"Woaaah lima menit lagi!"

Aku bergegas memarkirkan motor dan berlari menuju komputer absen. Memasukan 6 digit angka yang tidak lain adalah nomor induk karyawan milikku.

Istighfar! Anda datang terlambat.

Kurang lebih begitulah pesan aplikasi absen kalau karyawannya datang terlambat.


Aku masuk ke ruangan bertuliskan "Marketing & Keanggotaan" kemudian lepas helm, lepas jaket, rapi-rapi kerudung, dan langsung meluncur ke Mesjid setengah berlari. Terlihat beberapa orang yang berseragam sama sepertiku juga setengah berlari. Sayup-sayup suara tilawah Al-Quran terdengar dari kejauhan. Tandanya kajian sudah dimulai.

Sepatu pantopel hitam khas wanita berjajar rapi di rak sepatu, aku menyimpan sepatuku di tempat yang masih kosong. Lalu menaiki anak tangga satu per satu menuju lantai 2 Mesjid. Beberapa wanita bergamis biru dongker dan berkerudung putih sudah berdiri di shaf paling belakang. Aku pun ikut berdiri diantara mereka. Seorang wanita yang tegas namun lembut mencatat nama-nama orang yang berdiri. Mulutku komat-kamit, mengaji mengikuti lantunan ayat suci Al-Quran yang sedang dibaca oleh qori.

"Shodaqallahul 'adzim"

Pemandu acara kembali memandu Kajian Kamis Pagi Santri Karya.  Sementara, kami masih berdiri di shaf belakang menunggu sampai sang guru dipersilahkan masuk ke lantai utama Mesjid. Oh ya, santri karya adalah sebutan untuk karyawan dan karyawati yang bekerja disini.

Tak lama kemudian seorang laki-laki berwajah teduh dengan lilitan sorban khas di kepalanya, mengenakan jasko (jas koko) dan celana panjang hitam muncul dari pintu belakang mimbar. Duduk di kursi yang telah disediakan lalu mendekatkan microphone ke arah mulutnya seraya mengucapkan kalimat rahmat.

"Assalaamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh"


Kami yang berdiri dibelakang dipersilahkan untuk duduk membentuk shaf.

Nasihat demi nasihat bergema dari sudut-sudut speaker mesjid. Sang guru tak pernah bosan mengingatkan kami tentang Allah, tentang akhirat, dan tentang dunia yang hanya sementara. Kemudian, sang guru sedikit membahas tentang disiplin.

"Orang-orang yang kurang disiplin biasanya mereka tidak disiplin dalam waktu sholatnya." Sang guru berkata.

Seketika aku tertunduk malu. Nasihat itu seperti roket yang melesat masuk ke dalam hatiku. Teringat segala kelalaian yang telah aku lakukan. Terutama kelalaian terhadap-Nya.

Itulah bagian dari berlembar-lembar episode mengesankan selama aku bekerja disana.

Tilawah bersama setiap pagi. Kebersamaan setiap jum'at. Belajar tahsin setiap selasa. Bersih-bersih jalan Gegerkalong setiap rabu. Ambil bagian di acara-acara besar Daarut Tauhiid. Dan masih banyak hal yang tak mungkin terlupa dari ingatan.

Dan untuk sahabat-sahabatku, manfaatkan waktu selama masih berkarya disana. Gali terus potensi. Jangan sia-siakan segala kemudahan yang ada. Terutama kemudahan bisa berguru langsung pada sumber ilmu.

Tak mudah untuk menemukan kenyamanan. Tidak semua orang bisa menemukan zona nyaman mereka. Ada banyak orang yang bahkan sampai tua, masih saja belum menemukan titik nyaman dalam kehidupan mereka. Daarut Tauhiid adalah tempat yang nyaman untuk terus belajar.


April 2013 - Maret 2018.

Lima tahun.

Bukan waktu yang sebentar untuk sebuah perjalanan. Perjalanan yang mengantarkanku di posisi sekarang ini, menjadi seperti ini.

Daarut Tauhiid adalah sebuah kisah yang pernah hadir dalam kehidupanku dan selamanya akan membekas di hati. Bagaimana tidak? Setiap hari, setiap detik, aku diingatkan tentang bagaimana caranya mengenal Allah. Melalui seorang Kiyai yang bersih hatinya.

Daarut Tauhiid bagiku bukan tempat untuk mencari pundi-pundi rupiah, bukan pula tempat untuk mengejar karir gemilang, namun tempat orang-orang yang ingin berjuang menegakkan tauhiid. Seperti namanya.

Aku bahagia pernah menjadi bagian dari keluarga besar ini, meski tak jarang lelah dan air mata menghampiri. Aku bahagia malam-malamku pernah dihiasi amanah-amanah tak berkesudahan yang saat ini menjadi kenangan yang ku rindukan.

Maka wajarlah dalam sebuah perjalanan, ada yang datang, ada yang pergi, ada yang menggantikan, ada yang tergantikan.

Dimanapun aku berada, peran apapun yang aku jalani saat ini, semoga di ridhoi oleh Allah SWT.

Terimakasih,
Tim Cottage Daarul Jannah.
Tim Marketing & Keanggotaan.
Akhwat-akhwat sholehah Kopontren Daarut Tauhiid.

Terimakasih, Daarut Tauhiid.
View Post


Rumah sakit menjadi tempat yang tidak asing lagi untuk saya saat itu. Tiga bulan pertama pengobatan, setiap 2 minggu saya harus kontrol untuk cek BTA dan mengambil obat. Mengantri bersama pasien TB yang lain untuk sama-sama berjuang melawan bakteri Mycobacterium Tuberkulosis.

Awalnya, saya selalu merasa sendiri melawan sakit ini. Tapi kalau sudah di rumah sakit, banyak yang 'senasib' dengan saya sehingga semangat untuk kembali sembuh selalu bertambah setiap harinya.

Hari-hari yang berat karena ketika sedang pengobatan saya sedang menjalankan salah satu kewajiban saya di bangku kuliah, yaitu Praktek Pengalaman Lapangan (PPL) di salah satu Madrasah Tsanawiyah di Kota Bandung. Saya tidak mungkin menunda kewajiban ini, karena saya merasa mampu untuk beraktivitas setelah batuk berangsur membaik dan hilang.

Saya berusaha meyakinkan para guru bahwa saya akan berhati-hati dan tidak kontak langsung dengan siswa. Saya izin menggunakan masker di dalam kelas dan melepasnya ketika sedang menjelaskan pelajaran saja. Alhamdulillah, Allah Maha Baik. Sekolah mengizinkan saya untuk tetap mengajar.

Di sisi lain, saya juga berusaha meyakinkan pihak kantor tempat saya bekerja, terutama rekan-rekan satu satu ruangan bahwa mereka akan aman selama saya berhati-hati. Lagi-lagi, Allah Maha Baik. Tak henti-hentinya dukungan untuk sembuh datang dari rekan-rekan saya. Alhamdulillah.

Selama 6 bulan pertama pengobatan, saya konsumsi obat anti tuberkulosis (OAT) berbentuk kaplet berwarna merah. Diminum setiap hari setiap jam 5.30 sebanyak 4 buah. Entah sudah berapa ratus butir obat yang masuk ke dalam tubuh ini. Saya sudah tak ambil pusing lagi dengan itu.


Tiga bulan terakhir pengobatan, saya konsumsi obat anti tuberkulosis (OAT) berbentuk tablet berwarna orane. Diminum setiap hari selasa, kamis, dan sabtu atau 3 kali dalam seminggu. Diminum setiap jam 5.30 sebelum sarapan pagi.
 

Ikhtiar lain yang saya lakukan adalah:

1. Sebisa mungkin menghindar dari asap rokok.
2. Olahraga ringan di tempat hijau.
3. Mengupayakan agar sirkulasi udara di dalam rumah baik dan terpapar sinar matahari.
4. Makan makanan yang bergizi terutama yang mengandung protein.
5. Menghindari hal-hal penyebab stress.
6. Rutin minum madu pahit untuk menghilangkan batuk. Alhamdulillah saya cocok.
7. Mengedukasi orang-orang sekitar tentang bahaya TB.

Lalu bagaimana dengan biayanya? Mengingat waktu pengobatan yang lama sudah pasti membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Kementerian Kesehatan memastikan pasien yang positif mengidap penyakit TB agar segera berobat ke rumah sakit atau fasilitas kesehatan karena tidak dikenakan biaya atau gratis. Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Mohamad Subuh mengatakan, "Untuk beban pembiayaan kesehatan atau kasus TB reguler antara Rp 400 ribu hingga Rp 1,2 juta dan biaya satu kasus TB MDR lebih dari Rp 100 juta atau sekitar Rp 120 juta hingga sembuh." (Dikutip dari republika.co.id)

Saya sendiri menggunakan fasilitas BPJS Kesehatan. Prosesnya cepat dan mudah. Saya tidak mengeluarkan uang sepeser pun untuk biaya pengobatan dan obat. Hanya biaya ongkos bolak-balik ke rumah sakit saja.

Dokter dan perawat sudah seperti orangtua kedua bagi saya. Setiap kontrol, mereka selalu menekankan agar DISIPLIN minum obat, karena itu kunci utama untuk melawan bakteri TB. Alhamdulillah, saya bertemu tenaga medis yang sabar dan telaten. Tak lupa dukungan keluarga dan orang-orang terdekat juga sangat berpengaruh besar terhadap psikis kita.

Harapan sembuh pasien tuberkulosis sangat besar jika tak putus menjalani pengobatan. Kuncinya disiplin, sabar, dan yakin hanya Allah yang Maha Menyembuhkan. Alhamdulilah saya sembuh total dari tuberkulosis paru setelah menjalani pengobatan selama 9 bulan. Ah, rasanya sudah lama ingin berbagi pengalaman ini dan dengan izin Allah bisa tertuliskan sekarang. Kamu juga pasti bisa sembuh. Semangat!
View Post

Tahun 2016 adalah tahun yang cukup berat bagi saya, karena saya harus menjalani pengobatan selama kurang lebih 9 bulan. Lama banget? Ya, saya terkena Tuberkulosis (TB) saat itu. Salah satu penyakit yang angka kematiannya cukup tinggi di Indonesia.

Tuberkulosis menempati urutan ke-4 sebagai salah satu penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Sedangkan menurut data dunia, setiap 18 detik diperkirakan 1 orang meninggal dunia akibat TB atau sekitar 1,7 juta orang tiap tahunnya (Sumber: Balitbangkes Kemenkes, 2014).

Awalnya saya batuk berdahak lebih dari 3 minggu. Segala usaha saya lakukan untuk mengobati batuk karena sangat mengganggu aktivitas. Saya juga sering mengeluh sakit bagian diafragma karena batuk yang cukup berat.

Ikhtiar pakai obat apotek, herbal, dan berakhir dengan resep dokter. Tapi gak ada satu pun yang membuahkan hasil. Akhirnya dokter menyarankan saya untuk rontgen, karena ciri-ciri yang saya rasakan mengarah pada tuberkulosis. Awalnya gak percaya saat dokter mengatakan ini, "Khawatirnya TB, jadi saya buat surat rujukan saja untuk rontgen dan cek dahak (BTA) ya. Supaya bisa dipastikan."

Rontgen dan cek BTA segera saya lakukan dan hasilnya keluar satu hari kemudian. Esok harinya, Mama menemani saya menuju rumah sakit untuk bertemu dokter spesialis paru. Ternyata banyak banget pasiennya. Saya harus menunggu kurang lebih 2 jam untuk dapat giliran berobat.

Momen yang menegangkan bagi saya ketika menyerahkan hasil rontgen dan hasil BTA pada dokter. Dokter menerawang hasil rontgen, membaca hasil laboratorium, kemudian menatap saya sambil bertanya.

"Di rumah atau di lingkungan tempat tinggal ada yang sedang pengobatan TB tidak?"

"Gak ada dokter." Mama menjawab.

"Bisa dilihat ya ini ada flek dan BTA nya positif +2."

"Jadi bagaimana dokter?" Tanya mama yang belum paham dengan penjelasan medis dokter.

"Jadi harus pengobatan 6 bulan ya."

Tiba-tiba keluar air dari ujung-ujung mata saya.

"Jangan khawatir. Kuncinya tak putus pengobatannya. Banyak makan makanan yang bergizi, terutama protein dan karbohidrat." Sepertinya dokter menangkap kekhawatiran dari raut wajah dan mata saya.

"Ada pantangan makanan tidak dok?" Mama bertanya.

"Sejauh ini tidak ada Bu. Saya jelaskan sedikit ya. Tuberkulosis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Tuberkulosis. TB pada umumnya mempengaruhi paru-paru. TB menular melalui udara di dalam ruangan yang membuat bakterinya dapat bertahan lama, lewat air liur penderita.

Gejala-gejala yang timbul biasanya batuk berdahak lebih dari 2 minggu, penurunan berat badan, berkeringat di malam hari, demam."

"Iya saya suka keringetan kalau malam dok."

"Usahakan ruangan memiliki ventilasi yang cukup. Tidak lembab. Oh ya, sekarang sedang kerja atau kuliah?"

"Kerja sambil kuliah dokter."

"Usahakan pakai masker setiap hari ya, kecuali saat tidur dan mandi saja. Pisahkan alat mandi dan alat makan dari anggota keluarga yang lain."

Saya masih terdiam tidak merespon penjelasan dokter. Mama yang banyak bertanya saat itu.

"Kontrol berat badan, harus naik terus. Nanti penggunaan obatnya dijelaskan sama perawat ya."

"Iya dokter." Hanya kata itu yang keluar dari mulut saya.

Kemudian saya menuju meja perawat sambil memberikan kertas resep yang ditulis dokter selama berobat tadi.

"Hmm positif +2, ini pakai maskernya." Perawat memberikan selembar masker antiseptik untuk saya pakai.

"Nanti tebus obatnya di apotek ya. Obatnya kaplet warna merah. Diminum setiap hari sebelum sarapan. Sekali minum 4 kaplet. Biasanya sarapan jam berapa?"

"Jam 6 sebelum berangkat kerja."

"Kalau begitu minum jam 5.30. Gak boleh kelewat. Kalau kelewat harus ulang lagi dari awal. Oh ya, nanti air seni nya berubah jadi warna merah jadi jangan kaget kalau pas buang air kecil ya."

"Iya Bu"

"Ini resepnya untuk 2 minggu dulu, nanti kembali lagi kesini setelah 2 minggu. Harus disiplin. Mudah-mudahan cepat sembuh ya."

"Aamiin, makasih Bu."

Saya berjalan dengan langkah yang masih berat menuju apotek. Mama masih terus menenangkan saya dan mencoba meyakinkan saya bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Sampai di rumah saya mencoba menenangkan diri. Saya benar-benar bingung dan belum bisa menerima kalau harus minum obat setiap hari selama 6 bulan. Masih terus memikirkan apa hikmah dibalik semua kejadian ini.
View Post

Mengerjakan NHW, apalagi NHW yang ke-4 ini memang tidak bisa SKS. Perlu dihayati, diresapi, dan dinikmati karena benar-benar menguras pikiran dan hati. Menentukan visi dan misi yang akan dijalani seumur hidup tidak bisa main-main dan ala kadarnya saja. Seberapa serius kita memikirkan visi dan misi hidup samadengan seberapa serius kita menjalani kehidupan ini. Berat banget ya? Sungguh, bagi saya memang berat karena pertanggungjawabannya dunia dan akhirat. Ya Allah, mampukan hamba :(


Mari kita lihat kembali NHW#1 apakah sampai hari ini anda tetap memilih jurusan ilmu tersebut di Universitas kehidupan ini? Atau setelah merenung beberapa minggu ini, Anda ingin mengubah jurusan ilmu yang akan Anda kuasai?

Saya tetap memilih untuk menekuni dunia kepenulisan dan terus mengasah kemampuan menulis saya. Setelah rutin menulis, saya menjadi termotivasi untuk rutin membaca. Setelah banyak membaca, saya lebih banyak mendapatkan ilmu. Setelah mendapatkan ilmu, saya menjadi lebih berhati-hati dalam bertindak dan mengambil keputusan dalam hidup ini. Semakin bertambah ilmu, saya semakin sadar kalau diri ini sangat bodoh. Semakin bertambah ilmu, saya semakin tertunduk dan mengimani ke-Maha Besar-an Nya.

Mari kita lihat NHW#2 sudahkah kita belajar konsisten untuk mengisi checklist harian kita? Checklist ini sebagai sarana kita untuk senantiasa terpacu “memantaskan diri” setiap saat. Latih dengan keras diri Anda, agar lingkungan sekitar menjadi lunak terhadap diri kita.

Sebagian besar berjalan dengan baik dan lancar, namun masih ada beberapa poin yang belum bisa konsisten. Tapi saya tidak akan menurunkan standar indikator tersebut dan tidak akan memberikan kelonggaran terhadap diri saya. Saya akan berusaha keras untuk menjalankan checklist yang telah saya buat. Saya akan memperbaiki setiap indikator menjadi lebih detail dan di desain lebih menarik supaya lebih semangat menjalankannya.

Baca dan renungkan kembali NHW#3 apakah sudah terbayang apa kira-kira maksud Allah menciptakan kita di muka bumi ini? Kalau sudah, maka tetapkan bidang yang akan kita kuasai sehingga peran hidup Anda akan makin terlihat.

Saya memiliki latar belakang pendidikan dan pengalaman bekerja di bidang teknik informatika dan desain grafis. Namun, setelah bekerja di salah satu Pondok Pesantren di Kota Bandung, saya memutuskan untuk melanjutkan kuliah di bidang Pendidikan Agama Islam. Gak berhubungan ya? Hmmm, awalnya memilih jurusan ini karena saya merasa miskin sekali ilmu agama dan kelak saya ingin mendidik anak-anak saya dengan baik dan benar sesuai tuntunan agama Islam. Saya belum pernah benar-benar memiliki alasan yang kuat untuk menjadi guru agama setelah lulus dari jurusan Pendidikan Agama Islam ini.

Hingga akhirnya, Allah mempertemukan saya dengan suami di bangku perkuliahan (kami teman satu kelas) dan menikah dengan beliau. Saya sering berdialog dengan suami tentang kualitas guru-guru TPA yang ada di lingkungan kami, terutama tentang kemampuan membaca Al-Quran. Suami ingin sekali memperbaiki sistem serta meningkatkan kualitas guru-guru TPA. Karena  menurut pengamatannya (yang memiliki pengalaman sebagai pengajar Al-Quran bertahun-tahun) masih banyak TPA yang hanya sekedar mengajarkan membaca Al-Quran tanpa menerapkan hukum bacaan dengan baik dan benar. Apalagi banyak orangtua yang memasukkan anak-anaknya ke sekolah umum, lalu sore harinya memasukkan anak-anakya ke TPA. Karena apa? Karena mungkin banyak orangtua belum memiliki kapasitas yang cukup baik untuk mengajarkan anak-anaknya untuk membaca Al-Quran di rumah.

Ya, mungkin ini. Mungkin ini maksud Allah. Mengapa Allah membairkan saya bekerja di sebuah Pondok Pesantren setelah lulus sekolah, mengapa Allah menuntun hati saya untuk memilih jurusan Pendidikan Agama Islam, untuk kemudian bertemu dengan seorang laki-laki yang tengah memperjuangkan tujuan mulia dalam hidupnya.

Mungkin ini maksud Allah. Saya tidak tahu ini tepat atau tidak, saya juga tidak tahu ini hanya mengira-ngira atau tidak. Yang saya tahu, saya adalah orang pertama yang harus medukung pergerakan suami untuk menjalankan salah satu misinya yaitu: meningkatkan kualitas membaca Al-Quran untuk orang-orang sekitar kami, khususnya guru-guru TPA. Saya harus memanfatkan ilmu Pendidikan Agama Islam yang saya dapatkan di bangku kuliah untuk menjalankan misi ini. Saya harus berguru pada suami saya untuk meningkatkan kemampuan membaca Al-Quran saya, kemudian mendampinginya menjalankan misinya.

Sampai saat ini, suami telah memiliki beberapa kelas privat membaca Al-Quran yang diantara salah satu kelasnya adalah guru-guru TPA. Saya baru benar-benar meresapi NHW#3 ketika saya mengerjakan NHW#4 ini, karena memang ketika mengerjakan NHW#3 saya masih meraba-raba.

Maka saya dapat menyimpulkan misi hidup saya adalah :
Misi Hidup : Menebar manfaat melalui potensi yang kami (saya dan suami) miliki.
Bidang : Kepenulisan dan tahsin Al-Quran.
Peran : Penulis dan pengajar tahsin Al-Quran.

Setelah menemukan 3 hal tersebut, susunlah ilmu-ilmu apa saja yang diperlukan untuk menjalankan misi hidup tersebut.

Untuk menjadi ahli di bidang kepenulisan dan tahsin Al-Quran, maka ilmu-ilmu yang saya perlukan adalah:
-            Bidang kepenulisan : mendalami ilmu-ilmu kepenulisan, penerbitan buku, pemasaran buku, self branding.
-            Bidang tahsin Al-Quran : mendalami ilmu tahsin dan public speaking (agar lebih lancar ketika mengajarkan Al-Quran).

Tetappkan milestone untuk memandu setiap perjalanan Anda menjalankan misi hidup.

Saya menetapkan KM 0 pada usia 24 tahun. Milestone yang ingin saya capai adalah sebagai berikut :
KM 0 – KM 1 (tahun 2018 - 2019) : Menguasai ilmu kepenulisan
KM 1 – KM 2 (tahun 2019 - 2020) : Menguasai ilmu tahsin dan public speaking
KM 2 – KM 3 (tahun 2020 - 2021) : Menerbitkan buku
KM 3 – KM 4 (tahun 2021 - 2022) : Menjadi pengajar di salah satu lembaga Al-Quran
KM 4 – KM 5 (tahun 2022 – 2023) : Menyelenggarakan pelatihan tahsin Al-Quran bersama suami

Koreksi kembali checklist Anda di NHW#2 apakah sudah Anda masukkan waktu-waktu untuk mempelajari ilmu-ilmu tersebut diatas? Kalau belum segera ubah dan cantumkan.

Saya akan memasukan waktu untuk belajar tahsin bersama suami minimal 2x per minggu dan mengikuti pelatihan tahsin Al-Quran di lembaga Al-Quran minimal 1x per minggu.

Lakukan, lakukan, lakukan, lakukan.

Bismillahirrahmaanirrahiim. Insya Allah, dengan izin Allah, saya pasti bisa!
 
View Post
stocksnap.io
Postingan tentang Institut Ibu Profesional beberapa kali seliweran di beranda instagram saya. Awalnya biasa saja, tapi lama-lama penasaran karena melihat antusiasme para kaum hawa yang sebegitu besar. Sampai-sampai harus rebutan kursi dan memantengi link pendaftaran, pokoknya udah kayak rebutan baju open pre order online shop. Berangkat dari rasa penasaran itu akhirnya saya mencari tahu dan menggali informasi dari teman-teman yang mengikutinya. Dari mulai buka web, follow instagram, sampai menelusuri hashtag #institutibuprofesional atau #iip atau #ibuprofesional. Pencarian saya pun berakhir dengan kalimat: “Fix! Batch selanjutnya harus ikut!”

Dan dengan izin Allah sampailah saya di Nice Homework ini.

Tugas pertama adalah menentukan satu jurusan ilmu yang akan saya tekuni di Universitas Kehidupan ini. Hemmm, cukup membuat saya bengong dan berpikir. Tugas pertamanya saja luar biasa begini, gimana dengan tugas-tugas selanjutnya ya? Ah, semakin penasaran untuk menuntaskan perkuliahan ini sampai akhir.

Jurusan yang pertama kali terlintas di benak saya adalah: menulis.

Kedengarannya gak istimewa sekali ya?

Dulu saya pernah menekuni bidang ini, bisa menghasilkan tulisan setiap hari, melahap banyak buku setiap minggu, waktu-waktu yang saya lalui terasa begitu produktif. Apapun yang saya dapatkan selalu saya ceritakan kembali dalam tulisan, baik itu ilmu, hikmah, atau pengalaman yang berkesan bagi saya. Namun, semangat menulis mulai memudar semenjak saya terkena Tuberkulosis Paru dan harus menjalani pengobatan selama 9 bulan lamanya. Penyakit TB adalah salah satu penyakit mematikan yang angka kematiannya cukup tinggi di Indonesia. Sembilan bulan saya lalui dengan cukup berat karena harus minum puluhan butir obat setiap minggunya, tidak boleh lepas dari masker kecuali saat mandi dan tidur, karena bakteri TB ini bisa menular melalui kontak langsung. Selama itu saya benar-benar vakum dari dunia kepenulisan. Singkat cerita, dengan izin Allah saya mampu melalui pengobatan hingga tuntas dan dinyatakan sembuh. Alhamdulillah, tak henti-hentinya saya mengucap syukur pada Allah.

Melalui matrikulasi ini saya ingin kembali produktif menulis. Kalau kata fasilitator saya agar fokus terhadap satu bidang kita harus memiliki strong why (alasan kuat). Kenapa menulis?

Pertama, menulis membantu saya menguatkan pemahaman, karena seringnya saya lupa hingga ilmu itu hilang begitu saja. Ali bin Abi Thalib radhiallahuanhu pernah berkata, “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya.”

Kedua, dengan menulis saya termotivasi untuk lebih banyak membaca. Suami juga suka banget baca, jadi kadang (seringnya sih) saya lemot ketika ngobrol suatu hal sama suami. Hehe. Selain itu, sebagian besar biografi orang-orang sukses yang pernah saya baca, mereka menjadikan membaca sebagai suatu kebiasaan. Ingin sekali menularkan kebiasaan baik ini kepada anak-anak saya kelak, maka orangtuanya dulu yang harus memulai. Iya, kan?

Ketiga, menulis membantu saya menyalurkan emosi, karena saya bukan tipe orang yang cukup baik ketika menyalurkan emosi secara langsung. Jadi, menulis merupakan media yang tepat untuk menyalurkan emosi bagi saya.

Keempat, saya ingin memiliki amal jariyah. Mudah-mudahan ada kebaikan dari apa yang saya tulis sehingga dapat memberikan manfaat untuk orang banyak, khususnya untuk anak-anak saya kelak. Saya termotivasi oleh ulama-ulama terdahulu yang mampu menulis ratusan bahkan ribuan kitab yang hingga saat ini karyanya sangat bermanfaat untuk umat.

Setelah memiliki alasan kuat dalam menulis, maka strategi menuntut ilmu yang harus saya upayakan adalah sebagai beriku

Pertama, disiplin dalam menulis minimal 1 minggu 1 tulisan di blog. Kedua, meningkatkan kemampuan membaca dengan cara menulis poin-poin penting dari apa yang sudah saya baca (quantum reading). Ketiga, aktif kembali di komunitas kepenulisan, karena sebelumnya saya sudah pernah bergabung, tapi satu tahun terakhir ini hanya menjadi silent reader. Keempat, mengikuti workshop kepenulisan atau acara bedah buku (jika ada kesempatan), karena biasanya semangat akan ter-charge kembali. Kelima, meminta bantuan suami untuk menjadi alarm atas strategi yang saya buat tersebut.

Berkaitan dengan adab menuntut ilmu, perubahan apa saja yang akan diperbaiki dalam proses mencari ilmu tersebut?

Berkaitan dengan perubahan sikap dalam proses menuntut ilmu, saya merasa banyak sekali yang harus diperbaiki. Jujur, materi pertama NHW membuat saya merenung. Poin-poin yang dipaparkan dalam materi Adab Menuntut Ilmu sangat mengusik hati saya.

Saya masih suka tidak sabar, pinginnya cepat paham. Masih suka merasa lebih tahu, padahal lebih banyak tidak tahunya. Masih suka menyepelekan kalau datang terlambat ke majelis ilmu. Masih suka menyimpan sumber ilmu (buku) sembarangan. Sikap-sikap tersebut ingin sekali saya perbaiki, bahkan dihilangkan samasekali.

Saya harus berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menghindari maksiat dan kesombongan sekecil apapun. Karena ilmu adalah cahaya. Dan cahaya tidak akan masuk pada hati yang sombong dan dipenuhi maksiat. Kemudian berusaha menghindari hal-hal yang sia-sia seperti: mendengarkan lagu menadayu-dayu nan galau; berbicara yang tidak perlu; dan berlama-lama online yang tidak menambah ilmu dan iman.

Mudah-mudahan Allah memberikan kemudahan dan keberkahan untuk setiap langkah kecil yang sedang saya upayakan. Do’akan, ya?

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

View Post
Baca panduan WHO, follow akun-akun MPASI, berselancar dari satu blog ke blog lain, nonton youtube, segala hal saya lakukan untuk memperoleh informasi tentang MPASI. Alhasil semakin banyak referensi saya malah semakin bingung hihi. Belum lagi peralatan MPASI dari mulai sendok sampe slowcooker yang menggoda mata serta dompet. Ada yang mengalami hal serupa?

Akhirnya saya dapat kesimpulan setelah nonton seminar MPASI yang disampaikan oleh dr. Klara Yuliarti, SpA(K) dan dr. Tiwi, SpA, MARS. Karena disana ada tanya jawab yang sebagian besar pertanyaannya mewakili pertanyaan saya pribadi.

Ternyata mpasi homemade itu simpel. Pada prinsipnya, pakai bahan makanan dan peralatan yang ada di rumah 💙

Kalau kata dr. Klara poin utama yang harus diperhatikan adalah melihat kesiapan anak, seperti:
🔹Kemampuan anak duduk bersandar
🔹Mampu mengendalikan kepala dengan baik
🔹Tertarik dan mulai meraih ke arah makanan jika ada anggota keluarga yang makan dihadapannya

Selanjutnya panduan WHO yakni AFATVAH dapat dijadikan standar dalam memulai MPASI.
🔹Age (Usia mulai makan) 
🔹Frequency (Frekuensi/waktu pemberian makan)
🔹Amount (Banyaknya pemberian makan)
🔹Thickness (Tekstur makanan)
Variety (Variasi makanan)
🔹Active-Responsive Feeding (Respon anak saat diberi makan)
🔹Hygiene (Kebersihan makanan, peralatan, proses pembuatan makan)

Setelah indikator diatas dipahami barulah menentukan makanan apa saja yang akan diberikan.

Kalau kata dr. Tiwi lakukan pengenalan 1 jenis makanan selama 2-3 hari untuk melihat resiko kecenderungan alergi, semakin bervariasi jenis makanan yang diberikan semakin baik. Perhatikan pula pemenuhan kebutuhan gizi anak karena ada zat-zat yang mulai dibutuhkan oleh anak usia 6 bulan keatas yang tidak ada dalam ASI.

Bisa dimulai dengan karbohidrat dan buah-buahan karena minim resiko alergi. Setelah itu formulasikan nutrisi yang diperlukan si kecil.

Selamat makan anak sholeh :)

View Post

Sudah kurang lebih 4 tahun saya berada disini dan baru kali ini merasa sangat deg-degan ketika menjadi panitia sebuah acara. Bukan karena peserta yang banyak atau amanah yang berat, melainkan tamu yang akan datang bukanlah tamu biasa. Istri seorang ulama ahli perbandingan agama, Dr. Zakir Naik, ulama yang telah meng-islam-kan ribuan orang di dunia.
View Post