12 July 2013

Tentang Pilihan

Kalau di depanmu ada dua gelas minuman. Yang satu jus jeruk dengan warna menarik, dan yang satu lagi jamu dengan warna tidak menarik. Mana yang akan kamu pilih? Mungkin akan timbul beberapa jawaban :
A. Jus jeruk dong, jamu kan pahit.
B. Tergantung kebutuhannya, kalau lagi sakit pasti minum jamu. Kalau lagi sehat pasti minum jus jeruk.
C. Dua-duanya, sedang atau tidak sedang sakit.
Atau kamu punya jawaban sendiri tentang hal ini?

Baik, sama hal nya ketika kita dihadapkan pada pilihan hidup yang berkeliaran disekitar kita. Pilihan yang seringkali membuat kita bingung, galau, pusing, dan lain sebagainya. Jus jeruk dan jamu hanya dua pilihan yang mudah saja kita menjawabnya.

Zaman ini memaksa kita menghadapi banyak pilihan. Percaya atau tidak? Coba kita lihat dari segi makanan saja. Mungkin zaman dulu jenis makanan tidak sebanyak seperti sekarang ini. Kalau sekarang, untuk memilih menu makan siang saja, kita dihadapkan dengan lebih dari 10 stand makanan yang berjajar di foodcourt. Dari mulai makanan Indonesia, jepang, thailand, dan lain sebagainya. Daging ayam, sapi, bebek, ikan, atau bahkan mungkin daging unta? :D

Atau ketika kita akan membeli handphone. Beberapa tahun silam yang namanya handphone, ya begitu-begitu saja, bisa sms, bisa telepon, selesai sampai disitu. Sekarang? Dari mulai merk nya saja kita mungkin sudah kebingungan mau memilih merk apa. Lalu dari bentuk nya, querty atau touch screen, kecil atau besar, tebal atau tipis. Belum lagi warna nya, fitur nya, dan harga nya. Tambah lagi accessories handphone nya, kartu perdana nya, paket internet nya. Aaaaakk~ banyak sekali pilihan dari satu buah barang saja! Sia-sia sekali kalau hidup ini hanya disibukkan dengan memilih hal-hal yang tidak kekal. 

Itu masih pilihan-pilihan sederhana, yang mungkin tidak terlalu besar resikonya ketika kita kurang tepat memilih. Lalu bagaimana dengan pilihan yang tidak sederhana? Yang mungkin akan menghadirkan resiko lebih besar?
Pilihan pasti menghadirkan resiko. Maksudnya? Mari kita belajar dari kasus berikut ini.
Setelah lulus sekolah, apakah kita akan kuliah atau bekerja? Ketika kita memilih untuk bekerja, maka akan ada resiko yang kita terima yaitu: mungkin terlambat kuliah beberapa tahun, tidak bisa ambil beasiswa tahun ini, dan lain sebagainya. Apakah dengan kita memilih bekerja kita kehilangan banyak kesempatan untuk kuliah? Tentu tidak. Jangan khawatir, kesempatan akan selalu dihadirkan oleh-Nya untuk orang-orang yang giat 'mencari kesempatan'. Jadi kesempatan cukup mirip dengan hidayah, ia tidak hadir dengan sendirinya, tapi harus dijemput! Jemput kesempatan yang mungkin masih bersembunyi disekelilingmu!  

Jadi, tidak ada istilah kehilangan kesempatan. Kesempatan hanya bersembunyi, ia butuh waktu yang tepat saja untuk kita temui :)

Ketika sudah memilih, mengorbankan pilihan yang lain, dijalani, tidak sesuai harapan. Munculah pernyataan: Keadaan yang memaksa memilih jalan ini!
Maksudnya lagi? Mari kita belajar dari kasus berikut ini. (Belajar kasus mulu ya? :p)
Ini kasus klasik yang sering kita temui di televisi. Ada seorang ibu, ditinggal pergi oleh suaminya. Pada akhirnya ibu ini harus menjadi tulang punggung keluarga. Untuk meraup rupiah yang banyak, ibu ini memilih jalan pintas yaitu menjadi seorang -maaf- kupu-kupu malam. Ketika ditanya ibu ini menjawab: "Keadaan yang memaksa saya untuk mengerjakan pekerjaan hina ini!". Dalam sebuah pilihan, sebenarnya tidak ada keadaan yang memaksa. Jawaban ibu tersebut sebenarnya hanyalah sebuah bentuk pembelaan terhadap diri. Dari awal pasti sudah banyak pilihan yang halal, misalnya menjadi pembantu rumah tangga, bekerja di toko-toko kecil, dan masih banyak pilihan lain yang tentu saja halal. Hanya saja ibu ini lebih memilih menjadi kupu-kupu malam. Dengan sadar se-sadar-sadarnya, ibu ini memilih jalan yang keliru.

Kasus yang kedua, terjadi pada diri saya sendiri :p Ketika lulus SMP empat tahun silam, saya bingung untuk melanjutkan sekolah. SMA atau SMK? Setelah dijalani, masuk SMK 4 tahun ternyata seperti ini, sedikit lebih sulit untuk kuliah, lulus tidak tepat waktu. Dan saya juga sempat mengeluh: keadaan yang memaksa saya masuk SMK. Teman2 yang mayoritas masuk SMK, dorongan orangtua, apalagi saat itu SMK sedang digembor-gemborkan di media. Dan akhirnya saya memilih masuk SMK.
Sebenarnya faktor keadaan hanya mempengaruhi seper-sekian persen saja, jadi tidak bisa kalau disebut keadaan yang telah memaksa. Dengan penuh kesadaran, saya sendirilah yang telah memutuskan untuk masuk SMK, bukan keadaan.

Jadi, tidak perlu menyalahkan siapapun atas pilihan yang telah kita tentukan.

Untuk yang sedang risau menentukan pilihan, keputusan adalah mutlak milik kita sendiri. Saat kita mulai mengeluh terhadap pilihan hidup kita, ingatlah, itu adalah jalan yang kita ambil pada waktu silam. Keputusan yang baik ditentukan oleh proses pengambilan keputusan yang baik pula. Sertakan Yang Maha Bijaksana dalam setiap proses pengambilan keputusan kita. Sekali lagi, jangan pernah menyalahkan siapapun atas pilihan yang kita tentukan.

No comments:

Post a Comment