12 February 2013

Skenario Cinta-Nya Untuk Aisyah


Cahaya lampu masih menerangi salah satu ruangan disebuah rumah sederhana ini. Sedang ruangan yang lainnya sudah tampak gelap karena penghuninya telah tertidur. Di ruangan yang tidak terlalu besar ini aku dan Zhafira tengah membongkar sebuah kardus yang berukuran cukup besar. Isinya adalah kiriman pakaian yang masih baru. Baju, rok, dan kerudung untuk berbagai usia. Semua pakaian ini bukan untuk dijual tetapi ini adalah kiriman dari seorang dermawan untuk anak-anak yang tinggal di rumah singgah.
Aku dan Zhafira kini baru saja lulus kuliah dari salah satu universitas islam negeri di Kota Bandung. Ini bukan rumah kami berdua, melainkan sebuah rumah singgah yang kami rintis setelah kami lulus SMA. Kami terlahir dari keluarga yang cukup mampu, walaupun begitu, semua kebutuhan di rumah singgah ini bukan dari orangtua kami. Kami mau menerima pemberian dari orangtua kami, asalkan statusnya sebagai donator rumah singgah, yang harus memenuhi persyaratan donator yang telah kami buat. Kami juga sudah memiliki beberapa donator tetap yang berasal dari perorangan atau instansi sekitar. Donasi dari donator kami gunakan untuk memenuhi seluruh kebutuhan rumah singgah dan biaya sekolah anak-anak.
Rumah singgah yang kami beri nama Lathifah ini berarti wanita yang lembut dan baik. Karena penghuni rumah singgah ini seluruhnya adalah wanita. Dari mulai anak-anak sampai remaja. Ya, rumah singgah ini tidak terlalu besar bahkan baru tercatat secara legal sejak enam bulan yang lalu. Kurang lebih usia rumah singgah baru 2 tahun lebih 3 bulan. Kini dihuni oleh 15 orang anak wanita. Yang paling besar ada dua anak yang sekarang duduk di bangku kelas dua SMA. Enam orang duduk di bangku SMP, empat orang duduk di bangku SD dan tiga orang sisanya belum sekolah. Aku yang memimpin rumah singgah saat ini, karena  dari awal aku membangun rumah singgah ini sendirian. Saat itu masih ada lima orang anak yang aku bina, statusnya pun bukan rumah singgah seperti sekarang. Dulu tempatnya masih di rumah orangtuaku.
Rumah singgah ini mempunyai lima orang pengurus, dua diantaranya adalah Aku dan Zhafira. Aku sebagai pemimpin sekaligus yang mengajarkan mengaji Al-Qur’an dan materi TPA pada umumnya. Zhafira sebagai orang yang mengelola administrasi dan mengajarkan bahasa arab. Sedangkan tiga orang lainnya adalah Mba Yanti yang berusia 30 tahun dan sudah memiliki satu orang anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Ada juga Mba Dina yang datang dari keluarga sederhana dan masih seumuran denganku. Mba Yanti dan Mba Dina adalah orang yang setia mengurus anak-anak selama di rumah singgah. Satu lagi adalah Pak Asep, beliau tidak menginap disini karena beliau sudah memiliki keluarga. Pak Asep suka bantu-bantu disini, kadang kalau kami mau berpergian Pak Asep yang mengendarai mobil. Aku dan Fira datang ke rumah singgah setelah pulang kerja, hari sabtu dan ahad kami baru bisa seharian ada disini.
“Udah jam sebelas lebih Aisyah. Besok kita lanjut lagi misahin baju buat anak-anaknya. Besok kan hari ahad jadi ga ke kantor”. Aku menengok ke arah jam dinding yang dipasang sebelah kanan tepat dari posisiku saat itu. “Tapi tanggung Fir”, jawabku yang saat itu masih memisahkan baju untuk anak-anak. “Nanti kesiangan bangun qiyamul lail loh. Kalo kita kesiangan ga ada yang bangunin anak-anak buat sholat malam”, Fira mengajakku untuk segera tidur. “Lima menit lagi ya Fir, kamu kalo mau tidur duluan aja, nanti aku nyusul”, jawabku lagi. “Ya udah aku duluan tidur ya. Awas jangan terlalu malem”. Fira meninggalkanku sendirian saat itu, lima belas menit kemudian aku pun segera tidur.

****
        
Roti isi coklat, lontong isi sayur, dan susu putih menjadi sarapan kami pagi ini. Kami berkumpul di ruang tengah di atas karpet coklat yang cukup besar. Kami memang tidak mempunyai meja makan besar yang cukup untuk menampung seluruh penghuni rumah singgah. Setiap kali makan ya lesehan seperti ini, tapi ini samasekali tidak mengurangi hangatnya sebuah keluarga bersama anak-anak yang sholehah.
Segelas susu tumpah karena tidak sengaja tertendang oleh kaki Kania yang saat itu sedang bermain dengan Ami dan Salwa. Tiga orang anak kecil yang belum sekolah ini memang selalu meramaikan suasana.
“Hah Kania, tuh kan tumpah, kena baju aku jadinya, mangkanya diem jangan lari-lari”, kata Icha, salah satu penghuni rumah singgah kelas 4 SD ini memang cukup sensitif orangnya. “Kania, Ami, Salwa, sini sayang nanti gelas yang lainnya ketendang juga. Sini Kak Aisyah punya permen nih”, aku mencoba merayu mereka. Mereka mendekatiku dan aku ajak mereka ke teras depan rumah. Suara motor berhenti di depan rumah singgah, aku mengenali motornya, itu motor Handika dan Umam teman kampusku waktu itu, karena mereka adalah orang yang lumayan sering datang kesini untuk berbagi dengan anak-anak. Apapun mereka bawa dari mulai makanan, pakaian, buku, atau mainan. Ami dan Salwa sangat mengenali Dika dan Umam. Segera mereka berlari menghampiri mereka berdua. “Adik Kak Aisyah yang sholehah, sini dulu, Kak Dika sama Kak Umam nya baru dateng, motornya mau di masukin ke halaman dulu”, teriakku saat itu. Mereka tidak memperdulikan suaraku. Setelah menyimpan motornya, Dika dan Umam langsung menggendong Ami dan Salwa.
Aku langsung menyuruh mereka masuk ke dalam, beberapa anak yang memang dekat dengan Dika dan Umam langsung menuju ruang tamu. “Kakak sama Kak Dika bawa buku-buku cerita nih”, sambil mengeluarkan beberapa buku dari tasnya. “Pasti bukunya buat anak-anak aja. Mana yang katanya mau beliin Vika novel?”, celetuk Vika saat itu. Vika dan Farah adalah anak kelas dua SMA, anak yang paling besar diantara anak-anak lain di rumah singgah. Tapi sifat Vika sangat jauh berbeda dengan Farah, padahal usianya sama. Farah jauh lebih dewasa dan sangat memahami nilai-nilai agama. Sedangkan Vika masih sedikit kekanak-kanakan dan ceplas ceplos bicaranya. Vika juga sangat mengagumi Umam. “Hush Vika, ga boleh gitu, ga malu sama ade-adenya”, sahut Farah. “Ga apa-apa Farah, kita bawa kok novel pesenan Vika”, Umam mencoba mencairkan suasana. “Tuh kan Rah, aku dibeliin novelnya”, “Dasar Vika, Vika”, Farah langsung menuju ruang tengah dan melanjutkan membaca majalah yang tadi sedang ia baca.
Anak-anak sibuk memilih buku-buku yang dibawa Dika dan Umam, sebagian lagi di ruang tengah dan sibuk membantu Mba Yanti dan Mba Dina dibelakang untuk memasak dan mencuci. Fira setelah sholat subuh tadi pulang ke rumah dulu, katanya mau ngambil baju dan perlengkapan lain untuk ke kantor besok. Tidak enak kalau hanya ada anak-anak kecil, Dika, Umam dan aku wanita sendirian yang sudah dewasa disini, tidak ditemani muhrim yang lain. “Fira kemana Syah?”, tanya Dika padaku. Ada perasaan yang berbeda padaku saat Dika menanyakan Fira. “Tadi subuh pulang dulu ke rumahnya, katanya mau ngambil baju dan perlengkapan lain untuk ke kantor besok”, dengan tegas dan sambil tidak menatap wajah Dika aku menjawabnya. Kami mengenal adanya hijab atau batasan antara wanita dan laki-laki dalam agama kami. Saat aku berbicara tidak menatap pun mereka berdua sudah terbiasa, karena mereka juga mengerti. Saat di kampus, antara wanita dan laki-laki sangat terjaga pergaulannya, karena itu yang agama kami ajarkan kepada kami. “Kira-kira balik lagi kesini jam berapa ya Syah? Saya mau mengambil buku yang dipinjam Fira waktu itu”, “Kurang tau juga, coba di sms saja. Hemm, Dika Umam, saya tinggal dulu”, kurang enak kalau aku berlama-lama disitu. Sambil menuju dapur aku masih tanda tanya besar dengan perasaanku. Ada sesuatu yang berbeda saat aku berbicara dengan Dika. Atau mungkin aku, ya sudah lah tidak perlu dipikirkan juga. Istighfar Aisyah, istighfar.
Aku membawakan dua gelas teh manis untuk Dika dan Umam. Pukul 11 siang Fira kembali ke rumah singgah. “Assalamu’alaikum. Ada tamu rupanya, sudah lama menunggu ya?”. Ya, sepertinya Fira sudah buat janji dengan Dika, karena Fira berbicara seperti itu. Umam terlihat asyik bermain dengan Ami dan Salwa. Fira dan Dika kini asyik berdiskusi, tidak tau membicaraka apa. Saat di kampus mereka satu kelas, belum lagi orangtua mereka yang sudah bersahabat sejak lama. Jadi saat mereka masih kecil, mereka sudah sering bertemu. Fira sering cerita tentang masa lalunya. Perasaanku semakin tidak karuan, aku terus beristighfar karena aku bingung apa yang terjadi pada hatiku saat ini. Aku meninggalkan mereka dan menuju ruang tengah. Aku duduk disebuah kursi dan mengambil buku yang tersusun dilemari buku. Entah buku apa yang aku ambil, aku hanya membuka halaman demi halaman tanpa fokus membacanya. Sedangkan pikiranku memikirkan sesuatu. Apa mungkin aku menyukai Dika? Ah, itu ga mungkin, sebelum-sebelumnya aku biasa saja. Dika pasti menyukai Fira dan sebaliknya, pikirku. Ya, mereka sudah bersahabat sejak lama sedangkan aku mengenal Dika baru sejak di kampus dan di organisasi kampus.
            Sekarang usiaku 23 tahun, walaupun masih terbilang muda kadang orangtuaku menanyakan kapan aku mau menggenapkan setengah dienku. Mereka bilang aku terlalu sibuk dengan berdakwah, mengurusi anak-anak dan rumah singgah, sehingga mereka merasa aku tidak pernah memikirkan tentang sesuatu yang sakral ini. Bukannya aku tidak memikirkan, tapi aku menyerahkan urusan itu pada Allah. Kalau sudah tiba waktunya, pasti nanti ada seseorang yang datang yang Allah kirimkan untukku.
Ya, tapi sekarang aku mulai berpikir juga tentang ini. Setengah tahun lagi usiaku genap 24 tahun. Kuliahku sudah selesai. Menjadi salah satu dari 20 besar mahasiswa-mahasiswi berprestasi terbaik sudah aku raih. Walaupun baru bekerja satu tahun, gajiku sudah cukup untuk seorang wanita. Mulai sekarang aku hanya berusaha memperbaiki diri untuk calon imamku nanti, entah kapan. Aku mau jadi wanita yang sholehah seperti Fatimah Az-Zahra, Siti Aisyah dan Siti Khadijah.

****
Usai sholat isya dan tilawah, aku jadi teringat Fira. Sudah tiga minggu ini Fira jarang sekali ke rumah singgah, aku merasa kesepian. Sms pun jarang di balas. Terakhir kesini hari sabtu lalu, itu pun hanya sebentar lalu pergi lagi. Mungkin Fira sedang sibuk dengan pekerjaannya. Aku mengambil handphone dan segera aku sampaikan rasa rinduku lewat sms. “Assalamu’alaikum. Ukhti cantik, lagi sibuk ya? Aku kangeeeeeen banget sama kamu Fir, apalagi sama bawelnya kamu. Anak-anak juga pada kangen sama kamu tuh, pingin belajar bahasa arab sama Kak Fira katanya. Ana uhibbu kifillah ukhti”, semoga sms ku kali ini dibalas sama Fira. Sepuluh menit kemudian handphoneku bordering, sms dari Fira. “Wa’alaikumsalam ukhti sholehah. Apalagi aku, kangennya banget banget sama kamu Syah. Udah tiga minggu ya aku menghilang, hehe. Afwan ya, ada sesuatu yang harus aku selesaikan. Mungkin minggu depan aku baru bisa ke rumah singgah dan menyampaikan kabar bahagia. Salam sama anak-anak ya, Mba Dina, Mba Yanti dan Pak Asep juga. Uhibbu kifillah”, sms balasan dari Fira cukup mengobati kerinduanku. Aku jadi penasaran kabar bahagia apa yang mau Fira sampaikan. Rasanya ingin cepat-cepat minggu depan.
            Malam ini aku cukup santai dan ingin membuka account facebook ku, sudah lama tidak di cek. Aku hanya buka twitter lewat handphone. Aku menyalakan laptop di ruang tengah, sambil menemani anak-anak belajar. “Mba Aisyah, mau dibuatkan teh manis?”, Mba Yanti menawarkan. “Hemmm, boleh Mba. Maaf ya jadi ngerepotin. Ditawarin yang enak sih, jadi ga mungkin ditolak”, jawabku sambil tersenyum. “Ga apa-apa sekalian, sebentar ya Mba”.
            Seberapa lama kah aku tidak membuka account facebook ku? Terakhir aku update tiga minggu yang lalu, belum terlalu lama. Tapi banyak sekali permintaan teman dan pemberitahuan. Aku konfirmasi teman-teman yang aku kenal dan aku lihat semua pemberitahuan. Aku teralih pada sebuah catatan yang melintas di beranda facebook ku. Catatan Handika El Shirazy, judulnya hanya sebuah karakter tanda tanya. Tidak bermaksud apa-apa, aku pun membaca catatan itu. Ada dua orang yang ditandai di catatan itu, Umam dan Fira. Fira dan Dika? Aku tidak bisa berpikir dewasa saat mengetahui isi catatan itu. Hatiku tertunduk lesu, pikiranku seperti benang kusut yang tidak bisa diluruskan kembali, ternyata benar aku memang mencintai Dika. Aku tidak bisa membohongi perasaanku sendiri. Seharusnya aku sadar dari awal, Dika dan Fira itu sudah lama bersahabat.
            Kalimat demi kalimat aku baca kembali, “Bismillaahirrahmaanirrahiim. Maha Besar Allah yang menciptakan alam semesta beserta isinya. Maha Suci Allah yang menciptakan manusia dengan akal dan pikiran. Maha Penyayang Allah yang menganugerahkan perasaan cinta kepada setiap hati manusia. Hidup adalah sebuah skenario yang telah Allah tuliskan. Dari mulai berperang melawan sel-sel lain di dalam rahim seorang ibu, memasuki usia anak-anak, remaja dan kini dewasa. Sekolah, kuliah, bekerja, semua sudah dilewati dengan izinNya. Skenario ini akan kurang lengkap saat belum melewati salah satu sunnah rasulNya. Usia bukanlah sebuah penghalang saat kita akan melewati sunnah rasul ini, yang terpenting semua syarat mutlak telah terpenuhi. Mencari tulang rusuk yang tepat bukanlah hal yang mudah. Perlu perencanaan matang. Karena ini adalah sebuah tanggung jawab besar. Bisakah seorang anak adam membawa anak hawa beserta jundi-jundinya ke Syurga yang mulia, dan sebaliknya? Mungkin saat ini, Allah tengah menuntunku menuju ke jalan ini. Allah telah memberiku sebuah kunci untuk membuka sebuah lemari kaca yang berisi berlian yang tak ternilai harganya. Apakah berlian itu mau jika tanganku yang mengambilnya?”
            Tidak salah lagi catatan itu pasti untuk Fira, sebentar lagi Dika akan menggenapkan setengah diennya bersama Fira. Ya, aku seharusnya mendukung dan berpikir dewasa. Dika orang yang sholeh dan bertanggung jawab, pantas mendapatkan seorang Zhafira yang pintar dan sholehah. Aku jadi teringat kabar bahagia yang akan Fira sampaikan, mungkin tentang ini. Dan hampir satu bulan Fira menghilang ternyata untuk mempersiapkan ini semua. Aku tidak menyadari, air mata jatuh ke pipiku dengan derasnya. Icha yang sepertinya daritadi memperhatikanku sekarang mendekat, “Kak Aisyah?”, tangan kecilnya mengusap air mataku. “Kak Aisyah kenapa?”, tanyanya heran. “Ga apa-apa sayang, Kak Aisyah lagi baca cerita di internet, ceritanya sedih banget, jadi Kak Aisyah nangis deh. Kak Aisyah ke kamar duluan ya”, aku berbohong pada Icha, anak kecil yang tidak bersalah. Vika dan Farah yang saat itu memperhatikanku juga, sepertinya mengetahui kalau aku tidak jujur pada Icha. Mereka sudah tumbuh dewasa, mereka pasti mengerti aku bukan sedang menangisi sebuah cerita.

****
           
            Entah mengapa, hari-hariku saat ini terasa tidak bersemangat. Mengerjakan apapun aku tidak pernah bisa fokus. Aku masih memikirkan tentang Dika dan Fira. Dika adalah orang yang pertama kali aku cintai karenaNya. Aku sangat tulus mencintainya. Seorang pun tidak tahu tentang perasaanku ini, kecuali Allah dan aku sendiri. Saat di kampus pernah melintas perasaan ini pada Dika, tapi karena banyak hal yang harus aku urusi saat itu, aku tidak terlalu memperdulikan perasaanku dan akhirnya terkikis begitu saja. Awalnya aku mengagumi Dika sebagai sosok yang bertanggung jawab dan memiliki jiwa sosial yang tinggi. Sekarang, mengapa perasaan kagum itu terus tumbuh menjadi sebuah perasaan ingin memiliki? Aku wanita bodoh yang mengharapkan sesuatu yang tidak akan pernah mungkin bisa terjadi.
            Sepulang dari kantor aku merasa sangat lelah dan tubuhku sedikit panas, aku langsung menuju kamar tanpa ku sapa satu per satu anak-anak yang ada di rumah singgah. Ternyata sudah ada Fira di kamar, ia menungguku sejak tadi sore. “Aisyah”, wajahnya berbinar bahagia ia langsung memelukku dengan eratnya. “Aku kangen banget sama kamu, hampir satu bulan kita ga ketemu”. Aku pun memeluknya dengan erat, “Sama Fir, aku juga kangen banget sama kamu”. Kami pun duduk di atas tempat tidur dan berbincang banyak, seperti sahabat yang sudah bertahun-tahun tidak bertemu. Padahal hanya satu bulan saja kami tidak bertatap muka. Akhirnya perbincangan kami pun mengarah pada kabar bahagia yang waktu itu akan Fira sampaikan.
            “Oh iya Fir, berita bahagia apa? Jadi penasaran nih”, aku memulainya.
            Fira hanya tersenyum dan menggengam tanganku.
            “Hemmm sepertinya aku akan mendahului kamu. Aku telah menemukan tulang rusuk yang selama ini dirahasiakan keberadaannya oleh Allah. Satu bulan lalu, seseorang datang ke orangtuaku. Orangtuaku merestuinya. Aku memang sudah lama juga menaruh hati padanya. Do’akan aku ya Syah, rencananya dua bulan lagi”.
            Aku memeluk Fira dan lagi-lagi aku tidak sadar saat air mata mengalir di pipiku.
            “Selamat ya Fir, akhirnya kamu menemukan tulang rusuk yang selama ini kamu cari. Aku pasti do’akan yang terbaik buat kamu”.
            Fira melepaskan pelukannya.
“Makasih ya Syah. Aku do’akan juga kamu segera menyusul. Oh iya kamu juga mengenali siapa orangnya. Tapi kamu ga perlu tau sekarang”.
“Oh ya? Siapa ya aku jadi penasaran?”.
“Nanti kalau waktunya tepat aku pasti kasih tau. Kok kamu jadi nangis gitu sih, ga usah nangis gitu dong. Aku kan ga akan pergi kemana-mana lagi”.
“Aku nangis bahagia tau, aku terharu aja sahabatku sekarang sudah mau dibawa orang lain, nanti siapa yang ngurusin rumah singgah ini, kamu tega ya ninggalin aku sendirian”.
Aku sendiri pun bingung aku menangis karena apa. Karena berita bahagia ini? Atau karena hatiku yang belum bisa menerima semua ini.

****
        
Pagi ini kepalaku sangat berat. Aku tidak bisa bangun dari tempat tidurku. Fira yang saat itu akan siap-siap ke kantor segera menghampiriku saat melihat aku kesulitan untuk bangun. Disentuhnya kening dan leherku saat itu. “Astaghfirullah, badan kamu panas banget Syah. Kita ke dokter sekarang ya”. Aku tidak menjawab apapun, aku langsung dibawanya ke dalam mobil. Fira menghubungi orangtuaku dan menjemput ummi di rumah. Ternyata ummi sudah siap-siap di depan pintu pagar. “Pantes tadi malam ummi ga bisa tidur, ternyata kamu sakit Syah”, diperjalanan ummi terus memijit kepalaku, walaupun sudah besar begini ummi masih saja memperlakukan aku seperti anak kecilnya. “Iya nih ummi, Aisyah ga bilang kalo sakit. Tadi pagi tiba-tiba udah panas banget badannya, Fira jadi khawatir takutnya kenapa-kenapa”, Fira menyahut sambil mengendarai mobil. “Jadi ngerepotin nak Fira, ke kantornya jadi terlambat ya Fir?”, jawab ummi. “Ga apa-apa ko ummi, Fira udah izin telat”.
Aku masuk ke ruang pemeriksaan dengan ummi. Setelah mengantar ke rumah sakit, Fira langsung pergi ke kantornya. Ummi sudah menelepon Nuril untuk menjemput aku dan ummi nanti, adikku yang laki-laki yang saat ini sedang libur semester kuliah. Aku jadi merepotkan banyak orang. Ternyata aku hanya kecapean saja, darahku rendah dan maag ku kambuh karena akhir-akhir ini aku tidak teratur makan. Nuril sudah menunggu di depan rumah sakit, kami pun segera menaiki mobil. Kali ini aku pulang ke rumah, untuk beberapa hari ini sampai aku sembuh total baru aku akan kembali ke rumah singgah. Hari ini juga aku izin masuk kantor. Banyak pekerjaan yang aku tinggalkan rupanya.
Sudah empat hari aku diam dirumah, badanku sudah mulai segar kembali. Dari ruang tengah, terdengar suara orang yang mengetuk pintu rumah. “Nuril tolong bukain pintunya, ada tamu kayanya”. Nuril langsung membukakan pintunya, “Eh Kak Fira, Kak Dika, Ka Umam, hemmm sama Kania ya, ayo masuk”. Dika, Umam dan Nuril berbincang di ruang tamu, Fira dan Kania langsung menghampiriku di ruang tengah. “Gimana udah baikan Syah?”, tanya Fira padaku, “Alhamdulillah udah baikan Fir. Eh Kania, sini sayang, Kak Aisyah kangen banget sama anak-anak di rumah singgah”. “Dika sama Umam katanya mau jenguk kamu, nih mereka bawain makanan buat kamu Syah”. Fira memberikan dua kantung kresek berwarna putih, yang satu dari Dika dan yang satu dari Umam. Sudah hampir satu jam mereka ada disini, Fira harus kembali ke rumah singgah, Dika dan Umam juga punya urusan masing-masing. Dika dan Umam menuju ruang tengah untuk melihat keadanku sekaligus mau pamit pulang. “Aisyah, kita pamit pulang ya, syafakillah”, kata Umam saat itu. “Syafakillah Syah, udah ditunggu sama anak-anak tuh di rumah singgah. Afwan ganggu waktu istirahatnya. Kita pamit pulang dulu. Assalamu’alaikum”, ucapan Dika saat itu membuatku teringat pada rencana pernikahan Dika dan Fira dua bulan kedepan.      

****

Di kantin tempat kerja Dika dan Umam. Mereka memperbincangkan sesuatu yang serius.
“Mam, afwan ya kalo akhir-akhir ini saya sering berkomunikasi dengan Fira”, Dika meminta maaf pada Umam.
“Ya silahkan aja, saya tau kalian berdua sudah bersahabat sejak kecil. Jadi pasti kalian sudah seperti kakak dan adik.  Asal jangan kamu ambil Zhafira dari saya ya. Dua minggu lagi, jadi dag dig dug nih Dik”, jawab Umam.
“Santai aja bang, saya segera menyusul kamu dan Fira. Fira wanita baik, jaga dia baik-baik. Saya sudah anggap Fira seperti adik saya sendiri”, Dika menegaskan.
“Siap bang! Ngomong-ngomong, kapan mau menyerahkan proposal pada orangtua dan murabbi akhwat itu?”, Umam mengalihkan pembicaraannya.
“Mungkin setelah kamu dan Fira menikah. Saya harus memantapkan hati dan mencari tahu banyak informasi tentang akhwat itu. Salah satunya ya lewat Fira dan murabbinya. Murabbinya sudah saya hubungi. Kalau waktunya sudah tepat saya hubungi dia dan orangtuanya”, jawab Dika mantap.

****

 Satu bulan lebih dua minggu berlalu, ini berarti dua minggu lagi mendekati hari H, pernikahan Dika dan Fira. Tapi sampai saat ini Fira belum mau memberitahu siapa calon imamnya kepadaku. Fira sibuk mempersiapkan pernikahannya dan jarang sekali datang ke rumah singgah. Handphoneku berdering, satu pesan masuk dari ummi Meyda, murabbiku. “Assalamu’alaikum wr wb. Ukhti, punya waktu sore ini? Ada hal yang harus disampaikan, ummi tunggu di mesjid dekat kantormu ya”.
Sore ini aku langsung menuju mesjid dekat kantorku, ummi Meyda sudah menungguku disana. Tanpa berbicara panjang, ummi langsung menyampaikan maksudnya ingin bertemu denganku. Katanya ada seseorang yang  mengkhitbahku, yang ingin menjadikan aku istrinya. Aku sangat kaget, sedangkan hatiku belum bisa berpaling dari Dika, sosok laki-laki yang aku inginkan, yang sebentar lagi akan menikah dengan sahabatku Fira. Tapi kalau aku terus dihantui perasaan seperti ini malah akan menyakiti hatiku sendiri. Aku mulai ikhlas dan menerima semuanya. Aku mulai membuka hatiku untuk laki-laki yang akan mengkhitbahku sekarang. Pilihan murabbiku pasti yang terbaik untukku. “Aisyah, ikhwan yang datang pada ummi sepertinya sungguh-sungguh. Ummi mengenalnya sebagai ikhwan yang sholeh dan bertanggung jawab. Amalannya bagus, sikapnya baik, ummi rasa ikhwan ini baik untuk mu. Dia juga sudah mengenalmu, kamu juga mengenalnya”, papar ummi. “Memang ada yang mau mengkhitbahku ummi, laki-laki mana yang mau menjadikan aku istrinya?”, jawabku merendah. “Buktinya ada yang menghubungi ummi untuk mengkhitbahmu”, jelas ummi lagi. “Kalau boleh tau, siapa ummi orangnya? Supaya Aisyah mudah untuk menjalankan proses ta’aruf”. “Laki-laki itu teman kampusmu, namanya Handika El Shirazy”, jawab ummi.
Apa aku tidak salah dengar? Dika? Bukankah dia akan segera menikah dengan Fira? Apakah ini Dika yang lain? Tapi ini jelas-jelas Dika, laki-laki yang aku cintai. Kenapa tiba-tiba seperti ini? Aku jadi semakin tidak mengerti. Aku terdiam tidak berbicara apapun, wajahku terlihat bingung saat itu. “Bagaimana Aisyah? Apa kamu akan menerimanya?”, tanya ummi. Aku terdiam lagi. “Aisyah?”, tanya ummi lagi. “Aisyah belum tau ummi, nanti Aisyah kabarkan lagi, beri Aisyah waktu tiga hari saja”.
Kalimat itu mengakhiri perbincanganku dengan ummi. Di perjalanan pulang aku seperti orang bodoh yang baru saja turun dari roller coaster. Banyak pertanyaan dikepalaku, jawabanku sekarang hanya satu, Fira. Saat itu juga aku langsung menuju rumah Fira. Pintu rumahnya terbuka, ada Fira sendirian di ruang tamu yang sedang menyusun undangan pernikahan. “Assalamu’alaikum”, “Wa’alaikumsalam, eh Aisyah sini masuk”, jawab Fira. Aku langsung mengambil salah satu undangan yang menumpuk di atas meja. Undangan Pernikahan, Umam Ramadhana & Zhafira Nur Kamilah.
“Umam?”, tanyaku kaget.
“Iya, tadinya aku mau ngasih tau nanti, tapi kamu udah keburu liat undangannya, jadi ketauan deh”, jawab Fira.
“Aku jadi ga ngerti sama semuanya. Bukannya kau mau nikah sama Dika kan?”.
“Dika? Jadi selama ini kamu kira laki-laki yang mau menikahiku Dika? Dia udah kaya abangku sendiri. Ga mungkin lah aku nikah sama dia, aku udah tau sifat konyolnya kaya gimana waktu kecil. Kayanya kamu emang udah harus tau yang sebenarnya Syah”, jawab Fira sambil tertawa.
“Kamu, Umam, Dika, Ummi Meyda, berhasil bikin aku kaya orang bodoh tau ga?”, kataku kesal.
“Afwan ya. Masa seorang Aisyah yang sholehah, calon hafizah yang tinggal lima juz itu kaya orang bodoh sih? Ga keliatan ko kaya orang bodohnya”, canda Fira.
Aku melempar Fira dengan bantal yang ada di kursi.
“Aduh Aisyah, jahat banget sih”, katanya masih tertawa.
Dengan perasaan yang lega, aku menceritakan tentang maksud Dika yang mau mengkhitbahku.

****

Hari yang sakral untuk Fira dan Umam tiba juga. Mereka kini resmi menjadi sepasang suami istri yang siap membentuk keluarga yang sakinah. Satu minggu setelah pernikahan mereka, Dika datang ke orangtuaku. Aku pun menerimanya. Tiga bulan menjalani proses ta’aruf, kami langsung mempererat ikatannya dengan ucapan janji suci.
Inilah skenario cinta-Nya yang telah dipersiapkan untukku. Kini aku bahagia hidup bersama seseorang yang aku cintai dengan tulus, begitupun sebaliknya, Dika mencintaiku dengan sangat tulus. Tak pernah terbesit sedikit pun dipikiranku kalau akhirnya akan indah seperti ini. Tentang catatan di facebook waktu itu, ternyata itu ditujukan untukku. Katanya sekarang berlian yang tak ternilai harganya itu sudah menjadi miliknya.

No comments:

Post a Comment