10 August 2018

NHW #2 Indikator Profesionalisme Perempuan


Membuat checklist indikator profesionalisme perempuan membuat saya merevisi tulisan ini sampai beberapa kali. Baca lagi, edit lagi, baca lagi, edit lagi. Berkali-kali meminta pendapat suami. Walau suami sudah setuju dan merasa cukup, saya tetap takut, takut tidak bisa komitmen dengan apa yang saya buat. Lalu seketika tercerahkan saat diskusi NHW.


Peserta
:
“Apakah jika gagal sehari dihitung dari nol lagi Mba?”
Fasilitator
:
“Gagalnya karena apa ya? Kan sudah dibuat sesuai kunci SMART dong pastinya.

Begini begini, memang terkadang kita tergoda untuk memberikan kelonggaran dan pemakluman, itulah terkadang yang membuat kita belum bisa membentuk good habit ataupun deep habit, kita perlu hati-hati, sekali memberikan kelonggaran biasanya akan terus berlanjut.

Namun jika memang kendalanya penting dan mendesak, maka tidak ada kata lain selain terima dan ikhlaskan, setelah menerima, bisa memberikan konsekuensi diri dalam rangka membayar komitmen yang terlewat, yuuuk jangan berpikir gagal dulu, optimis!”



Jleb jleb jleb! Nah ini kebiasaan buruk saya, berpikir negatif dulu sama diri sendiri. Takut gak bisa, takut gak mampu, padahal belum dicoba. Melalui NHW ini mudah-mudahan melatih saya untuk lebih percaya diri pada kemampuan dan kapasitas diri, lalu selanjutnya tawakkal segala sesuatunya pada Allah.



Indikator yang dibuat harus detail, terukur, bisa diraih, berhubungan dengan kondisi sehari-hari, dan diberikan batas waktu.



1.    Indikator sebagai Individu

a.       Ibadah/Ruhiyah

-          Sholat dhuha setiap hari

-          Sholat tahajud minimal 2x per minggu

-          Tilawah minimal ½ juz per hari

-          Mendengarkan kajian via youtube/radio MQFM minimal 1x per minggu

b.      Pengembangan Diri

-          Menulis postingan blog minimal 1 tulisan per minggu (selain NHW)

-          Membaca buku minimal 1 lembar per hari

-          Belajar memasak menu-menu baru minimal 2x per bulan

c.       Jasmani

-          Olahraga jalan kaki selama 30 menit minimal 1x per minggu

-          Tidur maksimal jam 10 malam



2.    Indikator sebagai Istri

-          Merencanakan keuangan setiap awal bulan

-          Membuat catatan keuangan keluarga

-          Merencanakan menu makan 1 pekan kedepan setiap hari ahad

-          Menyiapkan segala keperluan suami sebelum berangkat kerja (pakaian, sarapan)

-          Tidak cemberut di depan suami



3.    Indikator sebagai Ibu

-          Tidak pegang gadget saat sedang beraktivitas dengan Rashid

-          Merencanakan MPASI Rashid 1 pekan kedepan setiap hari ahad

-          Memutar murotal setiap hari


-          Membaca do’a setiap akan melakukan aktivitas bersama (sebelum/sesudah makan dan tidur, keluar/masuk kamar mandi)

-          Tidak marah di depan anak

-          Rutin membawa Rashid ke fasilitas kesehatan untuk cek berat badan dan tumbuh kembangnya



Bismillaahirrahmaanirrahiim.

4 August 2018

NHW #1 Adab Menuntut Ilmu



Postingan tentang Institut Ibu Profesional beberapa kali seliweran di beranda instagram saya. Awalnya biasa saja, tapi lama-lama penasaran karena melihat antusiasme para kaum hawa yang sebegitu besar. Sampai-sampai harus rebutan kursi dan memantengi link pendaftaran, pokoknya udah kayak rebutan baju open pre order online shop. Berangkat dari rasa penasaran itu akhirnya saya mencari tahu dan menggali informasi dari teman-teman yang mengikutinya. Dari mulai buka web, follow instagram, sampai menelusuri hashtag #institutibuprofesional atau #iip atau #ibuprofesional. Pencarian saya pun berakhir dengan kalimat: “Fix! Batch selanjutnya harus ikut!”

Dan dengan izin Allah sampailah saya di Nice Homework ini.

Tugas pertama adalah menentukan satu jurusan ilmu yang akan saya tekuni di Universitas Kehidupan ini. Hemmm, cukup membuat saya bengong dan berpikir. Tugas pertamanya saja luar biasa begini, gimana dengan tugas-tugas selanjutnya ya? Ah, semakin penasaran untuk menuntaskan perkuliahan ini sampai akhir.

Jurusan yang pertama kali terlintas di benak saya adalah: menulis.

Kedengarannya gak istimewa sekali ya?

Dulu saya pernah menekuni bidang ini, bisa menghasilkan tulisan setiap hari, melahap banyak buku setiap minggu, waktu-waktu yang saya lalui terasa begitu produktif. Apapun yang saya dapatkan selalu saya ceritakan kembali dalam tulisan, baik itu ilmu, hikmah, atau pengalaman yang berkesan bagi saya. Namun, semangat menulis mulai memudar semenjak saya terkena Tuberkulosis Paru dan harus menjalani pengobatan selama 9 bulan lamanya. Penyakit TB adalah salah satu penyakit mematikan yang angka kematiannya cukup tinggi di Indonesia. Sembilan bulan saya lalui dengan cukup berat karena harus minum puluhan butir obat setiap minggunya, tidak boleh lepas dari masker kecuali saat mandi dan tidur, karena bakteri TB ini bisa menular melalui kontak langsung. Selama itu saya benar-benar vakum dari dunia kepenulisan. Singkat cerita, dengan izin Allah saya mampu melalui pengobatan hingga tuntas dan dinyatakan sembuh. Alhamdulillah, tak henti-hentinya saya mengucap syukur pada Allah.

Melalui matrikulasi ini saya ingin kembali produktif menulis. Kalau kata fasilitator saya agar fokus terhadap satu bidang kita harus memiliki strong why (alasan kuat). Kenapa menulis?

Pertama, menulis membantu saya menguatkan pemahaman, karena seringnya saya lupa hingga ilmu itu hilang begitu saja. Ali bin Abi Thalib radhiallahuanhu pernah berkata, “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya.”

Kedua, dengan menulis saya termotivasi untuk lebih banyak membaca. Suami juga suka banget baca, jadi kadang (seringnya sih) saya lemot ketika ngobrol suatu hal sama suami. Hehe. Selain itu, sebagian besar biografi orang-orang sukses yang pernah saya baca, mereka menjadikan membaca sebagai suatu kebiasaan. Ingin sekali menularkan kebiasaan baik ini kepada anak-anak saya kelak, maka orangtuanya dulu yang harus memulai. Iya, kan?

Ketiga, menulis membantu saya menyalurkan emosi, karena saya bukan tipe orang yang cukup baik ketika menyalurkan emosi secara langsung. Jadi, menulis merupakan media yang tepat untuk menyalurkan emosi bagi saya.

Keempat, saya ingin memiliki amal jariyah. Mudah-mudahan ada kebaikan dari apa yang saya tulis sehingga dapat memberikan manfaat untuk orang banyak, khususnya untuk anak-anak saya kelak. Saya termotivasi oleh ulama-ulama terdahulu yang mampu menulis ratusan bahkan ribuan kitab yang hingga saat ini karyanya sangat bermanfaat untuk umat.

Setelah memiliki alasan kuat dalam menulis, maka strategi menuntut ilmu yang harus saya upayakan adalah sebagai beriku

Pertama, disiplin dalam menulis minimal 1 minggu 1 tulisan di blog. Kedua, meningkatkan kemampuan membaca dengan cara menulis poin-poin penting dari apa yang sudah saya baca (quantum reading). Ketiga, aktif kembali di komunitas kepenulisan, karena sebelumnya saya sudah pernah bergabung, tapi satu tahun terakhir ini hanya menjadi silent reader. Keempat, mengikuti workshop kepenulisan atau acara bedah buku (jika ada kesempatan), karena biasanya semangat akan ter-charge kembali. Kelima, meminta bantuan suami untuk menjadi alarm atas strategi yang saya buat tersebut.

Berkaitan dengan adab menuntut ilmu, perubahan apa saja yang akan diperbaiki dalam proses mencari ilmu tersebut?

Berkaitan dengan perubahan sikap dalam proses menuntut ilmu, saya merasa banyak sekali yang harus diperbaiki. Jujur, materi pertama NHW membuat saya merenung. Poin-poin yang dipaparkan dalam materi Adab Menuntut Ilmu sangat mengusik hati saya.

Saya masih suka tidak sabar, pinginnya cepat paham. Masih suka merasa lebih tahu, padahal lebih banyak tidak tahunya. Masih suka menyepelekan kalau datang terlambat ke majelis ilmu. Masih suka menyimpan sumber ilmu (buku) sembarangan. Sikap-sikap tersebut ingin sekali saya perbaiki, bahkan dihilangkan samasekali.

Saya harus berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menghindari maksiat dan kesombongan sekecil apapun. Karena ilmu adalah cahaya. Dan cahaya tidak akan masuk pada hati yang sombong dan dipenuhi maksiat. Kemudian berusaha menghindari hal-hal yang sia-sia seperti: mendengarkan lagu menadayu-dayu nan galau; berbicara yang tidak perlu; dan berlama-lama online yang tidak menambah ilmu dan iman.

Mudah-mudahan Allah memberikan kemudahan dan keberkahan untuk setiap langkah kecil yang sedang saya upayakan. Do’akan, ya?

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
 

26 July 2018

Sharing MPASI Rashid

Baca panduan WHO, follow akun-akun MPASI, berselancar dari satu blog ke blog lain, nonton youtube, segala hal saya lakukan untuk memperoleh informasi tentang MPASI. Alhasil semakin banyak referensi saya malah semakin bingung hihi. Belum lagi peralatan MPASI dari mulai sendok sampe slowcooker yang menggoda mata serta dompet. Ada yang mengalami hal serupa?

Akhirnya saya dapat kesimpulan setelah nonton seminar MPASI yang disampaikan oleh dr. Klara Yuliarti, SpA(K) dan dr. Tiwi, SpA, MARS. Karena disana ada tanya jawab yang sebagian besar pertanyaannya mewakili pertanyaan saya pribadi.

Ternyata mpasi homemade itu simpel. Pada prinsipnya, pakai bahan makanan dan peralatan yang ada di rumah šŸ’™

Kalau kata dr. Klara poin utama yang harus diperhatikan adalah melihat kesiapan anak, seperti:
šŸ”¹Kemampuan anak duduk bersandar
šŸ”¹Mampu mengendalikan kepala dengan baik
šŸ”¹Tertarik dan mulai meraih ke arah makanan jika ada anggota keluarga yang makan dihadapannya

Selanjutnya panduan WHO yakni AFATVAH dapat dijadikan standar dalam memulai MPASI.
šŸ”¹Age (Usia mulai makan) 
šŸ”¹Frequency (Frekuensi/waktu pemberian makan)
šŸ”¹Amount (Banyaknya pemberian makan)
šŸ”¹Thickness (Tekstur makanan)
Variety (Variasi makanan)
šŸ”¹Active-Responsive Feeding (Respon anak saat diberi makan)
šŸ”¹Hygiene (Kebersihan makanan, peralatan, proses pembuatan makan)

Setelah indikator diatas dipahami barulah menentukan makanan apa saja yang akan diberikan.

Kalau kata dr. Tiwi lakukan pengenalan 1 jenis makanan selama 2-3 hari untuk melihat resiko kecenderungan alergi, semakin bervariasi jenis makanan yang diberikan semakin baik. Perhatikan pula pemenuhan kebutuhan gizi anak karena ada zat-zat yang mulai dibutuhkan oleh anak usia 6 bulan keatas yang tidak ada dalam ASI.

Bisa dimulai dengan karbohidrat dan buah-buahan karena minim resiko alergi. Setelah itu formulasikan nutrisi yang diperlukan si kecil.

Selamat makan anak sholeh :)

5 April 2017

Dibalik Layar Kajian Muslimah Bersama Ustadzah Farhat Naik


Sudah kurang lebih 4 tahun saya berada disini dan baru kali ini merasa sangat deg-degan ketika menjadi panitia sebuah acara. Bukan karena peserta yang banyak atau amanah yang berat, melainkan tamu yang akan datang bukanlah tamu biasa. Istri seorang ulama ahli perbandingan agama, Dr. Zakir Naik, ulama yang telah meng-islam-kan ribuan orang di dunia.

26 March 2017