ini untuk menyaksikan sejarah agama mereka.

Saya di depan rumah Maria
Dibelakang saya adalah Bukit Ephesus
Tour dilanjutkan menuju Pamukkale. Pamukkale terkenal dengan peninggalan sejarah dan juga keindahan alamnya. Nama Pamukkale sendiri berasal dari bahasa Turki yang artinya cotton castle atau benteng kapas. Di tempat ini terdapat dua lokasi wisata utama yakni Hierapolis dan Travertines. Terdapat dua pintu gerbang untuk masuk ke Pamukkale, yakni dari bagian bawah dekat dengan Travertines dan bagian atas dekat dengan Hierapolis. Hierapolis adalah kota tua yang berdiri pada masa Roman Empire dan Byzantine Empire. Di namakan Hierapolis karena dulunya di sini terdapat kuil Hiera yaitu salah satu dewa Yunani. Di sini kita bisa menemukan sisa-sisa reruntuhan bangunan, katedral, kuil, tembok-tembok, pilar, amphiteather, dan kuburan-kuburan tua.

Sepintas, permukaan Pamukkale mirip seperti salju. Tapi pada kenyataannya Pamukkale adalah undukan bukit-bukit batu berwarna putih dengan mata air panas yang mengelilinginya.

View Pamukkale dari atas
Air panas di Pamukkale
Sunset di Pamukkale
Jalan menuju tempat ini cukup jauh dan hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki, untuk sampai disini mengahabiskan waktu kurang lebih 30 menit. Pamukkale tutup pukul 17.30. Pemandangan alamnya hanya bisa dilihat saat terang saja, kalau malam hari keindahan Pamukkale tidak akan terlihat jelas. Kami juga sempat merendam kaki di mata air panas yang mengalir mengelilingi bukit.

Tidak terasa langit mulai gelap, kami harus kembali ke bus dan melanjutkan tour esok hari. Selanjutnya kami akan singgah di Kayseri, Anatolia, Konya dan menetap di Cappadocia selama dua hari untuk menyusuri keindahan alam serta sejarah disana. Kejutan-kejutan alam yang luar biasa. Saya tidak sabar menunggu kejutan apa lagi yang akan diperlihatkan oleh-Nya. Mengagungkan jejak-jejak kebesaran-Nya di bumi Turki ini.


to be continued...

4 comments:

  1. Wah Mbak Tia... semakin jatuh cinta dengan Turki...
    Ternyata kita sama Mbak, belum punya kemera yang memadai untuk mengabadikan moment. Sejak prjalanan ke Macau bareng fotografer terkenal kemaren, aku sadar kalau kita gak tau teknik fotografer, setidaknya investasi di kamera canggih, di atas 4 jutaanlah. Kalau kamera standar, kayak milikku, hasilnya jauh banget. Aku sempat jadi motret selama di sana kemaren, lantaran semua yang kufoto rasanya jauh banget dari aslinya yang indah, terlebih saat buat motret lampu-lampu, sunrise atau sunset. Semangat Mbak Tia... yuk kita nabung. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku pun jatuh cinta dengan Turki..
      Iya aku jadi kepikir untuk beli kamera yang memadai, karna sayang banget kalau lagi momen2 kayak gitu jepretannya jadi kurang puas, gak sesuai dengan tempat aslinya yang padahal keren banget. PR ke depan -> nabung beli kamera dan belajar teknik fotografi :D

      Delete
  2. Asyiikk, saya udah banyak baca tentang tempat2 yg di tulis mbak Tia, semga segera kesampaian berkunjung ke sana, aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin.. Tempat aslinya jauh lebih keren daripada cerita yang aku tulis Mba :) Semoga ada rezeki balik lagi kesana.

      Delete