18 January 2013

Tugas Kita Masih Banyak

Hujan betah sekali menangisi bumi hari kemarin, tidak ada jeda sedetik pun. Itu tandanya rahmat-Nya juga tidak berhenti, sedetik pun. Bermodalkan jas hujan, aku beranikan diri menerobos lemparan air di antara hilir mudik kendaraan yang saling sikat, meninggalkan tumpukkan script pemrograman yang belum sempat aku selesaikan. Hari sudah menjelang malam.

Countdown di perempatan lampu merah menunjukkan 45 detik terakhir. Semua pengendara patuh dengan pengatur lalu lintas itu. Air hujan terus memukul-mukul wajah kami, para pengendara sepeda motor. Tubuh kecil yang seharusnya kini bermain bersama teman-teman sebayanya mewarnai suasana kemacetan kendaraan yang tidak beraturan, menyumbangkan suaranya untuk menghibur, meminta belas kasih dari sebagian pengendara yang mungkin saja mau memberikannya uang. Ah, kasihan sekali anak itu. Aku berpikir sejenak, tidak adakah hati orangtua yang telah melahirkannya? Bukankah mungkin dahulu mereka sangat menginginkan hadirnya seorang anak? Entah, aku tidak tahu apa alasannya.

Hijau adalah warna lampu pengatur lalu lintas yang sangat ditunggu para pengendara, aku melaju dengan kecepatan standar, tidak terlalu cepat atau lambat. Aku tahu jalanan sangat licin, aku tidak mau ambil resiko. Di perempatan lampu merah yang kedua, tampak ramai-ramai para pemuda bersorak bahagia. Mengibarkan bendera warna biru tua yang serasi dengan pakaian mereka, bertuliskan “PERSIB BANDUNG”. Aku berpikir mundur. Ya, tadi orang-orang di kantor sibuk sekali membicarakan pertandingan sepak bola. Dan dengar-dengar klub sepak bola asal Bandung itu memenangkan pertandingan. Oh, itu alasannya.

Raut kebahagiaan dari wajah pecinta sepak bola asal Bandung itu bersaut-sautan dengan suara hujan yang sejak pagi belum juga berhenti. Mematikan jalan para pengendara. Kesal, pasti itu yang dirasakan kami semua. Mereka nampaknya ingin sekali menunjukan kebahagiaannya pada kami, menunjukan kebanggaannya pada kami. Suara knalpot yang sengaja dibunyikan mengikuti nyanyian yang mereka teriakkan, berisik sekali. Riuh ramai menjalankan sepeda motor dengan tak memikirkan keselamatan diri sendiri dan orang lain, ugal-ugalan. Tanpa mengenakan pelindung kepala, apalagi jas hujan. Hingga Pak Polisi yang berjejer sepanjang jalan, tak kuasa lagi menahan para “bobotoh” itu. Dibiarkan begitu saja. Aku sedikit berkeluh, hukum tidak adil. Mengapa mereka yang jelas-jelas tidak mengenakan pelindung kepala, jalan ugal-ugalan, dibiarkan begitu saja? Ya sudahlah, aku mengerti.

Potret wajah pemuda yang memuja-muja idolanya. Menang dipuja-puja, kalah dihina-hina. Bahagia, bangga, boleh saja. Tetapi tidak harus berlebihan juga. Miris memang menyaksikan semua itu, andai mereka tahu ada seseorang yang seharusnya lebih layak dipuja-puja, Rasul mereka sendiri, Nabi Muhammad saw.

"Sudah berapa banyak orang-orang yang tersentuh oleh tangan dakwahku? Ya Rabb, sedikit sekali apa yang telah aku lakukan". - Tia Yusnita

Ternyata tugas kita masih banyak, tugas kita masih panjang, tugas dakwah kita. Diluar sana masih banyak teman-teman kita yang belum tersentuh dakwah, terbalut oleh indahnya islam.


No comments:

Post a Comment