15 October 2014

Dandelion

Setiap kita pasti pernah berada dititik terjenuh dalam hidup. Tak ada sesuatu yang spesial, tak ada pencapaian yang berarti. Jenuh dengan segala rutinitas yang dijalani. Hingga pada akhirnya menjadikan rutinitas sebagai satu-satunya faktor penyebab kejenuhan. Hal ini kadang membuat kita ingin pergi mencari suasana baru atau sejenak berdiam diri dan memutuskan untuk tak melakukan apapun. Namun kenyataannya itu tak cukup, selang beberapa waktu kejenuhan itu kembali hadir. 

Sejatinya, bukan tentang itu.
Ternyata kejenuhan, kekosongan, kehampaan adalah buah dari ibadah yang tak benar-benar khusyuk. Karena hakikatnya ibadah yang khusyuk akan menghadirkan sakinah dan hidup dalam kebersyukuran. Kehampaan tak akan menerpa jika selalu melibatkan Allah yang Maha Pemberi Ketentraman.
Inna sholati wanusuki wamahyaya wamamati lillahi rabbil'alamiin. Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanya untuk Allah swt.
Inilah.. Inilah yang membuat tawar. Tak menghadirkan Allah, tak melibatkan jiwa. Do'a hanya sekadar kata-kata, sujud hanya sekadar meletakan kening diatas tanah, tilawah hanya sekadar mengejar jumlah. Betapa kering ibadah yang dilakukan karena hanya sekadar menggugurkan kewajiban. Hingga kekeringan menjelma menjadi butiran amal yang terhempas sia-sia. Seperti kelopak dandelion tertiup angin dan hanya menyisakan tangkainya. Tak berarti apa-apa, tak merubah apa-apa. Padahal ibadah seharusnya menjadi penawar resah, merubah diri menjadi lebih baik, pencegah dari segala bentuk maksiat.

Begitu hinanya diri menginginkan surga namun tak sungguh-sungguh meraihnya. Padahal surga tak bisa dibeli dengan biasa-biasa saja. Berjumpa dengan Allah dan Rasul-Nya tak bisa dicapai dengan amal sekadarnya. Adalah kesombongan jika diri ini tak mau bersusah-susah mendekati-Nya, adalah kepayahan jika tawar selalu dijadikan rasa dalam setiap ibadah.

Seharusnya kita tak pernah merasakan hampa, karena Dia amat dekat, bahkan lebih dekat daripada urat nadi..

No comments:

Post a Comment