13 September 2012

Lima Syarat


Suatu ketika ada seorang leleki datang ke Abu Isak, untuk meminta nasehat. Kata lelaki itu! Wahai Abu Isak!. Saya ini gemar sekali melakukan maksiyat, saya ingin berhenti, tetapi tidak bisa, tolonglah aku beri nasehat, agar aku tidak bermaksiyat lagi, lalu Abu Isak menjawab, kalau kamu ingin bermaksiyat, kata Abu Isak! Kamu harus bisa memenuhi lima syarat! Heran campur bingung lelaki itu bertanya lagi, Apa saja lima syarat itu? Syarat yg pertama kata Abu Isaq, kalau kamu ingin bermaksiyat kepada Allah, janganlah kamu makan dari rizki-Nya, kalau aku tidak makan dari Rizki Allah, Kata Lelaki Itu, Aku makan dari siapa? Kalau begitu! Pantaskah engkau memakan dari rizki Alloh, sedangkan engkau suka melangar perintahn-Nya. Kata Abu Isak! Lalu apa syarat yang kedua, syarat yang kedua, syarat yg ke dua, kalau kamu ingin bermaksyiat jangnlah engkau tinggal di bumi Allah, aku harus tinggal dimana? Kata lelaki itu, sedangkan bumi dan langit ini semuanya milik Allah, kalau begitu kata abu isak! pantaskah engkau makan dari rizki Allah, dan tinggal di bumi-Nya, sementera engkau selalu menentang perintah-Nya. Lelaki itu terdiam lalu beratnya lagi? Lalu apa lagi syarat yang ke tiga? Syarat yg ke tiga” Jika kamu tetap makan dari rizki Allah dan tetap tinggal di bumi Allah, tapi engkaupun ingin tetap melakukan  maksyiat, silahkan saja! Asal, engkau lakukan di tempat yg tidak di lihat oleh Allah. Wahai abu isak! Kata lelaki itu mana mungkin saya bersembunyi di tempat yg tidak dilihat oleh Allah, sementara dia adalah Zat yg maha awas, jika demikian, lalu mengapa engkau tetap bermaksiat kepada-Nya, tegas Abu Isak, “ Baiklah” sekarang apa syarat yg ke empat? Kalau malaikat maut datang menjemputmu sedangkan engkau dalam keadaan bermaksyiat, katakan saja kepadanya, jangan mencabut dulu nyawaku, beri dulu aku kesempatan agar aku bisa bertobat dan beramal soleh! Wahai Abu Isak, Mana mungkin! Kalau kamu sadar bahwa kematian tdak bisa di tunda, lalu  mengapa engkau tetap tak melaksanakan perintah dan larangan-Nya, “baiklah! Sekarang apa syarat yg ke lima? Apakah enkau sudah tahu Nasibmu di akhirat masuk Surga atau Neraka?” Abu Isak Balik bertanya? “Saya tidak tahu, kata lelaki Itu! Kalau kamu tidak tahu nasibmu di akhirat masuk surga atau masuk neraka, hal itu seharusnya sudah cukup untuk menghentikan dirimu dari kegemaran berbuat maksyiat kepada-Nya. Lelaki itupun menangis, ia kemudian berkata,” cukup-cukup wahai Abu Isak! Jangan engkau teruskan lagi,” mulai hari ini aku akan bertobat dengan sebenar-benarnya kepada Allah,” aku berjanji mulai hari ini aku tidak akan bermaksyiat lagi,” sejak mendengar nasehat dari Abu Isaq  lelaki itu berubah menjadi orang yang soleh, dan berusaha menjauhi segala kemaksiyatan kepada Allah”. Sepenggal kisah tadi seharusnya sudah cukup memberikan ibrah/pelajaran bagi kita betapa tidak pantasnya seorang manusia, apalagi mengaku muslim banyak melangar perintah Allah,” sebagaimana kata Nabi manuasia adlah tempat salah dan khilaf, namun sengaja berbuat maksyiat kepada Allah , apalagi gemar melanggar perintahnya, bukanlah sikap sejati seorang Muslim. Begitulah manusia sering lupa diri, bahkan sering tak tahu diri, ia diberi kesempatan tinggal di bumi ini oleh Allah, diberi rizki oleh Allah, malah sering melupakan”, bahkan berani menentang perintahnya,” ia senantiasa diawasi oleh Alla” selalu di intai oleh malaikat maut” tapi, tak pernah menyadarinya, bahkan banyak manusia yg bangga dengan kemaksiyatan yang dilakukannya.

1 comment:

  1. Subhanalloh, ternyata kita tetap mahluk sosial yang selalu membutuhkan orang lain untuk saling mengingatkan. Terima kasih mba ulasan kisah yang sangat bermanfaat.

    Salam hangat dari Tasikmalaya ^_^

    ReplyDelete